Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Suasana Baru


__ADS_3

Ayah dan anak saling berpelukan haru, grandma yang melihatnya ikut meneteskan air mata.


"Jika daddy masih hidup, pasti bahagia melihat perubahsn pada Endrik dan kebersamaan Fanie dan Endrik," batin grandma.


"Sudahlah, nak. Kamu nggak salah kok, papi dan mami serta kedua adikmu yang selalu bersikap buruk padamu," Endrik memeluk Fanie seraya mengusap punggung Fanie.


"Papi beneran sudah bisa menerima Fanie menjadi anak papi?" Fanie merasa belum yakin.


"Iya, nak. Di sisa umur papi, ingin benar-benar merubah semua kelakuan buruk papi. Dan ingin selalu berbuat kebaikan," Endrik tersenyum .


Sejenak mereka berdua berpelukan kembali, dan saling mengusap punggung. Setelah itu Endrik melepaskan pelukannya pada Fanie dan menghampiri grandma.


Endrik tersungkur di depan grandma seraya menggenggam kedua tangan grandma.


"Mommy, Endrik telah penuhi keinginan mommy. Apakah sekarang Mommy bersedia memaafkan Endrik?" Endrik menatap sendu grandma seraya mencium kedua tangan keriput grandma.


"Iya, nak. Mommy sudah memaafkanmu, tapi tolong janganlah kamu buat kecewa mommy. Karena di sisa hidup, mommy ingin melihat keluarga mommy utuh saling menyayangi satu sama lain, tidak ada perselisihan," grandma kembali menitikkan air mata.


"Nanti, jika Meymey telah pulang. Akan Endrik ajak kemari untuk meminta maaf pada mommy juga pada Fanie." Kata Endrik sumringah.


"Berarti papi sudah punya cucu ya, Fanie? boleh nggak papi ingin sekali bermain dengan cucu papi?" Endrik menatap sendu pada Fanie seolah ingin minta ijin.


"Boleh kok, pi." Jawab Fanie singkat.


Fanie mengajak Papi Endrik bertemu dengan si kembar Andre dan Abrina. Saat Endrik bertemu dua cucunya yang menggemaskan, dia sangat menikmati kebersamaan bersama dua cucunya sampai lupa waktu.


"Oh iya, Fanie. Papi pulang dulu, nanti malam papi kemari lagi bersama Meymey." Pamitnya tak lupa mencium kedua cucunya.


Endrik juga berpamitan pada grandma untuk pulang sejenak.


"Hati-hati di jalan, pi. Nanti malam papi sama Meymey makan malam di sini saja, biar suasana tambah hangat," Saran Fanie.


"Baiklah, nak. Dengan senang hati, papi akan menerima tawaran makan malam darimu. Jangan lupa sampaikan salam papi pada orang tua Steve dan Steve." Endrik lekas masuk dalam mobilnya.

__ADS_1


"Puji Tuhan ya, grandma. Papi sudah benar-benar berubah." Fanie memeluk grandma.


"Iya, cu. Walaupun perubahannya sangat terlambat di saat grandpa telah tiada," grandma menunduk lesu.


"Nggak apa-apa, grandma. Syukuri saja, daripada tidak berubah sama sekali. Malah lebih parah, kan?" Fanie menghibur grandma seraya mengusap bahunya.


Sementara saat ini Endrik telah sampai di rumah. Dia langsung mencari keberadaan Meymey.


"Mey, kamu dimana nak?" Endrik menulusuri ruangan demi ruangan yang ada di dalam apartement.


Ternyata Meymey sedang ada di paviliun belakang, duduk sendiri melamun.


"Nak, kamu kenapa? apa ada masalah di kantor, kenapa pula mau petang duduk sendiri di sini?" Endrik mengusap surai hitam Meymey.


"Mey kesepian, pi. Nggak ada mami dan Meylan," Meymey tertunduk lesu.


"Mey, papi ingin ngobrol denganmu sebentar. Kita pindah di ruang tengah saja, jangan di sini." Endrik melangkah masuk menuju ruang tengah.


Meymey bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Endrik.


"Kok raut wajah papi terlihat berbeda dari biasanya, hari ini begitu ceria dan sudah tak ada tekanan atau beban," Meymey mengamati wajah Endrik.


"Iya, nak. Apa yang kamu katakan memang benar, papi sedang bahagia. Dan papi juga akan membagi kebahagiaan ini padamu. Makanya kamu dengarkan cerita papi." Endrik sangat sumringah.


Segera Endrik menceritakan semua pengalaman di rumsh grandma. Meymey sangat mengamati setiap kata yang di ucapkan oleh Endrik.


Setelah mendengar semua cerita Endrik sampai selesai, barulah Meymey berani berkomentar.


"Syukurlah jika papi telah mendapatkan maaf dari grandma, aku juga akan meminta maaf pada grandma dan Ka Fanie. Aku baru sadar, pi. Jika sebenarnya Ka Fanie itu adalah kakak yang sangat baik dan selalu saja mengalah." Meymey tertunduk lesu.


"Maafkan papi, nak. Karena dulu papi dan mami salah dalam mendidikmu sehingga kamu tak menghargai dan menghormati kakak kandungmu, bahkan kamu selalu berbuat buruk padanya, papi benar-benar sangat menyesal." Endrik tertunduk lesu.


"Sudahlah, pi. Janganlah menyalahkan diri sendiri, yang penting sekarang kita telah menyadari kesalahan kita pada grandma dan Ka Fanie." Meymey memberi penghiburan pada Endrik.

__ADS_1


"Sekarang yang kita pikirkan adalah menata hidup kita agar kedepannya baik, dan kita mulai pula sedikit demi sedikit merubah kelakuan buruk kita," kembali lagi Meymey berkata.


"Ya benar sekali apa yang kamu katakan, Mey. Papi juga ingin benar-benar memperbaiki perilaku papi, terutama pada grandma dan Fanie. Papi ingin menebus kesalahan di masa lalu papi pada mereka." Endrik menghela napas panjang.


"Ya, pi. Intinya kita jangan menengok ke belakang lagi, dan kita sebisa mungkin juga menyadarkan Meylan dan mami." Saran Meymey.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi karena nanti jam 7 malam kita ke rumah Fanie. Untuk kita makan malam bersama." Perintah Endrik pada Meymey.


Meymey lekas mandi sore, begitu pula dengan Endrik. Kini hati mereka di liputi oleh suasana kegembiraan. Dan sudah tidak ada dengki, amarah ataupun permusuhan kembali.


"Ternyata jika di dalam hati tidak ada kebencian pada seseorang, hati ini lega dan tidak cepat emosi maupun sakit kepala. Badan rasanya lebih rileks dan ringan tanpa bebsn sedikitpun," gerutunya seraya berendam dalam bathup.


"Dulu saat aku membenci Fanie, aku selalu emosi. Dada sering sakit, pikiran gelisah selalu, bahkan tidur tidak pernah nyenyak, makanpun tidak enak." Gerutunya kembali.


Setelah beberapa menit, Meymey dan Endrik telah siap untuk berangkat ke rumah Steven.


Endrik lekas melajukan mobilnya, dan tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di rumah Steven.


Endrik dan Meymey mendapat sambutan hangat dari orang tua Steven, Steven, grandma dan Fanie.


Tak perlu menunggu lama, mereka berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam yang telah tersaji begitu banyak menu.


Mereka makan dengan sesekali bercakap dan bercanda ria, membuat suasana makan begitu hangat dan tak sepi.


Barulah setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang tengah. Waktu ini di gunakan oleh Meymey untuk meminta maaf pada grandma dan Fanie.


Fanie memang seorang wanita yang baik, walaupun dulu telah di sakiti sedemikian rupa oleh Meymey, tapi pintu maafnya selalu terbuka untuk Meymey.


"Ka Fanie, aku minta maaf atas segala dosa dan salahku di masa lalu padamu." Meymey memeluk erat Fanie.


"Aku sudah memaafkanmu, Mey. Sebelum kamu meminta maaf padaku." Fanie menepuk punggung Meymey.


*******

__ADS_1


Mohon maaf jika karyanya kurang greget, tidak seperti karya author yang lainπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2