
Waktu berjalan begitu cepat, saat ini Meymey sedang proses melahirkan. Sementara Fanie sampai sekarang belum juga hamil.
Fanie tak sengaja bertemu dengan Meymey dan Mami Cindy di rumah sakit kusus wanita hamil dan melahirkan.
"Mi, sakit banget.." rintih Meymey terus saja merengek seraya memegangi perutnya.
"Sabar, sayang. Sebentar lagi kita sampai di ruang dokter." Cindy menuntun Meymey.
Mereka berpapasan dengan Fanie dan Steven yang sedang memeriksakan kesuburan mereka.
Di saat sedang merintih kesakitan, Meymey sejenak berhenti tepat di hadapan Steven dan Fanie.
"Hey, Fanie. Aku kira saat ini kamu sedang hamil, tapi perutmu masih kempis saja. Apa jangan-jangan kamu mandul, Fanie? Kamu bodoh, Steve. Coba kalau dulu kamu menikah denganku, pasti saat ini kamu sedang berbahagia karena pastinya saat ini aku hamil." Meymey menyeringai sinis menatap Fanie dan Steven.
"Mey, sudah. Ayok kita ke ruang bersalin, ntar anakmu lahir di sini." Cindy mengajak Meymey melanjutkan langkahnya kembali.
"Bunny, kamu nggak usah dengarkan apa yang barusan Mey katakan. Percayalah pada Tuhan, secepatnya pasti kita akan punya anak," Steven merangkul Fanie seraya menghiburnya.
"Entahlah, hunny. Jika ternyata apa yang Mey katakan tentangku benar, bagaimana?" Fanie tertunduk lesu.
"Jangan pernah sekalipun mendahului takdir Tuhan dengan berandai-andai sendiri. Dan jangan selalu berpikiran buruk," Steven kembali lagi menghibur Fanie.
Namun Fanie tetap saja murung, dan terus saja terngiang ucapan Meymey barusan. Sepanjang perjalanan pulang, Fanie sama sekali tak berkata. Pikirannya traveling entah kemana.
Sementara Meymey sudah berada di ruang bersalin, namun dia sedang kesusahan untuk melakukan proses melahirkan secara normal karena kondisi bayinya posisinya melintang.
Hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar.
Namun saat proses operasi caesar selesai di lakukan. Dokter harus mengabarkan berita buruk.
"Dok, kenapa cucuku kok nggak terdengar menangis?" Cindy merasa penasaran.
"Sebelumnya kami mohon maaf, nyonya. Jika kami harus mengatakan kabar buruk mengenai cucu anda. Kami tidak bisa menolong cucu anda, yang ternyata telah mempunyai penyakit bawaan yang sangat langka sejak di dalam kandungan, sehingga nyawa cucu anda tidak bisa di selamatkan." Kata dokter panjang lebar.
"Bagaimana bisa, dok? karena semenjak hamil, putri saya selalu rutin cek kandungan dan kata dokter yang memeriksanya, kandungan anak saya tidak ada masalah dan janinnya sehat saja." Cindy masih belum percaya.
__ADS_1
"Tidak semua penyakit bisa langsung terdeteksi, nyonya. Bisa saja saat kehamilan, di dalam tubuh janin belum terdeteksi penyakitnya," dokter menjelaskan kembali.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana jika nanti Meymey sadar dan tahu bayinya ternyata telah meninggal dunia?" Cindy sangat bingung dan gelisah.
Dia mondar mandir seraya terus saja mencari cara yang baik untuk bisa menutupi kematian cucunya dari Meymey.
Cindy membaya bayi tersebut keluar ruangan, dirinya telah mempunyai akal licik. Yakni akan menukar bayi Meymey dengan bayi orang lain yang masih hidup.
Kebetulan, di samping ruang rawat Meymey ada juga seorang wanita muda yang telah melahirkan bayi kembar pria.
"Wah, wanita muda itu memiliki dua bayi. Kesempatan, mumpung sepi. Aku tukar saja bayi Meymey dengan salah satu bayi mereka." Cindy gerak cepat dan sesekali menyelidik takut ketahuan.
Bayi kembar tersebut di letakkan di ruang kusus bayi. Hingga Cindy dengan mudah mengambilnya.
Cindy masuk dalam ruangan tersebut dan menukar salah satu bayi yang ada di box dengan bayi Meymey yang telah meninggal.
Tanpa lupa melepas stempel yang ada di kaki sang bayi. Setelah berhasil, Cindy membawa bayi tersebut ke ruangan Meymey.
"Mi, bagaimana kondisi bayiku?" Meymey telah sadar dan menanyakan bayinya.
"Syukurlah, jadi kelak bisa menjadi ahli waris Alex." Meymey tersenyum saat melihat bayi tersebut.
Namun di dalam hati Cindy sedang merasa khawatir, karena takut kelakuannya tadi di ketahui oleh pihak rumah sakit.
Dengan berbagai alasan, Cindy mengajak Meymey pulang.
"Nak, kita pulang sekarang ya." ajak Cindy.
"Yang benar saja, mi. Aku baru saja melahirkan caesar, masa langsung pulang?' Meymey menolak kemauan Cindy.
"Suamimu kaya, kita bisa meminta suamimu untuk membawa perawat pribadi untuk merawatmu di rumah. Karena mami nggak mau jika bayimu kena virus, karena bayi sebelah baru saja meninggal karena virus menular," Cindy membohongi Meymey.
"Apa itu, mi? yang terdengar seperti suara wanita menangis?" Meymey menajamkan pendengarannya.
"Iya, nak. Kamu bilang saja ke dokter jika ingin rawat jalan saja." Cindy memberi saran.
__ADS_1
"Baiklah, mi." Jawab Meymey singkat.
"Mey, mami ingin keluar sebentar." Cindy lekas keluar.
Dia tidak memberitahu pada Meymey jika akan ke ruangan dokter.
"Permisi, dok. Saya ibu dari pasien Meymey yang bayinya telah meninggal. Saya minta ijin untuk membawa bayinya, karena kan segera di kebumikan. Saya juga minta ijin, karena saya akan membawa pulang anak saya segera. Karena jika terlalu lama di rumah sakit, pasti Meymey bisa syok." kaya Cindy pada dokter seraya menatap sendu.
"Baiklah, tapi sebisa mungkin jika di rawat di rumah harus ada seorang perawat pribadi." Kata dokter.
"Dokter tak perlu khawatir, karena kami telah menyiapkan perawat pribadi untuk anak kami," kata Cindy meyakinkan dokter.
"Baiklah kalau begitu nanti nyonya harus menandatangi surat pernyataan pulang. Dimana isinya tentang si pasien yang memaksa pulang, dan jika ada apa-apa, kami pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab sepenuhnya," kata dokter menjelaskan.
Cindy menyanggupi untuk menandatangi surat pernyataan tersebut. Supaya mereka bisa lekas pulang ke rumah, agar kejahatannya tidak terbongkar.
Cindy pulang di jemput oleh menantunya Alex. Alex merasa sangat bahagia mengetahui anaknya seorang pria. Padahal anak yang asli telah meninggal dunia.
Setelah sampai di rumah, hatinya lega sudah tidak khawatir dan gelisah.
"Syukurlah sampai ke rumah, dengan begini rahasiaku aman dan takkan terbongkar. Karena hanya aku yang tahu tentang ini." Batin Cindy menyeringai puas.
Seperginya Cindy dan Meymey dari rumah sakit. Pasien yang mempunyai bayi kembar merasa kaget karena satu bayinya tak bernyawa.
"Dok, bagaimana ini? kok satu bayiku sudah tidak bernyawa, padahal saat proses melahirkan bayi saya duanya sehat saja?" Wanita tersebut panik seraya menitikkan air mata.
Dokter membuka selimut bayinya, dan memeriksa bayi tersebut. Dokter juga merasa ada kejanggalan karena saat dirinya menangani proses melahirkan si wanita tersebut, bayinya memang sehat semua.
Namun samg dokter belum bisa mengungkap rasa curiga dan kejanggalannya tersebut.
Karena kebetulan, hari ini dokter tersebut harus menangani banyak proses melahirkan. Jadi sang dokter mengurungkan niatnya untuk menyelidiki hal ini.
Dokter ini menunggu waktu yang luang dan santai.
****
__ADS_1
Mohon maaf jika karya jelek dan banyak kekurangan, karena tahap belajar mohon di maklumi🙏🙏🙏🙏🙏🙏