
Waktu berjalan begitu cepat, tibalah waktunya persidangan perceraian pertama Endrik dan Cindy.
"Segera datang ke pengadilan sekarang juga," Kata Endrik menatap sinis Cindy.
"Persidangan apa, pi?" jangan bilang kamu telah mendaftarkan perceraian kita?" Cindy menatap sendu Endrik.
"Apa, mami dan papi mau bercerai?" tiba- tiba Meymey berkata dari balik pintu ruang makan.
"Ini siapa yang ingin bercerai?" Meylan juga bertanya.
"Papi, yang telah mendaftarkan perceraian di pengadilan," kata Mami Cindy.
"Tapi kenapa, pi? memangnya permasalahan kalian sama sekali tidak bisa di selesaikan dengan cara damai?" Meymey mengernyitkan alisnya.
"Tanya saja sama mimi kalian, apa yang telah dia perbuat. Aku berangkat dulu ke pengadilan, segera datang jangan sampai terlambat." Papi Endrik bangkit dari duduknya segera berlalu pergi.
"Mi, sebenarnya kesalahan apa yang telah mami lakukan pada papi sampai papi semarah itu dan tak mau memaafkan mami?" Meylan menatap sendu pada Cindy.
"Mami telah selingkuh dengan pria lain, dan papimu mengetahuinya." Cindy tertunduk lesu.
"Apa?" Meymey dan Meylan serentah berkata seraya keduanya bangkit dari duduknya.
"Kenapa mami berbuat sampai sebegitunya?" Meymey menatap tajam Cindy.
"Apa karena papi bangkrut, jadi mami tega selingkuh?" Meylan ikut berkata.
"Mami, khilaf. Mami sudah minta maaf tapi papi kalian nggak mau memaafkan mami," perlahan air mata jatuh berderai membasahi pipi.
"Jelaslah, bagaimana mungkin seorang suami bisa menerima istrinya selingkuh dengan pria lain," Meymey berkata ketus.
"Kalau kalian berpisah, terus kami ikut dengan siapa?" Meylan bingung.
"Kalau aku fix ikut papi saja, secara kalau ikut mami pasti tinggal di kontrakan." Meymey berkata.
"Aku juga, nggak mau ikut mami." Meylan ikut pula berkata.
"Kalian tega, jika mami kelak tinggal sendiri?" Air mata Cindy semakin berderai.
__ADS_1
"Kan semua salah mami sendiri, jadi harus tanggung resikonya sendiri. Mami yang berbuat masa kami ikut tanggung jawab dan ikut sengsara, kami nggak maulah." Meymey menatap sinis Cindy.
"Apa kalian nggak bisa bantu mami untuk membujuk papi kalian mencabut gugatan cerainya?" Mami Cindy mencoba membujuk si kembar.
"Nggak, mi. Kalau Meymey nggak mau, karena kalau papi sudah marah susah luluhnya, apa lagi kalau kita punya kesalahan yang sangat fatal," Meymey menolaknya.
"Meylan juga nggak bisa bantu mami, maaf." kata Meylan.
Keduanya berlalu pergi begitu saja tanpa merasa iba sedikitpun pada Mami Cindy.
"Ya, Tuhan. Aku harus bagaimana supaya rumah tanggaku utuh?" Mami Cindy terus saja menitikkan air matanya.
Sementara saat ini Endrik sudah menunggu di kantor pengadilan.
"Bagaimana sih Cindy, kok belum datang juga." Endrik langsung menelpon Cindy.
📱" Hallo, kenapa kamu belum juga datang. Persidangannya sebentar lagi. Cepat datang sekarang juga."
Namun Cindy tak berkata apapun di dalam telpon.
Dia bingung sekali harus bagaimana, mau datang sungkan jika nggak datang pasti pihak pengadilan malah akan cepat mengabulkan gugatan cerai Endrik.
Akhirnya dia memutuskan datang di persidangan walaupun harus menanggung malu jika nanti mengakui tentang perselingkuhannya.
Tak berapa lama, Mami Cindy telah sampai di pengadilan. Dan langsung menuju ke ruangan sidang dimana lima menit lagi akan di adakan sidang perceraiannya.
Persidangan pertama, hakim tidak langsung memberikan keputusan. Namun memberi kesempatan untuk Endrik dan Cindy melakukan mediasi.
Sidang ke dua akan di lanjutkan bulan berikutnya, jika sudah mendapatkan hasil kesepakatan dari mediasi jika ingin terus di lanjutkan sidang perceraiannya.
Cindy merasa lega, karena hakim memberi waktu satu bulan untuk dia mediasi. Membicarakan kembali rencana perceraian mereka.
"Pi, kita pulang bareng ya?" Cindy menghampiri Endrik.
Endrik hanya membalas ucapan Cindy dengan lirikan sinisnya.
"Duduklah di kursi belakang," Endrik menegur Cindy saat akan duduk di depan bersamanya.
__ADS_1
Cindy pun menuruti kemauan Endrik, duduk di kursi belakang.
"Pi, tolong jangan lanjutkan perceraian ini. Aku janji akan berubah setia padamu," Cindy mencoba membujuk Endrik.
"Baiklah, jika kamu ingin aku membatalkan perpisahan kita. Aku akan turuti, tapi aku akan membalas perlakuanmu padaku. Jangan salahkan aku jika aku juga akan berselingkuh dengan wanita lain seperti apa yang kamu lakukan padaku," Endrik menyeringai sinis.
"Pi, jangan dong. Aku kan telah berjanji akan memperbaiki kesalahanku. Semua orang pasti punya kesalahan karena kita bukan malaikat," kata Cindy.
"Jadi kamu membenarkan tentang apa yang telah kamu lakukan padaku! aku hanya ingin kamu merasakan apa yang ku rasakan! jika aku selingkuh dengan wanita lain, aku ingin tahu seperti apa rasanya hatimu!" Endrik mendengus kesal.
"Baru ucapan saja aku sudah nggak terima, pi. Apa lagi jika papi benar-benar berselingkuh," ucap Cindy.
" Apa lagi aku, yang melihat sendiri perselingkuhanmu. Dan kamu bahkan mengakui jika telah lama berselingkuh! sudahlah nggak usah berkata lagi padaku, aku nggak ingin berbicara dengan wanita kotor sepertimu yang tak bisa menjaga kehormatanmu! jijik aku," tiba-tiba Endrik menghentikan laju mobilnya.
"Turun kamu, aku jijik jika mobilku di tumpangi wanita kotor sepertimu!" Bentak Endrik melotot pada Cindy.
Cindy keluar dari mobil, dan Endrik segera melajukan mobilnya tanpa menghiraukan Cindy.
"Suatu pilihan yang sangat menyakitkan. Jika tetap bersatu, suamiku akan membalas ku dengan selingkuh pula. Tapi jika aku berpisah, aku nggak mau kesepian tinggal sendiri di sebuah kontrakan. Apa yang harus aku putuskan ya, Tuhan." Gerutunya seraya berjalan kaki.
Endrik langsung menuju ke kantor expedisinya, sementara Cindy pulang ke rumah. Walaupun selingkuhannya berkali-kali menelpon mengajak bertemu, namun Cindy tak menghiraukannya.
Sementara Meo belum tahu jika saat ini semua rekeningnya telah di bekukan oleh Meta.
Meo juga belum tahu jika saat ini Meta telah menggugat cerai dirinya. Makanya Meo terus saja berulah dengan mencoba mengajak bertemu Cindy.
"Cindy sudah tidak mau bertemu denganku, lebih baik aku mencari wanita lain saja." Meo melajukan mobil ke sebuah bar untuk mencari seorang wanita cantik.
Setelah mendapatkan wanita, Meo mengajaknya chek in hotel. Namub saat Meo akan membayar dengan kartu kreditnya, sudah tidak bisa buat transaksi.
Meo mencoba ke ATM untuk mengambil uang cash, juga sama sekali tak bisa di gesek ATMnya.
"Kenapa semua kartuku tak bisa di gunakan?" Meo lekas menelpon bagian bank.
"Maaf, Tuan. Semua kartu dan rekening anda telah kami bekukan atas permintaan dari istri anda,"ucap salah satu pegawai bank di balik panggilan telpon.
"Kenapa tiba-tiba Meta memblokir semua rekeningku, apa dia marah padaku atau apa?" Meo mengerinyitkan alis tanda bingung dengan pemblokiran yang di lakukan Meta.
__ADS_1
*******