Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Kedatangan Endrik


__ADS_3

Hari ke dua honeymoon, Steve dan Fanie pergi ke sebuah tempat wisata yang bersalju.


Yakni Shiga Kogen yang terletak di Yamanouchi, memilik wilayah bermain ski terbesar di Jepang.


Steven dan Fanie sangat menikmatinya.



Senyum kebahagiaan selalu mengembang di antara sepasang pengantin baru ini. Mereka tak merasakan lelah sama sekali, saat bermain salju.


Setelah beberapa jam, barulah mereka mencari makanan. Begitu banyak makanan khas Jepang yang mereka pesan seperti


tempura, onigiri, udon, sushi, sashimi, yakiniku, dan sukiyaki.


"Hunny, yang benar saja. Masa pesan makanan sebanyak ini?" Fanie terperanga saat melihat makanan yang tersaji di hadapannya.


"Nggak apa-apa, bunny. Sesekali kita seperti ini," Steven mengedipkan matanya.


"Tapi ini terlalu banyak, apa kamu kuat menghabiskan semuanya?" Fanie geleng-geleng kepala seraya menghela napas panjang.


"Sudah, jangan cuma di pandangi. Ayo kita makan, nggak usah memikirkan habis atau nggaknya." Steven segera menyantap dengan lahap makanan yang ada di hadapannya.


Fanie ikut pula menyantapnya, namun dia makan nggak selahap Steven.


*****


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sudah menjelang sore. Suasana yang sangat indah saat sepasang pengantin baru ini berada di sebuah pantai untuk memandang sunset.



"Lihatlah, bunny. Indah sekali kan suasana disini," Steven memeluk Fanie dari belakang.


"Ya, hunny. Indah sekali pemandangan di sini. Serasa bagaimana gitu loh " Goda Fanie terkekeh.


Mereka tak jemu-jemu bermain air laut di sekitar mereka dengan sesekali berlari berkejar-kejaran.


"Hunny, aku lelah sekali. Kita pulang yuk?" Fanie tersengal-sengal seraya membungkukkan badannya.


"Sini, bunny. Naiklah ke punggungku." Steven berjongkok dan memberi kode menepuk punggung sendiri.


"Nggak ah, hunny. Kasihan kamu, ntar keberatan." Fanie menolaknya.


Namun Steven terus saja memaksanya, hingga akhirnya Fanie menuruti kemauan Steven. Fanie di gendong di punggung Steven.

__ADS_1


Mereka kembali ke penginapan yang tak jauh dari pantai tersebut.


Mereka membersihkan badan secara bersama-sama. Bahkan dengan bercumbu mesra di dalam toilet. Sampai akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri di toilet.


Setiap hari hanya seperti itu yang mereka lakukan selama berada di Jepang. Dan tak lupa traveling ke liling kota Jepang. Ke semua tempat wisata yang terkenal di Jepang.


"Bunny, kita makan di taman yuk. Sepertinya asik loh," ajak Steven.


"Di taman mana, hunny?" Fanie mengernyitkan kening."


"Di dekat hotel ini, ada sebuah taman yang sangat indah. Kita ke sana sekarang yuk?" Steven antusias mengajak Fanie ke taman dekat hotel dimana saat ini mereka menginap.



Mereka duduk beralaskan kain putih, duduk berdua bercanda ria. Dan sesekali makan cemilan yang mereka bawa di dalam sebuah keranjang rotan.


Steve tak hentinya menatap wajah cantik istrinya.


"Bunny, aku sangat bahagia sekali bisa menikah denganmu. Semoga kita lekas di beri momongan, kamu nggak keberatan kan bunny?" Steven menatap lekat Fanie.


"Aku juga bahagia, aku juga ingin lekas memiliki momongan. Supaya suasana rumah kita menjadi tambah hangat dan ramai," Fanie tersenyum manis.


Mereka berdua perlahan merebahkan badan di rumput yang hanya di alasi sebuah kain putih.


Sampai pada akhirnya mereka tertidur nyenyak hingga tak terasa malam mulai menjelang.



Mereka bangkit dan berjalan-jalan di malam hari mengitari sekitar hotel. Suasana malam yang cerah menambah indahnya kebersamaan sepasang pengantin baru ini.


*******


Waktu berlalu begitu cepat, sudah sebulan mereka berada di Jepang. Akhirnya Steven mengajak Fanie kembali ke Indonesia.


Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di rumah grandpa dan grandma.


Namun mereka terhenyak kaget saat melihat kedatangan Endrik yang sedang emosi tinggi.


"Pokoknya Endrik minta sama daddy dan mommy, sekarang juga memberikan semua warisan kalian padaku. Karena akulah yang berhak memiliki harta peninggalan kalian, bukan Fanie yang tak jelas asal usulnya," bentak Endrik menatap tajam pada grandma dan grandp.


"Om, kenapa kasar sekali sama orang tua!" Fanie menghampiri mereka yang tengah berdebat.


"Diam kamu! nggak usah turut campur urusan keluargaku!" Endrik melotot pada Fanie

__ADS_1


"Bagaimanapun grandpa dan grandma sudah menjadi bagian dari hidupku, jadi jika ada apa-apa dengan mereka aku akan selalu turut campur," Fanie mendengus kesal.


"Diam kamu!" tangan Endrik melayang akan menampar Fanie.


Namun dengan gerak cepat, Steven menahan tangan Endrik sehingga tak sampai menampar pipi Fanie.


"Hentikan! jangan coba-coba anda menyakiti istri saya jika tidak ingin urusannya di perpanjang oleh saya!" bentak Steven.


Sementara grandma terus saja memeluk Fanie seraya terus menitikkan air mata. Fanie terus saja mencoba menenangkan hati grandma seraya mengusap punggung grandma.


"Aku minta kamu pergi dari rumah orang tuaku! karena aku nggak ingin kamu terus menguras habis harta orang tuaku!" Endrik melotot pada Fanie.


"Kenapa yang ada di pikiran anda cuma harta! baik saya akan pergi dari rumah ini, tapi saya akan membawa grandma dan grandpa." Fanie mendengus kesal menatap tajam Endrik.


"Kebetulan sekali, bawa saja orang tuaku bersamamu. Jadi aku nggak membebaniku," Endrik melirik sinis.


"Cepat kemasi barang orang tuaku dan bawa pergi mereka dari sini!" bentak Endrik.


"Jaga ucapanmu! sampai kapanpun kami takkan pergi dari rumah kami!" bentak grandpa.


Fanie semakin bingung, karena grandpa dan grandma tetap pada pendiriannya dan akan bertahan di rumah mereka.


"Grandma, grandpa. Apa nggak sebaiknya kalian ikut kami ke rumah kami," Steven mencoba membujuknya.


"Nggak usah, cu. Karena di rumah ini banyak sekali kenangan kami dari masa muda hingga masa tua kami." Ucap grandma.


"Iya, cu. Kami telah sepakat, sampai mati kami akan tetap berada di rumah ini, rumsh yang banyak sekali kenangan baik suka maupun duka." Kata grandpa lirih.


"Hem, baiklah kalau daddy dan mommy akan tetap tinggal di sini. Tapi Endrik nggak ingin melihat Fanie tinggal bersama kalian! kalau nggak aku akan mengusir paksa kalian," ancam Endrik melotot pada Fanie.


"Anda nggak perlu khawatir, karena Fanie akan tinggal bersamaku!" Steven berucap dengan nada tinggi.


Setelah itu Endrik pergi tanpa berpamitan sama sekali. Sementara grandma malah menangis sejadi-jadinya yang membuat Fanie dan Steven merasa iba.


"Grandma, sudah jangan bersedih. Toh sekarang grandma masih tetap bisa tinggal di rumah ini," Fanie mengusap air mata grandma.


"Grandma sedih, cu. Karena punya anak semata wayang tapi sama sekali nggak sayang sama grandma dan grandpa " air mata grandma kembali menetes.


"Suatu saat pasti papi akan berubah, jadi grandma dan grandpa yang sabar dan yang kuat dalam menghadapi perangai papi Endrik," Fanie terus saja menghibur grandma.


******


Mohon dukungan like, vote, favorit..

__ADS_1


__ADS_2