
"Memangnya kenapa kalau kita jalani hubungan seperti ini? lagian jika kita menikah, istriku pasti akan menggugat cerai aku. Sementara semua kekayaan yang aku dapat punya istriku semua," Kata selingkuhan Cindy.
"Jadi selamanya kita jalin hubungan seperti ini?" Mami Cindy merasa jengah.
"Iyalah, bukannya yang penting semua kebutuhanmu bisa tercukupi. Daripada dengan Endrik, kamu hidup susah kan?" Jawab selingkuhan Cindy.
"Hem, ya sudahlah mau bagaimana lagi." Mami Cindy pasrah tak bisa memaksakan kehendaknya.
Untuk sekarang ini yang dia pikirkan hanya bisa mendapatkan apa yang di inginkannya, karena dia tak bisa hidup susah. Sudah terbiasa dia dengan kemewahan dan kekayaan.
"Sayang, ini jatah untukmu. Terima kasih atas servisanmu, aku permisi pulang karena ada janji dengan istriku akan ke pertemuan penting." Selingkuhan Cindy memberikan amplop coklat berisikan uang yang banyak.
"Baiklah, terima kasih. Selamat bersenang-senang dengan istrimu," Mami Cindy meraih amplop tersebut dan menyimpannya di tas dengan wajah murung.
"Nggak usah cemberut seperti itu, sebenarnya aku sangat sayang padamu. Tapi jika aku memutuskan memilihmu, aku akan menjadi miskin. Apa kamu mau hidup dengan lelaki miskin, pastinya nggak mau kan?" Selingkuhan Cindy mencium bibirnya.
"Hem, iya nggak apa-apa. Aku bisa memahami koh," Mami Cindy mencoba tersenyum.
Mami Cindy lekas mengenakan pakaiannya dan meninggalkan kamar hotel tersebut dengan memakai penyamaran supaya tidak ada yang mengetahui identitas aslinya.
Begitu pula dengan si kembar juga telah memilih jalan yang salah, mengikuti jejak Mami Cindy.
Jika Meymey mendapatkan harta benda dari para pacar tuanya, berbeda dengan Meylan mendapatkan uang banyak dengan menjadi bandar narkoba.
Makanya Meylan berteman dengan banyak lelaki yang ternyata adalah konsumennya.
Selagi semua tak ada di rumah, barulah Papi Endrik terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya lapar.
"Kok sepi sekali, ya ampun sudah siang. Padahal aku ada rencana bertemu teman yang menawarkan suatu kerja sama yang sangat menguntungkan." Papi Endrik bangkit dari pembaringan segera melangkah ke ruang makan.
"Hem, Cindy masak apa?" Papi Endrik membuka tudung saji, namun tidak ada makanan apa pun.
__ADS_1
"Loh, kok kosong nggak ada makanan apa pun. Padahal perutku sudah lapar sekali." Papi Endrik garuk kepala yang tak gatal seraya sesekali mengusap perutnya yang lapar.
"Terpaksa dech, masak mie instan kembali." Papi Endrik melangkah ke dapur untuk memasak mie instan.
Selagi memasak mie instan, pulanglah Mami Cindy dengan membawa berbagai makanan enak.
"Pi, kamu sedang apa di dapur?" Mami Cindy menepuk bahu Papi Endrik.
"Kamu darimana saja, aku lapar nggak ada makanan sama sekali. Lain kali kalau mau pergi, masak dulu." Papi Endrik manyun.
"Biasalah ngumpul sama teman, untuk cati info pekerjaan." Jawab Mami Cindy berbohong.
"Memang ada kerja untuk wanita seusiamu, paling yang ada kerja buruh cuci seterika." Ejek Papi Endrik terkekeh.
"Jangan menghina dulu, aku itu kerja jual berlian yang untungnya sangat besar. Nggak sepertimu pengangguran." Mami Cindy berlalu begitu saja meninggalkan Papi Endrik.
Mami Cindy melangkah ke ruang makan, dan menata semua makanan tersebut di meja. Dirinya segera makan dengan lahapnya tanpa mengajak serta Papi Endrik.
"Hem, mentang-mentang sudah bisa cari duit sendiri. Lupa sama suami, makan pun nggak ngajak." Papi Endrik menjatuhkan pantatnya di kursi seraya melahap mie instannya.
Tak berapa lama kemudian, Mami Cindy menyudahi makannya tanpa memperdulikan Papi Endrik.
"Heran, sejak aku bangkrut istriku nggak ada mesranya sama sekali. Selalu saja ketus padaku, bahkan sudah tak pernah melayani segala kebutuhanku," gerutunya seraya membanting sendok dan garpu ke piring.
"Apa iya, Cindy sekarang bisnis berlian?" batin Papi Endrik.
"Lain waktu aku akan bertanya pada semua teman arisannya," batinnya kembali.
Sementara saat ini Mami Cindy sedang tersenyum bahagia melihat rekening tabungannya yang memiliki saldo cukup banyak.
"Hem, lumayan banyak saldonya. Walaupun suamiku bangkrut, setidaknya aku masih bisa punya tabungan bahkan semua kebutuhanku tercukupi tanpa mengurangi sedikit pun saldo tabunganku. Aku harus menyimpan buku rekening ini baik-baik, jangan sampai suamiku tahu akan hal ini. Bisa-bisa di minta olehnya dengan alasan untuk modal usaha." Mami Cindy lekas menyimpan buku tabungannya di tempat yang tersembunyi supaya tidak di ketahui oleh suaminya.
__ADS_1
Setelah itu Mami Cindy merebahkan badannya dan terlelap tidur.
"Ya ampun, aku kira kemana? malah tidur lagi," gerutu Papi Endrik.
Dirinya lekas mandi dan akan menemui temannya untuk membicarakan masalah kerja sama.
Setelah itu Papi Endrik langsung pergi dan tak lupa membawa uang pemberian Fanie yang terakhir kalinya. Papi Endrik bertemu dengan temannya di sebuah cafe ternama.
"Hay bro, maaf ya menunggu lama. Karena aku ketiduran nggak ada yang bangunin." Papi Endrik menyalami temannya.
"Ya nggak apa-apa bro, nyante saja." Temannya membalas jabatan tangan dari Papi Endrik.
"Bagaimana, bro. Tentang penawaranku waktu itu, mumpung masih buka pendaftaran. Karena peminatnya sangat banyak, ini aku bawa brosur dan data orang-orang yang telah sukses ikut investasi denganku." Temannya menyodorkan brosur dan data tersebut.
"Ini kamu serius kan, bro? bukan seperti yang di televisi itu, investasi bodong dan nggak jelas?" Papi Endrik sejenak melihat dengan seksama brosur serta data yang di berikan temannya tersebut.
"Masa nggak percaya sama aku, bro. Kita berteman bukan setahun atau dua tahun, tapi sejak kita sama-sama duduk di bangku SLTA. Masa kamu masih meragukan aku, ya kalau kamu masih nggak yakin. Sebaiknya nggak usah, bro. Aku juga nggak akan memaksamu ikut investasiku ini," kata temannya.
"Dilihat dari brosur sangat menggiurkan, data orang yang sukses juga nggak sedikit. Apa aku coba saja ya, lumayan kan hasilnya." Batin Papi Endrik sambil terus mengamati brosurnya.
"Bro, misalkan aku investasi seratus juta. Berapa yang akan aku dapatkan kelak?" Papi Endrik mulai terpancing dan goyah ingin bergabung dalam investasi.
"Jika kamu investasi seratus juta, dalam jangka satu bulan kamu bisa mendapatkan dua ratus juta hanya dengan menunggu duduk diam di rumah. Nggak perlu cape-cape." Jawab temannya.
"Ini serius, jangka satu bulan uangku menjadi berlipat?" Papi Endrik masih merasa ragu.
"Iya, serius." Jawab temannya singkat.
"Hem, kalau begitu aku gabung investasikan uangku senilai seratus juta." Papi Endrik mengambil amplop berisikan uang seratus juta dan menyerahkannya pada temannya tanpa ada rasa curiga sedikit pun.
"Baiklah, aku terima uangmu ini. Sebentar aku berikan tanda bukti kerja sama kita. Setelah satu bulan aku akan datang kembali membawa kabar baik untukmu." Temannya menulis di sebuah cek dan juga menyerahkan surat tanda kerja sama.
__ADS_1
π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬π€
Mohon maaf jika typo dan puebi masih suka berantakanπππππ