
Setelah mendapat persetujuan dari suaminya, Bu Nilam langsung menelpon Fanie yang kebetulan sudah berada di rumah.
📱"Hallo, Nona Fanie. Saya, Bu Nilam."
📱"Ya, bagaimana? apakah ibu sudah mendapat suatu mendapatkan suatu keputusan?"
📱"Sudah, Non. Kebetulan tadi suami saya pulang lebih awal hingga saya bisa bercerita padanya. Kami setuju dengan penawaran, Nona Fanie."
📱" Baiklah, terima kasih karena ibu bersedia membantu saya untuk bisa membebaskan mami."
📱"Sama-sama, non. Tapi suami saya bertanya mengenai jatah bulanan yang Nona Fanie tawarkan juga."
📱" Setiap bulan saya akan mengirim uang ke rekening Bu Nilam sebanyak empat juta rupiah."
📱"Maaf, Non. Kata suami saya, apa nggak bisa di genapi menjadi lima juta rupiah?"
📱"Hem, baiklah. Saya akan turuti sesuai kemauan suami ibu, yakni saya akan memberi uang lima juta rupiah, tapi juga ada masanya."
📱"Maksudnya bagaimana ya, Non?"
📱"Saya akan memberi jatah bulanan pada Bu Nilam hanya jangka waktu satu tahun saja."
📱"Oh begitu ya, non. Saya pikir selamanya, ya sudah saya bertanya dulu pada suami saya."
Sejenak obrolan di telpon berhenti, karena Bu Nilam sedang berdiskusi dengan suaminya. Setelah mendapat suatu keputusan, Bu Nilam melanjutkan kembali menelpon Fanie.
📱"Non Fanie, maaf sebelumnya. Suami saya menawar lagi. Katanya jatah bulanannya di tambah satu tahun lagi, jangan dua tahun."
📱"Oh begitu ya, saya tanya suami saya dulu ya "
Kini ganti Fanie yang meminta pendapat pada Steven.
"Hunny, Bu Nilam meminta jatah bulanan di tambah jangka waktu dua tahun. Padahal nominal uangnya sudah aku tambah sesuai permintaanya." Fanie menghela napas panjang.
"Memangnya awal kamu menjanjikan berapa pada Bu Nilam?" tanya Steven penasaran.
__ADS_1
"Aku menjanjikan per bulan aku transfer empat juta rupiah dalam jangka waktu satu tahun. Tapi Bu Nilam menawar perbulannya 5 juta dan jangka waktunya dia minta dua tahun." Jawab Fanie seraya tertunduk lesu.
"Ya sudah, penuhi saja apa yang Bu Nilam mau. Tapi jika udah sama-sama setuju, buatlah perjanjian di atas kertas, supaya Bu Nilam nggak berbuat hal yang buruk. Misal jangka waktu dua tahun telah selesai, nanti dia minta uang lagi." Steven memberikan saran.
"Baiklah, hunnya. Terima kasih atas pengertianmu." Fanie mengecup bibir Steven.
"Hem, tanggung jawab loh.." Steven mengedipkan matanya.
"Ist, apaan sih. Aku mau lanjut telpon Bu Nilam dulu." Fanie berlari ke ruang tengah.
Kemudian melanjutkan obrolannya dengan Bu Nilam.
📱"Bu, maaf menunggu lama. Kami setuju dengan penawaran yang ibu inginkan."
📱"Jadi, Non Fanie. Akan memberi kami jatah lima juta rupiah perbulan dalam jangka waktu dua tahun?"
📱"Iya, ibu."
Setelah mendapatkan kesepakatan, esok harinya Fanie kembali ke rumah Bu Nilam dengan membawa pengacaranya untuk membuatkan perjanjian di atas kertas.
"Bu, kita sudah sepakat dengan perjanjian ini. Saat ini juga saya akan mengajak ibu dan bapak ke apartement yang telah saya janjikan untuk kalian. Saya memilih apartement yang tidak jauh dari rumah kalian. Karena kebetulan saya juga memiliki apartement di wilayah sini." Kata Fanie panjang lebar.
"Ini uang lima juta yang saya janjikan, berarti bulan ini saya sudah memberikannya. Dan tolong ibu atau bapak tanda tangan di sini. Ini bukti saya bulan ini telah memberikan uangnya." Fanie menyerahkan amplop yang berisi uang lima juta serta bukti kwitansi untuk di tanda tangani Bu Nilam.
"Mari kita ke lokasi apartement." Fanie beranjak bangkit.
Begitu pula Bu Nilam dan suaminya, serta Steven dan pengacara pribadi mereka. Segera mereka masuk dalam mobil dan melajukannya tak begitu jauh dari rumah Bu Nilam.
Mereka berhenti di sebuah apartement yang tidak terlalu besar.
"Ibu, bapak, ini apartement yang kami janjikan untuk kami berikan cuma-cuma pada kalian." Fanie menunjukkan apartement tersebut.
"Ini kunci dan surat-suratnya, belum sempat kami balik nama. Bisa kalian pegang, tapi tolong jangan ingkar dengan janji kalian. Karena semua ada sanksinya, semua telah di perjelas dalam surat perjanjian yang telah bapak dan ibu tanda tangani," Kata Fanie kembali.
"Kami juga meminta, ini rahasia antara kita berdua. Satu hal lagi, jika kelak saat kita menghadap ke aparat polisi atau dokter yang menangani persalinan, tolong jika di tanya apa motif kalian ingin membebaskan mami saya? tolong kalian jawab saja, karena menurut kalian masa hukuman buat mami saya sudah lebih dari cukup. Dan kalian telah memaafkan mami saya serta melupakan kejadian tempo dulu." Ucap Fanie panjang lebar.
__ADS_1
"Jika kalian berkata jujur tentang pemberian apartement serta uang perbulan dari saya, kita akan sama-sama terkena masalah." Fanie mencoba mengingatkan pada Bu Nilam dan suaminya.
"Baik, Non Fanie. Kami telah paham, kami juga nggak ingin ambil resiko dengam berkata yang sebenarnya." Kata Bu Nilam meyakinkan Fanie.
Setelah perjanjian dan obrolan berlangsung begitu lama, mereka melanjutkan perjalanan yakni ke rumah sakit untuk bertemu Dokter Raka dan Dokter Faris.
Sementara sang pengacara telah kembali ke kantornya.
Tak berapa lama, sampailah mereka di rumah sakit bersalin untuk menemui Dokter Raka dan Dokter Faris.
"Dok, maaf kami mengganggu. Saya selaku anak dari Ibu Cindy, meminta dengan sangat pada dokter untuk segera mencabut tuntutan pada mami saya yakni Ibu Cindy."
"Saya yang akan memberi jaminan untuk mami saya. Saya mohon atas kebijaksanaanya."
"Saya kira masa hukuman dua tahun yang telah di rasakan oleh mami saya, cukup untuk menebus kesalahannya," Fanie mencoba membujuk Dokter Faris dan Dokter Raka.
"Iya, dok. Lagi pula saya sudah memaafkan kesalahan Ibu Cindy. Saya bisa memahami apa yang dilakukan oleh Ibu Cindy."
"Jika saya jadi dirinya, saya juga akan melakukan kesalahan yang sama. Lagi pula Ibu Cindy sama sekali tidak melukai anak saya."
"Saya mohon berilah kesempatan pada Ibu Cindy untuk hidup bebas. Menurut saya, masa hukuman dua tahun sudah cukup untuk menebus kesalahan Ibu Cindy."
Demikian panjang lebar Bu Nilam mencoba membujuk Dokter Raka dan Dokter Faris yang dulu telah melaporkan Cindy ke kantor polisi.
Sejenak Dokter Raka dan Dokter Faris saling berpandangan, seolah keduanya saling meminta saran yang tepat.
"Dok, bagaimana menurut anda?" tanya Dokter Faris.
"Saya terserah anda saja, dok. Apapun keputusan yang anda pilih, saya akan menyetujuinya." Jawab Dokter Raka.
"Aduh, kalau seperti ini sama saja saya yang memutuskan bukan kita berdua, melainkan saya saja. Katakan saja di hati dokter bagaimana?" tanya Dokter Faris seraya menatap tajam pada Dokter Raka.
"Kalau menurut saya sih emang masa tahanan dua tahun sudah cukup untuk menebus kesalahan Ibu Cindy. Lagi pula kondisi bayinya sehat." Kata Dokter Raka.
*******
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favorit..