
Pagi menjelang, Stephanie segera ke dapur membantu bibi memasak untuk sarapan.
1 Jam kemudian, barulah Fanie ke kebun untuk menyirami tanamannya.
"Cu, apa nggak sebaiknya kamu masuk kuliah kembali. Sayang kan, tinggal satu tahun," grandpa menghampiri Fanie.
"Ya juga sih, grandpa. Tapi..." sejenak Fanie terdiam.
"Cu, nggak usah memikirkan biaya. Kakek masih ada tabungan, bisa buat biaya kuliahmu. Kalau perlu kamu kuliah di kampus Meymey dan Meylan," grandpa menimpali.
"Iya, cu. Grandma juga setuju saran grandpa, demi masa depanmu," tiba-tiba grandma menyahut dari balik jendela kamarnya.
"Nggak usahlah, grandma grandpa. Fanie sudah nggak berniat kuliah, tapi Fanie akan fokus berkebun saja." Katanya seraya terus menyirami tanaman.
"Pagi." Steven datang dengan senyum manisnya.
"Pagi, Steve. Memangnya kamu nggak kuliah, kok pagi sekali kamu kemari?" tanya Fanie seraya terus menyirami kebun.
"Kuliah kok, tapi jadwal jam satu siang." jawab Steven seraya merebut alat untuk menyiram kebun yang sedang di pegang oleh Fanie.
"Istirahatlah, biar aku yang meneruskan." Steven menyuruh Fanie beristirahat.
"Nggak usah, Steve. Sedikit lagi juga selesai." Fanie mencoba merebut alat semprot tanaman yang ada di tangan Steven.
Saat keduanya sedang fokus memperebutkan alat semprot tanaman, datanglah Meymey.
"Heh, apa-apaan sih kalian! kamu kecentilan amat sama Steve!" Meymey mendorong tubuh Fanie.
Hampir saja Fanie jatuh terjerembab, jika tidak di tangkap oleh Steven.
"Steve, kenapa juga kamu berdekatan dengan dia! yang tak jelas asal usulnya!" Meymey kembali akan menyerang Fanie.
"Diam kamu, Mey! pergi sana, sudah kubilang jangan ganggu hidupku!" Steven mendengus kesal seraya melotot pada Meymey.
"Sudahlah, kalian nggak usah berantem. Pagi-pagi ribut nggak enak di dengar tetangga." Fanie mencoba meredam emosi Meymey dan Steven.
"Diam kamu! gadis tak jelas asal usulnya, baru berapa hari di sini sudah berani menggoda Steve!" Meymey melotot pada Fanie.
"Mey, kalau kamu datang hanya untuk membuat onar sebaiknya pulang saja!" hardik grandpa menghampiri Meymey.
"Loh, kok grandpa malah membela gadis yang tak jelas asal usulnya itu! bukannya membela cucu sendiri." Meymey merajuk seraya menatap sinis Fanie.
"Fanie ini sudah grandpa anggap cucu kakek sendiri, bukan orang lain. Pulanglah, pagi-pagi bikin ribut di rumah grandpa!" Grandpa mengusir Meymey begitu saja.
__ADS_1
"Awas kamu ya! lain waktu aku pasti akan buat perhitungan padamu!" Meymey pergi begitu saja seraya melotot pada Fanie.
"Ya Tuhan, sebegitu cintanya Meymey pada Steve. Hingga sampai seperti ini," gerutu Fanie dalam hati.
"Fanie, kamu nggak apa-apa kan?" Grandpa menghampiri Fanie.
"Nggak kok, grandpa." Jawab Fanie singkat.
"Lain kali kamu jangan diam saja, lawan Meymey. Kalau kamu diam, dia akan terus mengganggumu," grandpa memberi saran.
Fanie hanya tersenyum kecil tanpa sepatah katapun.
"Bagaimana aku bisa bersikap kasar pada adik kandungku." Gerutu Fanie dalam hati.
"Tapi memang apa yang grandpa katakan ada benarnya juga, sesekali Meymey harus di beri pelajaran biar tidak kurang ajar." Gumam Fanie dalam hati.
"Fan, apa yang grandpa katakan ada benarnya. Kalau aku yang maju nggak mungkin, masa cowo melawan cewe. Jadi lain kali, kamu jangan diam saja," Steven membenarkan yang di katakan grandpa.
"Baiklah." jawab Fanie singkat.
Setelah itu, Fanie masuk dalam rumah untuk menyiapkan sarapan.
"Steve, ikut sarapan yuk," Fanie menghampiri Steven.
"Ayok, Steve kita sarapan bersama. Fanie sudah masak pagi tadi, yuk di coba masakan Fanie." Grandma menyendokkan makan ke dalam piring untuk Steven.
"Masa sih, bukannya tadi saat aku kemari Fanie sedang menyirami kebun," kata Steven seraya tak percaya.
Fanie hanya menyunggingkan senyum seraya melahap sarapannya.
"Sebelum ke kebun, Fanie memasak dulu di dapur," kata grandma menjelaskan pada Steven.
"Hem, enak juga masakanmu Fanie," kata Steven seraya menambah porsi sarapanya.
"Nggak apa-apa kan, grandpa grandma. Jika Steve nambah sarapannya?" kata Steven terkekeh seraya menyendok nasi dan lauk pauk.
"Coba di sini ada Stephanie, pasti tambah seru," tiba-tiba Steven berkata.
"Uhuk-uhuk" tiba-tiba Fanie tersedak.
"Minum, cu." Grandma memberikan segelas air putih.
"Maaf ya, Fanie. Jika perkataanku tadi membuatmu kaget," kata Steven merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Steve." Fanie berkata seraya tertunduk.
"Apa kamu telah jatuh cinta pada Phanie?" tanya grandpa menyelidik menatap lekat Steven.
"Ya, grandpa. Jujur saja, Steve telah jatuh cinta pada cucu grandpa dan grandma," jawab Steven seraya melirik tersenyum pada Fanie.
Sekilas Fanie tak sengaja melihat lirikan mata Steven, kemudian tertunduk malu.
Grandma melihat gelagat Steven tersebut, begitu pula dengan grandpa. Grandma dan grandma saling berpandangan.
"Sepertinya Steve, mulai mengenal identitas Fanie yang sebenarnya," gerutu grandpa dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Steven berpura-pura pamit pulang.
"Gandma, grandpa, Fanie, aku pulang dulu ya." Pamitnya seraya bangkit dari duduknya.
"Oh iya, terima kasih untuk sarapannya," kata Steven kembali.
Steven lekas keluar dari ruang makan, namun dirinya mengintai dari balik pintu ruang makan.
"Sepertinya Steve mulai curiga dengan Fanie," kata grandpa.
"Iya, grandpa. Bagaimana kalau Steve tahu jika aku yang sebenarnya adalah Stephanie?" Fanie merasa khawatir.
"Ternyata, feelingku benar. Jika Fanie yang sebenarnya adalah Stephanie," gerutu Steven dalam hati dari balik pengintaiannya.
"Memang apa salahnya, cu. Jika Steve tahu siapa sebenarnya dirimu?" tanya grandma.
"Grandma, grandpa. Meymey bersikap kasar padaku karena dia sangat mencintai Steve, aku nggak mungkin bersaing dengan adikku sendiri," kata Fanie.
"Cu, grandpa ingin bertanya padamu. Tolong jawab dengan jujur, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Steve?" tanya grandpa seraya menatap lekat pada Fanie.
"Entahlah, grandpa. Jujur saat ini yang sedang Fanie pikirkan bukan soal hati atau percintaan, tapi Fanie ingin bagaimana caranya supaya Fanie lekas jadi orang sukses agar tidak terus di remehkan oleh semua orang terutama keluarga Fanie," kata Fanie panjang lebar.
Setelah mendengar ucapan Fanie di dalam pengintaiannya, Steven barulah benar-benar pergi meninggalkan rumah grandma dan grandpa.
"Ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan buktikan ketulusan cintaku padamu, Phanie. Yang terpenting aku sudah cukup puas, setelah mengetahui siapa sebenarnya kamu," gerutu Steven dalam hati seraya melangkah pergi dari halaman rumah grandpa dan grandma.
"Aku janji, Fanie. Aku nggak akan menyerah begitu saja, bahkan aku akan membantu membuatmu sukses dalam usaha perkebunanmu. Aku akan selalu ada di sampingmu, Fanie sayang." Gerutu Steven seraya tersenyum sendiri.
Hatinya berbunga-bunga setelah mengetahui jati diri Fanie yang sebenarnya.
********
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote,favoritnya ka