Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Sadar


__ADS_3

"Mey, tolong bantu aku ke kamar. Hari ini aku libur ngantor, badan lemas sekali." Alex berkata lirih.


"Baik, sayang. Yuk kita kekamar, pelan-pelan saja bangunnya." Meymey membantu Alex bangkit dari kursi, dia merangkul Alex dan membawanya ke kamar.


Di baringkannya tubuh Alex di pembaringan.


"Istirahatlah, mas. Ntar siang kalau waktunya makan siang, aku bangunkan." Meymey menyelimuti tubuh Alex.


Meymey lekas keluar dari kamar, dengan senyuman menyeringai sinis. Dia sangat puas karena perlahan-lahan rencananya telah berhasil.


"Reaksinya racunnya berjalan sesuai dengan harapanku, sedikit demi sedikit tubuh si tua bangka mulai melemah. Dan sebentar lagi, dia pasti tergeletak tak berdaya," Meymey tersenyum bahagia.


Meymey melangkah ke dapur dengan membawa cangkir bekas minuman Alex.


"Aku harus segera mencucinya, supaya tidak ada yang curiga. Dan supaya tidak terbongkar ide brilianku hhii ide licikku," batin Meymey seraya mencuci cangkir tersebut.


Sementara Alex malah tidak bisa tidur, tiba-tiba kepalanya pusing.


"Mey, cepat kemari." Teriaknya memanggil Meymey.


"Iya, sebentar." Meymey berlari kecil menuju kamar.


"Ih, apa lagi sih yang dia mau! pikirku sudah tidur nih tua bangka, malah masih melek," batin Meymey geram.


"Ada apa, mas?" Meymey tersenyum menghampiri Alex.


"Kepalaku sakit sekali, kamu bisa hubungi dokter kita? supaya kemari untuk memeriksaku?" kata Alex lirih.


"Baiklah, mas." Meymey melangkah ke ruang tengah.


"Hem, enak saja mau di periksa dokter. Yang ada ntar rencanaku berantakan," batin Meymey.


Dia berpura-pura menelpon dokter pribadi Alex, dan berpura-pura juga jika dokter sedang tidak ada di rumahnya dan sedang tugas di luar kota.


Setelah itu, Meymey kembali lagi ke kamar.


"Mas, barusan aku telpon katanya saat ini dokter sedang tidak di tempatnya. Tapi sedang tugas di luar kota," Meymey pura-pura bersedih.

__ADS_1


"Bagaimana kalau untuk sementara aku belikan obat warung dulu, atau obat sakit kepala di apotik?" Meymey menawarkan diri.


"Ya sudah, cepat sana. Kamu minta tolong sama bibi saja, supaya ada yang menemani aku." Alex merintih kesakitan.


"Baiklah, mas." Meymey mengambil uang, dan berlalu pergi ke paviliun belakang untuk memerintah asisten rumah tangganya membeli obat sakit kepala.


Setelah itu Meymey kembali lagi ke kamar.


"Hem, merepotkan sekali. Tapi nggak apa-apa, hanya untuk sementara," batinnya seraya menghela napas panjang.


Meymey berpura-pura memijiti kepala Alex yang sakit, walaupun sebenarnya dia sangat enggan.


Tak berapa lama kemudian, datanglah asisten rumah tangga dengan membawa obat sakit kepala.


"Mas, lekas di minum obat ini. Supaya reda sakit kepalamu," Meymey memberikan obat dan air putih pada Alex.


Segera Alex meminum obat pemberian dari Meymey. Barulah dia bisa memejamkan matanya.


Meymey lekas keluar dari kamar tersebut dan bersantai ria di ruang tengah.


"Suntuk juga di rumah nggak ngerjain apa-apa, mending aku pergi jalan-jalan saja." Meymey bangkit dari duduknya.


Meymey merasa lega setelah bisa keluar dari apartement. Dia melajukan mobilnya ke suatu tempat perbelanjaan. Dan berbelanja sesuai yang dia inginkan.


"Coba Meylan ada bersamaku, pasti seru. Sebaiknya aku jenguk Meylan saja. Sekalian pengen tahu kabarnya." Meymey menjalankan mobilnya ke lapas di mana saat ini Meylan di penjara.


Meymey melajukan mobilnya menuju ke lapas dimana saat ini Meylan di tahan. Hanya beberapa menit saja, Meylan telah sampai di lapas.


"Lan, bagaimana kondisimu? aku bawakan makanan kesukaanmu." Meymey memberikan makanan tersebut pada Meylan.


"Yah, kondisiku seperti yang kamu lihat ini. Semakin hari aku semakin kurus dan tubuhku tak terawat." Meylan menghela napas panjang.


"Kamu itu lucu, Lan. Bagaimana bisa kamu merawat tubuhmu karena saat ini kamu di dalam penjara," Meymey terkekeh.


"Nasibku tragis di sini, berbeda dengan nasibmu yang bergelimang harta. Aku juga heran, dulu mami sering jenguk kemari. Tapi sudah lama mami nggak kemari, mungkin sudah melupakanku seperti papi." Meylan tertunduk lesu.


"Memangnya tidak ada yang memberi tahumu, jika mami kan di penjara sudah beberapa bulan ini." Kata Meymey.

__ADS_1


"Siapa yang akan memberi tahuku, papi saja nggak pernah kemari. Hanya Fanie yang kemari tapi aku usir, itu beberapa bulan yang lalu," Meylan lesu.


Meymey berbicara bercerita panjang lebar tentang semua peristiwa yang terjadi dimana Mami Cindy melakukan kejahatan dengan menukar bayi orang dengan bayi dia yang telah meninggal.


"Jadi, bayimu telah meninggal? aku tahu niat mami itu baik, jika kamu tahu bayimu meninggal pasti kamu syok. Makanya mami melakukan hal senekad itu tanpa berpikir akibatnya," Meylan menghela napas panjang.


"Apa kamu sudah menjenguk Mami?" tanya Meylan menyelidik.


Meymey hanya geleng-geleng kepala tak berkata sepatahpun.


"Mey, sebaiknya sesekali kamu jenguk mami. Kasihan mami, yang dia lakukan juga untuk kebaikanmu. Mami berkorban demi kamu, Mey. Mami pasti sedih karena kamu mengabaikannya, jangan sampai kamu menyesal sepertiku." Meylan mencoba menasehati Meymey.


"Sudahlah, aku pulang saja. Aku kemari karena kangen dan ingin melihat kondisimu, tapi kamu malah mrnceramahi aku ." Meymey bangkit dari duduknya dan meninggalkan Meymey begitu saja.


Sementara Meylan sama sekali tak mencegahnya, dia hanya menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala.


"Kelak kamu pasti menyadari kesalahanmu pada mami, seperti yang saat ini sedang aku rasakan," Meylan melangkah bangkit kembali ke dalam sel.


"Di jenguk malah ceramah, sok suci sok menasehati." Meymey berjalan menuju ke mobilnya seraya mendengus kesal.


Selama mengemudi, dia terus saja terngiang ucapan Meylan.


"Sebenarnya apa yang Meylan katakan ada benarnya, aku terlalu egois dan kejam pada mami. Padahal mami masuk penjara juga karena aku, demi aku. Tapi aku malah mengabaikannya, sama sekali tidak peduli padanya dan bahkan tidak pernah jenguk mami di dalam tahanan." Mata Meymey berkaca-kaca seraya terus mengemudikan mobilnya.


Meymey melajukan mobil ke lapas dimana Mami Cindy saat ini di tahan.


"Mami, Mey minta maaf." Meymey memeluk tubuh Cindy seraya terisak dalam tangisnya.


"Nak, sudahlah. Kamu nggak salah kok minta maaf." Cindy mengusap punggung Meymey supaya tak terus menangis.


"Mami, Mey punya banyak salah dan dosa pada mami. Tak bisa Mey sebutkan satu persatu karena dosaku banyak." Meymey merenggangkan pelukannya seraya tertunduk lesu.


"Sudahlah, Mey. Semua orang pasti punya salah dan dosa. Karena kita tempatnya salah dan dosa." Cindy mengusap air mata Meylan.


"Mami sangat senang, karena sekian lama nggak bertemu kamu. Kini bisa bertemu, kamu sehat saja kan?" Mami Cindye mengusap bahu Meymey.


"Harusnya Mey yang tanya seperti itu, apakah mami sehat selalu disini?"

__ADS_1


*******


Mohon dukungan like,vote,fav..


__ADS_2