Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Tertipu


__ADS_3

Setelah mendapat uang yang lumayan banyak dari hasil menggadaikan mobilnya, Papi Endrik memutuskan untuk benar-benar membuka usaha baru.


Dia tidak ingin uangnya habis kembali oleh istri dan dua anaknya hanya untuk berfoya-foya.


Papi Endrik membuka usaha jasa expedisi dengan modal uang dari hasil menggadaikan mobil milik Fanie.


Sisa uangnya untuk keperluan rumah sehari- harinya.


"Uang ini akan aku pakai buka usaha, jika tidak akan habis sia-sia oleh istri dan dua anakku," batin Papi Endrik.


"Pi, mami minta dong uangnya untuk pergi ke salon," Mami Cindy bergelayut manja di pundak Papi Endrik.


"Kamu itu kebiasaan, kalau lihat uang banyak langsung ijo matanya. Langsung manja, tapi kalau aku nggak ada uang, kamu nggak peduli sama sekali sama aku." Papi Endrik berlalu pergi begitu saja.


"Pi, ayohlah. Sedikit saja kan masih bisa buat modal usaha," Mami Cindy terus saja membujuk Papi Endrik seraya mengejarnya dan terus berucap dengan kata-kata manisnya.


"Maaf, mi. Kali ini nggak bisa, karena uang ini benar-benar buat modal usaha. Jika nggak bagaimana kelak buat menebus mobil yang sedang di gadaikan. Tiap bulan kan harus rutin dan tidak boleh telat membayar angsuran. Jika telat mobil melayang, kita akan bingung kalau nggak punya transportasi," Papi Endrik menjelaskan secara detail dengan berharap Mami Cindy bisa memahaminya.


"Papi bodo, harusnya saat menggadaikan mobil pakailah nama Fanie. Biar dia yang bayarnya. Jika perlu tak usah di angsur, bukankah kepemilikan mobil atas nama Fanie. Pasti kelak Fanie yang akan di kejar pihak pegadaian untuk membayar hutang," ucap Mami Cindy.


"Kamu nggak mikir, pengajuan apa pun kan memakai bukti sebuah tanda tangan. Nggak seenaknya sendiri. Kalau ingin Fanie yang bertanggung jawab ya harusnya ada bukti tanda tangannya Fanie," kata Papi Endrik lekas membaringkan badan setelah terlebih dulu menyimpa uangnya di brangkas.


"Oh iya iya,pi. Ya maaf mami kurang paham," Mami Cindy merasa malu.


"Yang bodoh siapa?ini namanya orang bodoh tapi sok ngaku pinter," sindir Papi Endrik kemudian memejamkan matanya.


****


Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sudah sebulan berlalu. Usaha expedisi milik Papi Endrik maju pesat.


"Luar biasa, usaha baruku yang dirintis satu bulan ini berjalan lancar bahkan berkembang pesat. Sehingga aku bisa membayar angsuran pada pegadaian. Ini saatnya aku menerima uang investasi," batin Papi Endrik sumringah.


Papi Endrik langsung menelpon temannya.


"Loh, kok nomor ponselnya nggak aktif ya." gerutunya seraya terus mencoba menelpon temannya.

__ADS_1


"Lebih baik, aku datangi saja rumahnya " Papi Endrik lekas melangkah menuju mobil dan segera melajukan menuju rumah teman yang mendirikan investasi.


Hanya beberapa menit, telah sampai di rumah temannya. Namun rumahnya sepi, bagaikan tak berpenghuni.


" To tok tok, permisi." Papi Endrik mencoba mengetuk pintu rumah temannya.


Namun tak ada jawaban dari dalam rumah tersebut, sampai Papi Endrik mengulang ketukannya berkali-kali. Namun tetap saja tidak ada jawaban sama sekali.


"Maaf, anda mencari orang yang kontrak di rumah ini?" tanya sang ibu tetangga di rumah tersebut.


"Kontrak, bukannya ini rumah pribadi teman saya?" Papi Endrik di buat bingung oleh ucapan ibu tersebut.


"Ini bukan rumahnya, tapi dia kontrak pada saya. Malah sudah tiga bulan tidak bayar, begitu saya kemari sudah tidak ada orangnya. Pergi begitu saja nggak pamit dan nggak membayar hutan pada saya sama sekali." kata sang ibu mendengus kesal.


"Hem, berarti aku telah di tipu olehnya, bilangnya ini rumah pribadinya. Malah hanya rumah kontrakan," kata Papi Endrik.


"Oh iya, pak. Kemarin juga ada beberapa orang mencari dia. Katanya tertipu olehnya yang menawarkan sebuah investasi yang ternyata investasi bodong," kata sang ibu.


"Investasi bodong bagaimana, bu?" Papi Endrik merasa penasaran.


"Serius bu," Papi Endrik masih saja tidak percaya.


"Iya, pak. Untuk apa saya berbohong pada anda. Uang saya hilang satu milyar juga uang kontrakan dia yang tiga bulan tidak bayar," sang ibu menghela napas panjang.


"Terima kasih informasinya, bu. Kalau begitu saya permisi." Papi Endrik tersenyum kecil seraya melangkah pergi.


"Aduh, uangku seratus juta hilang begitu saja. Betapa bodohnya aku, percaya dengan ucapannya begitu saja," gerutunya sambil terus berjalan menuju mobilnya.


"Bagaimana aku beralasan pada Cindy, pasti dia akan semakin mengejekku karena kebodohanku ini," gerutunya kembali.


Selama dalam perjalanan pulang, Papi Endrik terus saja menggerutu mengumpat temannya seraya terus saja sesekali memukul kemudinya.


Sesekali pula merutuki kebodohan dirinya sendiri. Setelah sampai di rumah, langsung saja Mami Cindy bertanya banyak hal pada dirinya mengenai uang dari hasil investasi.


Papi Endrik tak bisa berkata apa pun, dia binguna harus bagaimana.

__ADS_1


"Pi, mana hasil uang investasi? mami kan ingin melihatnya," Mami Cindy penasaran.


"Pi, kok diam? mana uang dari hasil investasinya," kembali lagi Mami Cindy bertanya.


"Kena tipu, mi. Ternyata investasi yang didirikan temanku adalah investasi bodong. Papi udah ke rumahnya nggak ada, ternyata rumahnya juga bukan miliknya melainkan rumah kontrakan " Papi Endrik tertunduk lesu.


"Terus, maksud papi uang seratus juta hilang begitu saja?" Mami Cindy terus saja bertanya.


"Iya, mi." jawabnya singkat.


Mami Cindy tak lagi berkata, tapi malah meninggalkan Papi Endrik sendirian duduk di teras rumah.


Tak berapa lama, Mami Cindy telah muncul kembali namun mengenakan sepatu dan tas slempang.


"Mami mau kemana?" Papi Endrik menatap heran pada istrinya.


"Refresing, pi. Suntuk di rumah terus." Jawabnya seraya berlalu pergi begitu saja.


Papi Endrik tak berani berkata apa pun lagi, dia hanya bisa menghela napas panjang saat melihat kepergian istrinya.


Dia tidak merasa curiga sedikit pun, jika kepergian istrinya adalah untuk menemui selingkuhannya.


"Dari pada aku di rumah pusing mikirin punya suami yang sangat bodoh gampang di bohongi orang, lebih baik aku bersenang-senang dengan pacarku yang selalu mampu membuatku bahagia dan tersenyum setiap waktu," batin Mami Cindy.


Saat ini dirinya telah merasakan indahnya berpacaran, tanpa memikirkan sebab dan akibatnya jika suatu saat perselingkuhannya terbongkar baik oleh suaminya atau oleh istri selingkuhannya.


Mami Cindy tidak sadar diri, jika dirinya telah memiliki anak yang telah dewasa. Dia selalu saja merasa masih muda, hingga yang ada di pikirannya hanya selalu ingin bersenang-senang setiap hari.


Mami Cindy pergi hingga larut malam tak jua pulang. Sampai Papi Endrik berkali-kali menelponnya namun ponselnya malah tidak aktif sama sekali.


"Sebenarnya kemana perginya Cindy, semua temannya sudah aku hubungi tapi tidak ada yang tahu," gerutu Papi Endrik mendengus kesal.


*********


Mohon dukungan like,vote,favoritnya

__ADS_1


__ADS_2