
Begitu pula yang saat ini sedang di rasakan oleh grandma dan grandpa. Mereka saling berkeluh kesah di dalam kamarnya.
"Dad, mommy nggak mengira jika Endrik bakal bersikap kasar pada kita." Kembali lagi grandma menitikkan air mata.
"Daddy juga sempat kaget, mom. Padahal dulu sebelum menikah, anak kita nggak sekasar tadi. Tapi kenapa setelah menikah dan sampai sekarang, perangai Endrik malah semakin buruk." Grandpa geleng-geleng kepala.
"Kasihan Fanie, apakah dia selamanya akan terus memakai identitas palsunya?" kembali lagi grandma menitikkan air mata.
"Entahlah, mom. Kita tidak tahu ke depannya hidup seseorang seperti apa. Seperti halnya kehidupan Endrik, dari lajang sopan sekarang malah kurang ajar pada kita," grandpa memijit pelipisnya.
"Mom, jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita memikirkan cucu kita, Fanie. Dia yang harus kita perhatikan. Karena dia tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, makanya kita yang memberinya kasih sayang kita." Saran grandpa.
Hidup Fanie memang sangat malang, di saat dirinya akan jujur tentang identitas aslinya, belum juga mengutarakan sudah di usir oleh Endrik.
Dari segi materi memang sekarang Fanie punya segalanya, namun dari segi kasih sayang, dia terkadang merindukan kasih sayang dari orang tua kandungnya.
"Ya, Tuhan. Aku ikhlas jika memang selamanya aku harus menggunakan identitas palsu. Mungkin ini sudah jalan hidupku. Walaupun tidak aku pungkiri, jika terkadang aku sangat memimpikan kasih sayang dari mami dan papi," tiba-tiba Fanie menangis seraya mengusap foto orang tua dan kedua adiknya.
Selagi Fanie bersedih, ponselnya berdering yang ternyata telfon dari Steven.
📱" Sayang, sedang apakah dirimu?"
📱" Sedang menerima telpon darimu, Steve."
📱" Hem, pintar juga jawabnya . Aku ingin tanya padamu, apakah kamu sudah memiliki jawaban untuk pertanyaanku waktu itu?"
📱" Sudah, Steve. Aku bersedia menikah denganmu kapanpun kamu mau."
📱" Serius, kamu nggak mengulur waktu lagi seperti biasanya kan?"
📱" Tidak, aku sudah siap menjadi Nyonya Steve. Tapi aku sedang sedih."
📱" Loh, kita akan menikah tapi kok kamu malah sedih?"
__ADS_1
Fanie pun segera menceritakan semua yang terjadi baru saja ,saat dia ingin membuka jati dirinya pada orang tuanya. Dengan tujuan,dia ingin meminta restu pada orang tuanya dan mengharapkan orang tuanya bersedia hadir di acara pernikahannya kelak.
Setelah mendengar semua cerita dari Fanie, Steve juga merasa iba. Namun dia mencoba menghibur Fanie.
📱" Sayang, kamu nggak perlu sedih. Kamu bisa menganggap orang tuaku seperti orang tuamu sendiri. Mereka juga selama ini tidak menganggapmu calon menantu, melainkan calon anak. Jadi kamu tak perlu bersedih, yang terpenting kamu sudah melakukan hal yang benar."
📱" Iya, Steve. Terima kasih untuk semuanya."
📱" Ya sudah, besok aku akan datang ke rumahmu bersama orang tuaku. Jangan sedih lagi dan senyumlah untuk menggapai bahagiamu bersamaku."
Setelah itu keduanya sama-sama mematikan telfonnya. Sejenak Fanie berdoa dan kemudian tertidur.
Di esok pagi yang cerah, Fanie telah memasak berbagai menu masakan untuk menyambut kedatangan calon suami dan calon mertuanya.
Tak berapa lama datanglah Steven dan kedua orang tuanya. Mereka membahas pernikahan Fanie dan Steven.
Orang tua Steven akan membuat pesta besar-besaran karena ingin mengundang semua rekan bisnis dan kerabat serta teman- teman yang sangat banyak.
Walaupun sebenarnya Fanie kurang setuju, karena dia tidak begitu menyukai kemewahan dan keramaian.
Apa lagi selama ini kedua calon mertuanya sangat baik padanya. Sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.
*****
Tak terasa sebulan berlalu, hari ini hari yang telah di tunggu oleh Fanie dan Steven. Yakni hari pernikahan mereka berdua.
Sepasang sejoli ini di rias sedemikian rupa, hingga mereka menyerupai pangeran dan putri bak di negeri dongeng.
Paras Steven yang sangat tampan sangat memukau membuat para wanita merasa patah hati. Begitu pula paras cantik Fanie membuat para kaum adam terpesona namun juga patah hati.
Baik para adam dan hawa, berpikiran dan berandai jika Steven atau Fanie adalah jodoh mereka. Pasti mereka akan merasakan kebahagiaan.
"Coba aku yang jadi pengantin wanitanya, pasti aku akan sangat bahagia sebahagia Fanie," salah satu tamu undangan wanita berucap.
__ADS_1
"Betapa bahagianya Steven bersanding dengan Fanie, coba aku yang di posisi Steven, wah bahagia sekali. Fanie akan aku peluk setiap hati dan tak aku ijinkan kelusr rumah, karena khawatir ada yang naksir padanya," celoteh salah satu teman Steven.
Grandma dan grandpa juga merasakan bahagia karena cucu kesayangannya akhirnya menikah dengan lelaki yang sangat baik dan penyayang.
"Puji Tuhan, akhirnya cucu kita menikah juga dengan pria tampan dan baik hati." Grandma menyunggingkan senyum.
"Iya, mom. Daddy juga ikut merasakan kebahagiaan ini, Fanie bertemu dengan orang-orang baik," kata grandpa sumringah.
Berbeda dengan keluarga Endrik yang tak sengaja melihat live di salah satu acara televisi pernikahan Fanie dan Steven.
"Sialan, beruntung sekali Fanie menikah Steve. Tidak sepertiku menikah dengan pria itu, jadi istri siri pula." Meymey mendengus kesal dan langsung mematikan televisinya.
"Sayang, kenapa kamu matikan? aku sedang melihat live pernikahan anak dari rekan bisnisku, karena aku tak sempat datang." Alex menyalakan kembali televisinya.
Membuat Meymey semakin emosi, dan dia beranjak bangkit pergi menuju ke kamarnya.
Alex tak menghiraukan kekesalan Meymey, dia malah asik melanjutkan melihat live pernikahan anak rekan bisnisnya.
Meylan juga melihat acara live tersebut di dalam sel nya.
"Bukankah itu Fanie, ternyata mereka menikah juga. Beruntung sekali gadis yang tak punya asal usul itu menikah dengan anak pengusaha kaya raya," batin Meylan kesal.
Endrik juga merasa kesal, saat di kantor semua mengelu- elukan pernikahan Steven dan Fanie yang di adakan sangat spektakuler dan luar biasa glamour.
"Ngapain juga mereka pamer nikah pake di live di televisi, sok kaya banget tuh orang tua Steven. Pasti pernikahan Fanie menggunakan dana dari jual semua tanah milik orang tuaku, awas ya kamu Fanie! aku pasti datang dan merebut semua yang harusnya menjadi milikku!" batin Endrik kesal.
Cindy juga merasa iri saat melihat acara televisi live pernikahan Steven dan Fanie.
"Coba yang di posisi Fanie saat ini adalah Meymey atau Meylan. Pasti saat ini aku menjadi seorang ibu yang sangat bangga dan bahagia," gerutunya menghela napas panjang.
*******
"Sayang, setelah sekian purnama. Akhirnya kita bisa bersama. Kamu tahu nggak, inilah yang sekian lama aku harapkan. Terima kasih, akhirnya kamu menerimaku sebagai suamimu," Steven mengecup bibir Fanie.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang mengucapkan terim kasih karena kamu bisa menerima semua kekuranganku, dan bersedia menikahiku. Bahkan kamulah yang selalu ada di setiap keadaanku," Fanie tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Steven.
💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏💏