Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Bantuan Reynold


__ADS_3

Meymey bingung harus bagaimana cara membantu Endrik.


"Jalan satu-satunya aku meminta bantuan pada Ka Fanie." Meymey masuk kembali ke dalam mobil.


Namun saat Meymey akan melajukannya, dia mengurungkannya. Karena melihat kedatangan mobil Reynold.


Meymey keluar kembali dari mobilnya, dan menghampiri Reynold.


"Mey, sepagi ini kamu mau kemana?" Reynold mengernyitkan alis.


"Aku mau ke rumah, Ka Fanie." Jawab Meymey singkat.


Raut wajah Meymey terlihat sangat murung dan tidak ada senyum merona di bibir. Membuat Reynold penasaran.


"Mey, sebenarnya ada masalah apa? wajahmu terlihat sedih dan sepertinya bingung?" tanya Reynold mengusap surai hitam Meymey.


"Kantor dan gudang, papi. Terbakar habis tak bersisa sama sekali. Barusan aku akan ke rumah Ka Fanie untuk meminta bantuan." Jawab Meymey seraya mengerucutkan bibirnya.


"Ya Tuhan, kapan hal itu terjadi?" tanya Reynold kembali.

__ADS_1


"Jam dua dini hari ada yang menelpon memberi kabar pada kami." Jawabnya singkat.


"Mey, kita duduk dulu yuk?" ajak Reynold menuntun Meymey melangkah menuju ke kursi di teras halaman.


"Mey, apa mungkin orang yang membakar kantor adalah orang yang sama dengan yang akan mencelakai kita waktu itu?" tanya Reynold menyelidik.


"Entahlah, Rey. Setahuku kita nggak punya musuh, tapi kok terjadi hal seperti ini." Meymey menghela napas panjang.


"Aku juga nggak punya musuh, setahuku musuhku cuma Tante Sasa dan Mas Doni. Mereka kan saat ini sedang berada di dalam penjara." Kata Reynold meyakinkan Meymey.


"Mey, sudahlah kamu nggak usah bersedih. Aku yang akan membantu papimu, jadi kamu nggak perlu pergi ke rumah Ka Fanie." Reynold mencoba menghibur Meymey.


"Tapi memakan biaya yang cukup banyak, bagaimana kelak aku akan membayarnya?" Meymey tertunduk lesu.


"Bukannya aku sombong, tapi supaya kamu nggak meragukanku kembali." Reynold terkekeh


"Sekarang kamu panggil papi kemari." Perintah Reynold pada Meymey.


"Tapi, Rey.."

__ADS_1


"Hust, nggak ada kata tapi, adanya kata iya ok. Cepetan kamu segera panggil papi kemari. Karena aku akan bicara langsung pada papimu tentang hal ini." Perintah Reynold pada Meymey.


Akhirnya Meymey menuruti kemauan Reynold, dia langsung masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Endrik.


"Pi-papi, tok tok tok." Meymey mengetuk pintu kamar Endrik.


"Ada apa, Mey." Endrik membuka pintu kamarnya.


"Rey, pengen ketemu. Dia menunggu di teras halaman." Kata Meymey.


"Aduh, Mey. Bilang saja papi sedang sakit kepala. " Endrik membalikkan badan akan masuk ke kamar kembali.


"Pi, tunggu. Rey ingin bertemu, papi. Dia ingin membantu menyelesaikan permasalahan, papi. Dia sudah tahu semua tentang kebakaran kantor, Mey yang barusan cerita. Tolong jangan meremehkan niat baiknya, pi." Bujuk Mey memelas.


Akhirnya Endrik melangkah mengikuti langkah kaki Mey ke teras depan dimana saat ini Reynold sedang menunggu.


"Rey, sudah lama ya?" Endrik tersenyum seraya menyalami Reynold.


"Belum kok, om. Baru beberapa detik yang lalu." Jawab Reynold singkat.

__ADS_1


Endrik menjatuhkan pantatnya di sofa. Barulah Reynold berani berkata setelah melihat Endrik dengan posisi nyamannya.


"Om, aku sudah dengar semua dari Mey. Aku ingin membantu, om. Jadi om nggak perlu sedih atau bingung lagi." Reynold meyakinkan Endrik.


__ADS_2