
Tak berselang lama, sampailah mereka di rumah sakit terdekat. Segera Meymey memeriksakan diri.
Satu jam lamanya...
Barulah Meymey dan Meylan pulang, namun terlebih dulu Meymey mengajak Meylan ke cafe hanya untuk sekedar minum jus.
"Bagaimana hasil pemeriksaanmu, Mey? tadi kamu belum sempat cerita ke aku," Meylan merasa penasaran.
"Apa yang kamu bilang benar, aku saat ini sedang hamil satu bulan," Meymey menunduk lesu.
"Haduhhh, terus bagaimana? makanya kamu harus pinter dikit, kamu pake alat kontrasepsi atau apa gitu. Supaya nggak terjadi hal seperti ini " Meylan ikut resah.
"Entahlah, aku nggak tahu haruams bagaimana. Karena aku melakukannya bukan dengan satu pria. Jadi aku bingung seandainya akan meminta pertanggung jawaban," Meymey menghela napas panjang.
"Tinggal kamu pilih saja, pria yang paling mudah kamu tipu. Yang kamu lihat paling bodoh yang mana. Memangnya setiap kamu berhubungan dengan pria, pria yang satu tahu dengan yang lainnya?" tanya Meylan.
"Ya tahulah, karena kadang aku sedang jalan pria ini. Besoknya teman pria itu boking aku." Kata Meymey.
"Masa nggak ada satu pria pun yang benar-benar nggak tahu jika kamu jalan dengan pria lain?" Meylan merasa nggak percaya.
"Ada sih, satu pria. Tapi pria ini nggak begitu aku suka, hanya dia sangat kaya dan seusia papi. Dia belum tahu jati diriku, bahkan pernah menawarkan menjadikanku istri simpanannya," kata Meymey.
"Ya sudah, kamu nikah saja sama dia. Dari pada anakmu kelak nggak ada bapaknya," bisik Meylan.
"Nggaklah, aku belum ingin menikah. Tapi aku akan melakukan aborsi," kata Meymey.
"Jangan, itu terlalu bahaya. Khawatirnya membahayakan nyawamu," Meylan melarang.
"Nggaklah, aku pasti akan baik-baik saja. Kamu nggak usah terlalu khawatir," Meymey menyunggingkan senyum.
"Tolong kamu rahasiakan hal ini dari siapa pun, termasuk papi dan mami." Meymey memelas.
"Itu sudah pasti, aku nggak akan cerita pada siapa pun. Kamu itu sudah seperti belahan jiwaku, aibmu sudah menjadi aibku. Jika aku menceritakan aibmu, sama saja aku menceritakan aibku sendiri." Meylan mengusap lengan Meymey.
"Yuk kita pulang, ntar kalau papi atau mami tanya. Bilang saja aku cuma masuk angin," Meymey memberi saran.
__ADS_1
"Baiklah, aku telah paham." kata Meylan tersenyum.
Mereka lekas pulang ke rumah, dan apa yang sempat di katakan Meymey ada benarnya. Cindy bertanya tentang kondisi Meymey.
"Nak, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Cindy penasaran.
"Nggak ada yang serius, mi. Cuma masuk angin biasa, kecapean dan kurang tidur. Dokter menyarankan untuk banyak istirahat biar lekas pulih," kata Meymey.
"Makanya jangan terlalu banyak begadang, beberapa bulan terakhir kamu kan sering pulang malam kadang dini hari." Cindy menasehati Meymey.
"Iya,mi. Mulai nanti aku akan kurangi waktu kerjaku supaya nggak kecapean," Meymey mencoba tersenyum.
"Nak, sebenarnya kerjamu dan Meylan apa sih? kok mami nggak pernah tahu?" Cindy menyelidik.
"Anu mi, aku kerja di sebuah cafe jadi pelayan cafe. Karena sudah mencoba mencari kerja tapi belum ada jawaban satupun," Meymey menutupi rasa gugupnya.
"Apa mami tanyakan sama temen-temen mami, siap tahu ada lowongan kerja buatmu atau buat Meylan. Kalau kamu kerja apa Lan?" giliran Cindy bertanya pada Meylan.
"Anu, sama juga mi. Satu cafe sama Meymey, cuma kadang sift kita berbeda jadi yang sering berangkatnya nggak bebarengan," jawab Meylan.
"Cafe kami yang di luar kota, mi. Makanya kadang kami pulang sampai larut karena panjang di perjalanannya," Jawab Meylan.
"Semoga kelak kalian dapat kerja di dalam kota saja, sehingga tidak cape di perjalanan," Cindy tersenyum.
"Iya, mi. Makasih doanya, ya sudah Meymey mau istirahat." Meymey bangkit melangksh ke kamar.
"Meylan pamit berangkat kerja ya, mi." Meylan melangkah pergi begitu saja.
Sementara Meymey sedang gelisah di kamar karena tak tahu harus memutuskan apa. Walaupun pada Meylan dia berkata akan aborsi, namun dalam hati takut.
"Aku harus bagaimana, apa yang harus aku perbuat? nggak mungkin aku sanggup menutupi kehamilanku selamanya," batin Meymey seraya mondar mandir dan memijit pelipisnya.
"Seandainya aku meminta pertanggung jawaban dari salah satu pria yang bersamaku, pasti orang tuaku juga akan curiga. Dan nggak mungkin aku menikah dengan pria seusia papi," batinnya kembali.
"Aku ceroboh, kenapa juga aku nggak pake alat kontrasepsi sehingga kebobolan seperti ini. Pikirku jika pria yang memakai pengaman sudah pasti aman dan tidak sampai seperti ini," batinnya lagi.
__ADS_1
Meymey tak bisa tidur nyenyak memikirkan kehamilannya. Hingga akhirnya Meymey memutuskan untuk menemui salah satu prianya.
"Aku ingin mencoba meluluhkan hati Om Alex, dia sempat memintaku menjadi istri simpanannya. Waktu itu aku menolaknya, semoga kali ini tawarannya masih berlaku." Meymey mengambil tas slempang dan jaketnya, dia langsung keluar dari kamar.
Namun Meymey sengaja mengendap-endap supaya Cindy tidak mengetahui kepergiannya. Karena Meymey nggak ingin di berondong dengan banyak pertanyaan.
Tak berapa lama, Meymey telah berada di salah satu kantor Om Alex.
"Eh, kenapa kamu kesini? kalau mau ketemu kenapa nggak janjian saja lewat ponsel?" Alex kaget melihat kedatangan Meymey.
"Nggak usah khawatir, om. Aku beralasan mau wawancara kerja sama om. Aku terburu-buru, om. Makanya nggak kasih kabar lewat ponsel," katanya sekenanya.
"Ya sudah, katakan apa keperluanmu menemuiku? apa kamu kangen dengan peliharaanku?" Alex menghampiri Meymey meremas dua benda kenyal milik Meymey.
"Om, jujur sejak kita melakukannya. Aku selalu teringat om dan selalu ingin bertemu, om." Meymey merem melek saat dua benda kenyalnya di mainkan oleh Alex.
"Kita main yuk?" tangan Alex mulai menelusup ke rok Meymey.
"Disini, om?" Meymey mengernyitkan alis
"Noh, ada tempat peristirahatan di ruanganku ini. Kamu nggak usah khawatir, ruangan akan aku kunci dari dalam. Jadi nggak akan ada yang tahu," Alex menuntun Meymey ke kamar di ruang kerjanya.
Terjadilah apa yang seharusnya nggak terjadi. Niat hati Meymey ingin bertanya tentang penawarab Alex menjadikannya istri simpanan, malah Meymey terpaksa melayani Alex.
"Sayang, terima kasih karena kamu selalu biasa memuaskanku," Alex memakai kembali semua pakaiannya.
"Iya, om. Aku kemari ingin tanya sesuatu sama ,om." Meymey juga merapikan pakaian dan rambutnya.
"Tanya apa, sayang?" Alex membelai surai hitam Meymey.
"Apakah penawaran om masih berlaku untukku, tentang menjadikanku sebagai istri simpanan, om?" tanyanya.
"Memangnya kamu bersedia, masih dong. Kalau bisa aku ingin kamu hamil olehku, karena pernikahanku dengan istriku tak mempunyai keturunan. Makanya aku ingin memperoleh keturunan dari wanita lain untuk kelak mewarisi semua hartaku," kata Alex.
*****
__ADS_1
Mohon maaf karya masih remahan rengginang, belum bagus🙏🙏🙏🙏