
Selama terbebas dari penjara, Cindy selalu melakukan aktifitas yang berguna. Cindy yang sekarang bukanlah Cindy yang dulu.
Dimana dulu senang berfoya-foya, shoping, berkumpul dengan teman sosialitanya. Kini dirinya yang sekarang menghabiskan waktu bersama-sama kedua cucunya dan suka melakukan aktifitas beramal ke setiap panti asuhan dan panti jompo.
Kegiatan amal yang di lakukan oleh Cindy sebenarnya adalah kegiatan amal Fanie. Cindy membantu mengasuh anak-anak Fanie pada saat kegiatan amal berlangsung.
"Pi, sejak kita berdamai dengan grandma dan Kak Fanie hidup kita semakin lebih baik. Kini perusahaan papi sudah memiliki cabang baru," Meymey menyunggingkan senyum.
"Iya, benar juga apa yang kamu katakan. Kini saatnya papi ingin melihatmu berbahagia." Kata Papi Endrik.
"Hidupku sudah bahagia kok, pi." Kata Meymey singkat.
"Papi rasa belum, kalau kamu belum mempunyai suami dan anak. Carilah pendamping supaya papi nggak kesepian di rumah." Saran Papi Endrik.
"Papi kan sudah punya dua cucu yang sangat lucu dan menggemaskan. Masih bilang kesepian." Meymey manyun.
"Tapi kan Fanie sekarang hidupnya bersama mertuanya. Dan papi ingin menimang cucu darimu, papi harap kelak jika kamu menikah tinggal di sini saja. Biar papi nggak kesepian disini." Papi Endrik menghela napas panjang.
"Kalau mami sedang mengadakan kegiatan amal bersama Ka Fanie, kenapa papi nggak ikut saja. Jadi nggak merasa kesepian," Saran Meymey.
"Papi malu, jika mengikuti acara seperti itu." Kata Papi Endrik singkat.
"Kenapa mesti malu, pi?" tanya Meymey.
"Kenapa pula kamu juga nggak ikut?" Papi Endrik malah balik bertanya.
"Papi itu aneh, ditanya bukannya jawab malah tanya balik." Meymey kembali lagi manyun.
Selagi asik ngobrol berdua menunggu Cindy pulang dari kegiatan amalnya bersama Fanie, tiba-tiba datanglah Alex.
"Untuk apa lagi dia kemari?" batin Meymey.
"Selamat siang, kebetulan kalian ada dirumah. Dari kemarin aku datang kemari tapi selalu tak pernah ada orang." Alex menyunggingkan senyum.
"Memangnya untuk apa kamu datang kemari?" tanya Endrik menyelidik.
"Apa aku nggak diijinkan untuk duduk?" Alex balik bertanya.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Endrik berkata dengan nada sungkan.
Setelah Alex duduk, dia mengatakan pada Meymey dan Endrik tentang maksud kedatangannya.
"Begini, aku datang kemari ingin mengajak Meymey menikah resmi denganku." Kata Alex dengan sangat yakin.
"Ada angin apa kamu mengajak anakku untuk menikah resmi denganmu?" tanya Endrik penasaran.
"Karena aku baru sadar jika ternyata aku sangat mencintai Meymey. Jujur seperginya Meymey waktu itu, hidupku selalu gelisah dan tak tenang." Kata Alex menunduk lesu.
"Hem, seperti itu. Aku sebagai orang tua tidak bisa memutuskannya, karena yang akan menjalani rumah tangga adalah Mey. Semua keputusan ada di tangan Mey. Silahkan kamu bertanya saja langsung pada Mey." Kata Endrik panjang lebar.
"Mey, apakah kamu bersedia untuk menikah resmi denganku?" tanya Alex menatap sendu wajah cantik Mey.
Sejenak Mey terdiam seperti sedang berpikir, hingga akhirnya Meymey berkata.
"Maaf, sebelumnya. Bagaimana ya aku ngomongnya, jadi bingung." Meymey sesekali menoleh ke arah Endrik dan sesekali menghela napas panjang.
"Bicara sajalah, apapun yang kamu putuskan akan aku terima dengan lapang dada." Alex sudah tak sabar lagi untuk mendengar keputusan dari Meymey.
"Sekali lagi aku minta maaf, bukan maksudku untuk menolakmu. Tapi aku benar-benar trauma dengan pernikahan yang lalu. Dan aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama." Kata Meymey gugup.
"Jadi kamu menolakku untuk menikahimu secara resmi?" tanya Alex kembali serasa belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Meymey.
"Iya, mas." Jawab Meymey singkat.
"Apa alasanmu menolakku, sedang kita berpisah itu juga karena kesalahanmu bukan kesalahanku." Alex berkata dengan nada tinggi.
"Bukankah tadi aku telah menjelaskannya, apa kamu masih saja belum paham juga? lagipula aku juga merasa nggak pantas untukmu setelah apa yang pernah aku lakukan padamu." Meymey mencoba menahan rasa geramnya pada Alex yang terus bertanya.
"Hem, baiklah. Padahal banyak sekali wanita yang ingin menjadi istriku. Tapi kamu malah menolakku." Tiba-tiba Alex bangkit berdiri.
Dia melangkah pergi tanpa pamiy sama sekali pada Endrik dan Meymey.
"Sialan, aku di rendahkan oleh Meymey. Lihat saja Mey, aku nggak akan tinggal diam. Kelak jika ada pria yang mendekatimu, akan aku buat pria itu membencimu." Batin Alex seraya masuk dalam mobil.
Seperginya Alex, Endrik tiba-tiba mengusap surai hitam Meymey.
__ADS_1
"Papi akan selalu dukung keputusanmu, selama itu baik dan positif buatmu."
"Iya, pi. Meymey sadar dulu membuat suatu keputusan yang salah. Mey nggak ingin melakukan kesalahan yang salah untuk kedua kalinya." Meymey tersenyum.
"Papi seneng, kini kamu telah dewasa dan telah benar-benar bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk." Papi Endrik sumringah.
"Papi bisa aja dech." Meymey tertunduk malu.
"Kok mamimu lama ya, nggak pulang-pulang." Endrik sejenak menatap pelataran apartement.
"Papi kaya nggak hafal, mami. Kan kalau sedang bersama si kembar suka lupa waktu." Goda Meymey terkekeh.
"Oh iya iya, ya sudah papi mau tidur siang saja." Papi Endrik bangkit dari duduknya seraya melangkah ke dalam menuju kamarnya.
"Suntuk juga, sebaiknya aku keluar sebentar untuk refresing." Meymey masuk rumah mencari kontak mobil.
Tak lupa Meymey juga berganti pakaian serta meraih tas slempangnya. Tak lupa Meymey mengirim pesan pada ponsel Endrik.
"Aku sebaiknya pamit lewat ponsel saja, pastinya papi saat ini sudah nyenyak tidur." Meymey langsung memencet nomor ponsel Endrik dan mengirim notifikasi chat pesan.
Setelah itu Meymey melangkah ke mobil dan lekas melajukannya ke arah taman.
"Nggak usah jauh- jauh, yang penting rasa suntuknya hilang itu sudah cukup." Gerutunya tersenyum seraya mengemudikan mobilnya.
Tak berapa lama telah sampai di sebuah taman yang sangat indah, dan sejuk. Walaupun cuacanya panas, namun karena rindangnya pohon sehingga tak terasa panas karena tertutup pepohonan.
"Hem, disini saja sudah cukup menghilangkan rasa penatku karena seminggu berkutat dengan pekerjaan." Batin Meymey seraya sesekali tersenyum dan menghela napas panjang.
Selagi asik duduk menghirup udara segar dengan semilirnya angin lewat dedaunan rindang, tiba-tiba ada seorang pria berjalan sempoyongan tepat di hadapan Meymey.
"Ya Tuhan, kenapa pria ini. Ih kok berlumuran darah seperti ini." Meymey sangat kebingungan.
"No-nona, tolong aku.." Pria itu berkata lirih seraya matanya menatap sendu pada Meymey.
Meymey gemetaran dan panik, akhirnya dia berteriak minta tolong supaya ada orang yang menolong mengangkat tubuh pria tersebut ke dalam mobilnya.
"Pak, tolong pria ini angkat dan masukkan dalam mobil saya." Meymey meminta tolong pada dua pria yang kebetulan lewat.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like, vote, favorit..