Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Perubahan Pada Meymey


__ADS_3

Alex sejenak melirik sinis pada Meymey kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Nomor satu itu suami, aku sedang sakit tapi kamu ngeluyur semaumu. Jika aku sedang sehat, kamu boleh pergi." Alex mendengus kesal.


"Aku suntuk, nggak melakukan aktifitas apapun. Lagipula saat aku pergi, kamu sedang tidur. Aku pergi bukan untuk bersenang-senang. Tapi menjenguk keluargaku." Meymey melirik sinis pada Alex.


"Apa ucapanku barusan belum jelas juga, aku nggak melarangmu pergi tapi lihat kondisiku! kata anak kuliahan, tapi telat mikir nggak paham dengan apa yang aku ucapkan!" Alex mendengus kesal.


"Sudahlah, nggak usah di bahas. Aku lapar, tapi aku ingin makan masakanmu. Tolong buatkan aku bubur yang enak, kalau ngga bisa minta di ajarin bibi. Buatnya nggak usah terlalu banyak supaya tidak terlalu lama matangnya," Alex memerintah Meymey.


Segera Meymey melangkah ke dapur tanpa berkata apapun pada Alex.


Meymey meminta asisten rumah tangganya untuk mengajarinya membuat bubur.


"Dasar tua bangka bertingkah, bikin aku repot saja! tinggal beli on line kan cepet juga nggak ribet," batinnya kesal.


30 Menit berlalu, bubur yang dibuat oleh Meymey telah matang dan siap di sajikan. Segera Meymey membawanya ke kamar untuk di sajikan pada Alex.


"Mas, buburnya sudah jadi." Meymey memberikannya pada Alex, namun dia tak mau menerimanya.


"Kamu lihat, kondisiku seperti apa sekarang! kenapa kamu nggak peka dan selalu saja aku ajarin baru paham dengan apa yang aku mau!" Alex mendengus kesal.


"Oh, di suapin? tinggal ngomong di supain apa susahnya, di bikin ribet ngomong ini itu yang nggak ada juntrungannya." Meymey menyuapkan buburnya pada Alex.


Namun tiba-tiba Alex menyemburkan buburnya ke wajah Meymey.


"Wle, kamu nggak ikhlas dan ingin menambah sakitku! bubur masih panas di suapkan!" Alex melotot pada Meymey.


"Maaf, tapi nggak begini caranya dong! masa di semprot ke wajahku! nech makan sendiri saja, aku akan membersihkan wajahku!" Meymey meletakkan buburnya di pangkuan Alex.


Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang terkena bubur.


"Sialan tuh si tua bangka " gerutunya seraya membersihkan wajahnya.


"krompyang.." Alex melempar mangkuk berisikan bubur ke lantai.


"Suara apa itu." Meymey lekas keluar dari kamar mandi.


"Mas, apa-apaan sih kamu! aku buat dengan susah payah masa di buang begitu saja! kelewatan kamu, mas." Meymey mendengus kesal.

__ADS_1


Alex hanya diam saja, menatap tajam pada Meymey. Perlahan Alex meraih ponselnya di nakas, dan segera memesan bubur ayam di aplikasi grab food.


Sementara Meymey memanggil asisten rumah tangganya untuk membersihkan semua kegaduhan yang telah di buat oleh Alex. Namun Alex melarangnya.


"Untuk apa kamu memanggil bibi, aku minta kamu yang membersihkan semuanya!" bentak Alex.


"Bi, pergilah. Biar istri saya yang membersihkan semuanya," perintah Alex pada asisten rumah tangganya.


"Bi, mau kemana? bersihkan dulu!" bentak Meymey.


Asisten rumah tangga tersebut menjadi bingung, mau pergi atau tetap di tempat untuk membersihkan kamar tersebut.


"Bi, pergilah! aku yang memberi gaji, jadi bibi harus dengarkan aku!" Alex memerintah asisten rumah tangganya kembali, untuk segera pergi.


Akhirnya asisten rumah tangga tersebut melangkah meninggalkan kamar Alex.


Sementara Meymey dengan sangat terpaksa membersihkan lantai kamar yang kotor karena tumpahan bubur dan pecahan mangkuk.


"Sial, sudah tak berdaya saja masih bertindak seenaknya padaku," gerutunya dalam hati.


"Awas kamu, tuan bangka! aku akan menambah porsi racun dalam minumanmu!" batinnya kembali.


Setelah selesai membersihkan lantai kamar hingga benar-benar bersih. Alex memerintah Meymey untuk menyuapinya bubur ayam yang telah di pesannya lewat grabfood.


Meymey menyuapi Alex dengan sangat hati-hati sekali karena tak ingin membuat kesalahan.


Setelah bubur ayam habis satu mangkuk, Alex melanjutkan tidurnya kembali.


Berbeda dengan Meymey yang sedang gelisah memikirkan Endrik.


"Aku harus bagaimana, nggak mungkin nanti malam aku bisa keluar rumah lagi, yang ada si tua bangka marah dan berulah." Batin Meymey seraya mendengus kesal.


Sejenak Meymey memikirkan cara supaya nanti malam bisa keluar tanpa membuat marah Alex.


"Yes, aku sudah menemukan ide yang bagus. Nanti kalau si tua bangka minta buatkan minuman, aku taburi saja obat tidur. Untuk sementara racun aku hentikan dulu." Batin Meymey menyeringai puas.


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa telah menjelang maghrib. Alex telah bangun dan meminta di buatkan teh manis hangat. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Meymey.


"Hem, untung aku punya stok obat tidur. Dengan begini Alex akan tertidur pulas sampai pagi, dan aku bisa menjaga papi di rumah sakit." Meymey mengaduk teh seraya tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Mas, ini teh hangatnya." Meymey menyerahkan tehnya.


"Terima kasih." Alex segera meminumnya dengan bantuan Meymey.


Setelah itu Alex kembali berbaring, seraya melamun.


"Kenapa kondisiku bukannya membaik tapi kok semakin melemah. Kalau aku tak kunjung sembuh, pasti urusan kantor menjadi terbengkalai," batinnya seraya menghela napas panjang.


"Sebaiknya aku segera menghubungi Dokter Raka, biar aku tanyakan sendiri apakah dia telah kembali dari luar kota," batin Alex.


Namun saat dia akan memencet nomor ponsel Dokter Raka, tiba-tiba langsung terlelap tidur dengan menggenggam ponselnya.


"Hem, ternyata reaksi obat tidurnya cepat sekali. Bagus sekali, aku harus segera ke rumah sakit. Kasihan juga papi sendirian." Meymey lekas bersiap-siap.


Setelah itu Meymey langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Papi Endrik sedang di rawat.


Tak lama kemudian, sampailah Meymey di rumah sakit tersebut.


"Papi, kok jatah makannya masih utuh? Mey suapin ya." Meymey mengambil nampan berisi makanan.


Dan menyuapi Endrik dengan sangat tekun dan sabar.


"Ya, Tuhan. Anakku sudah tidak manja lagi." Batin Endrik.


"Pi, Mey minta maaf jika terlalu lama datangnya. Karena Mey harus mengurus suami yang sedang sakit." Mey berkata seraya terus menyuapi Endrik.


"Nggak apa-apa kok, justru papi minta maaf karena telah merepotkanmu," Endrik tertunduk lesu.


"Pi, jangan bicara seperti itu. Mey nggak merasa di repotkan, justru senang bisa bantu papi. Mey yang harusnya minta maaf, dari dulu hingga sekarang nggak pernah buat papi bangga," perlahan air mata Meymey tertumpah.


"Mey, jangan menangis. Nanti papi jadi ikut sedih." Endrik menatap sendu Meymey.


"Iya, pi." Meymey mencoba untuk tidak meneteskan air mata lagi.


Perlahan Meymey menghapus air matanya, dan kembali menyuapi Endrik hingga makanan di nampan habis tak tersisa.


"Pi, tinggal minum obatnya." Meymey memberikan beberapa obat yang telah tersedia di atas meja.


"Terima kasih, nak." Endrik langsung meminum obat pemberian dari Meymey.

__ADS_1


*******


Mohon dukungan like, vote, favorit.


__ADS_2