Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Selamat


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Fanie, Meymey tersipu malu. Pipinya memerah bak kepiting rebus.


"Sudah, Ka Fanie. Aku memutuskan menerima Reynold." Jawabnya tersipu malu.


"Aku ikut senang, melihat kabar bahagia ini. Semoga kelak rumah tangga kalian langgeng selamanya. Dan hanya maut yang memisahkan kalian berdua." Fanie merengkuh Meymey dalam pelukannya seraya mengusap-usap punggung Meymey.


"Terima kasih ya, ka. Coba dari dulu aku menghargai dan menghormati, Ka Fanie. Mungkin dari dulu hidupku bahagia, tidak mengalami banyak pencobaan." Tiba-tiba bulir bening keluar dari mata Meymey.


Sejenak terbayang di pelupuk mata, semua kelakuan buruknya pada Stephanie di masa lalu.


"Mey, sudah berapa kali aku bilang. Janganlah menengok ke belakang tapi tataplah ke depan dimana akan ada lebih banyak lagi pencobaan hidup."


"Selama kita masih hidup, akan selalu ada permasalahan. Semua tergantung dari cara kita menyikapinya."


"Aku sama sekali tak pernah mengingat perbuatanmu dulu padaku. Semua aku anggap sebagai cambuk untuk aku kedepannya bisa lebih baik lagi."


Demikian panjang lebar Fanie menasehati Meymey. Membuat air mata Meymey semakin tertumpah dan tangisnya malah terisak.


"Hey, berhentilah menangis. Apa kamu nggak malu sama kedua ponakanmu, lihatlah mereka menatapmu heran." Canda Fanie terkekeh.


Memang benar, tangis Meymey mengundang perhatian si kembar. Keduanya berkali-kali saling pandang, seolah satu sama lain bertanya ada apa dengan Aunty Meymey.


Tatapan si kembar yang merasa heran pada Meymey, membuatnya malu dan lekas mengusap air matanya. Kini Meymey tak menangis lagi, tapi malah terkekeh melihat ulah si kembar.


Berbeda situasi di rumah Alex, yang sedang emosi. Dia telah mendapat kabar dari anak buahnya tentang kedekatan Meymey dan Reynold.


"Aku nggak terima, Mey. Jika kamu berbahagia di atas penderitaanku. Aku tidak bisa memilikimu kembali, begitu pula pria manapun tak boleh memilikimu. Aku akan menyingkirkan pria-pria yang mendekatimu!" Alex emosi seraya menghancurkan benda-benda yang ada di sekitarnya.


"Lihat saja, Mey. Aku akan membuatmu menangis setiap harinya karena kehilangan kekasih yang kamu cintai!" Alex mendengus kesal.


Di hati Alex telah tersimpan beribu niat jahat untuk mencelakai Reynold. Karena dia nggak rela Meymey berbahagia dengan Reynold.


Alex juga telah mengetahui dimana saat ini Meymey dan Reynold berada. Alex memerintah pada anak buahnya, untuk segera menyingkirkan Reynold


📱"Kamu hadang mobilnya di tempat yang kira-kira jauh dari kerumunan atau lalu lalang kendaraan. Intinya di tempat yang sepi. Dan pastikan kamu dan yang lain hanya melukai si pria, jangan kalian lukai yang wanita. Karena aku ngggak mau, dia tergores sedikitpun. Ingat pesanku baik-baik!"


📱"Baik, bos. Kami akan segera laksanakan perintah, dan kami takkan melukai kekasih bos seujung kukupun."

__ADS_1


Demikian percakapan antara Alex dan anak buahnya di dalam panggilan telpon. Alex memerintah beberapa anak buahnya untuk menyingkirkan Reynold.


*********


Waktu berjalan begitu cepat, dimana saat ini Meymey dan Reynold dalam perjalanan menuju ke apartement Meymey.


Namun perjalanan terhambat, karena tiba-tiba di tengah jalan ada segerombolan preman menghadang laju mobil Reynold.


Mereke menggedor-gedor pintu mobil, namun Reynold tak menghiraukannya. Bahkan dia terus saja melajukan mobilnya dengan cepat.


Gerombolan pria bermotor emosi dan mengejar laju mobil Reynold yang terbilang cukup cepat.


"Rey, bagaimana ini. Mereka terus saja mengejar kita?" Meymey gelisah dan panik.


"Tenanglah, Mey. Kamu nggak usah panik, tapi berdoalah. Ini ponselku, tolong kamu telpon Om Wirya supaya lekas mengirim beberapa anak buahku kemari." Reynold menunjuk ponsel yang ada di kantong bajunya dengan kode lirikan matanya.


Karena Reynold sedang fokus mengemudi.


Meymey segera menelpon Om Wirya. Dengan tangan gemetaran memencet nomor ponsel Om Wirya.


Meymey sejenak mengalihkan panggilan ke vidio, dan menunjukkan jika saat ini sedang di kejar oleh segerombolan pengendara bermotor.


📱"Baiklah, cepat share lok. Biar om kirim anak buah yang posisinya dekat dengan kalian."


Meymey dengan tangan gemetaran segera mengirim share lok lewat notifikasi chat pesan.


Sementara saat ini para gerombolan bermotor ada yang melempar kaca jendela dan kaca spion mobil milik Reynold sampai pecah.


Meymey sampai memekik karena ketakutan.


Setelah menunggu 10 menit, datanglah para anak buah Reynold. Mereka datang dalam jumlah lebih banyak, menghajar para pengendara motor yang telah membuat ulah.


Kini Meymey bisa bernafas lega, dan Reynold terus saja melajukan mobilnya.


"Rey, bagaimana dengan para anak buahmu?" Meymey merasa heran karena Reynold meninggalkan begitu saja para anak buahnya yang sedang melawan anak buah Alex.


"Kamu nggak perlu khawatir, mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu. Mereka tidak akan cedera, apa lagi mereka dalam jumlah yang banyak." Kata Reynold singkat.

__ADS_1


Dia langsung mengantarkan Meymey terlebih dulu, setelah itu membawa mobilnya ke bengkel langganan. Dan dirinya pulang di jemput oleh salah satu anak buahnya yang membawa mobil milik Reynold yang lain.


"Siapa mereka, ya? selama ini musuhku hanya Tante Sasa dan Mas Doni. Nggak mungkin mereka adalah orang kepercayaab Tante Sasa." Batin Reynold.


Sementara saat ini Meymey telah sampai di rumah dengan wajah murung dan jantungnya berdegup kencang.


Meymey masih saja terbayang peristiwa mengerikan tadi. Dia menjatuhkan pantatnya di kursi teras.


"Mey, kamu sudah pulang? kenapa wajahmu terlihat tegang dan panik? ada apakah?" tanya Papi Endrik lekas duduk di samping Meymey.


Begitu pula Mami Cindy yang baru datang, ikut pula duduk di teras halaman.


Meymey menceritakan apa yang barusan terjadi dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Mey? nggak ada yang luka, dan Rey juga nggak apa-apa?" tanya Mami Cindy panik.


"Kami nggak luka sama sekali, hanya kaca depan dan kaca pintu mobil yang pecah oleh ulah mereka." Jawab Meymey sekenanya.


"Syukurlah kalau begitu, apakah kiranya Rey punya musuh?" tanya Papi Endrik.


"Mey, kurang tahu untuk soal itu." Jawabnya singkat.


"Mey, minumlah dulu. Biar pikiranmu sedikit tenang." Mami Cindy memberikan segelas air putih pada Meymey.


"Terima kasih, mi." Meymey menerimanya dan langsung meneguknya hingga habis.


"Besok kamu tanyakan pada Rey, apakah dia punya musuh selain mami tiri dan kakak tirinya." Saran Papi Endrik.


"Baiklah, pi." Jawabnya singkat.


"Sebaiknya sekarang kamu istirahat, tenangkan hati dan pikiranmu." Saran Mami Cindy.


Meymey bangkit dari duduknya dan melangkah masuk menuju kamarnya. Dia segera membaringkan tubuhnya di pembaringan. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Hingga tak sadar dirinya tertidur pulas.


************


like, vote, favorit..

__ADS_1


__ADS_2