
Hari berganti hari, kondisi kesehatan Alex semakin memburuk. Dia bagaikan seorang tua renta yang sudah tak berdaya.
Tergolek lemah tubuhnya di pembaringan, padahal usianya terbilang seusia Papi Endrik. Belum begitu tua.
Tangan dan kakinya sudah tak bisa di gerakkan, hanya mulutnya saja yang masih bisa berbicara dengan normal.
"Mey, buruan kemari." Teriak Alex.
"Iya, mas. Ada apa?" Meymey tersengal-sengal berlari menghampiri Alex di pembaringan.
"Mey, bagaimana urusan kantor. Apa ada hal yang penting, lancar atau ada masalah?" Alex berkata lirih.
"Kantor berjalan dengan baik, tidak ada masalah apapun. Maaf semalam mau laporan kamu sudah tidur." Jawab Meymey sekenanya.
Sejak Alex tergolek lemah, Meymey yang mengurus kantor menggantikan Alex .
"Oh, iya syukur. Mey, tolong hubungi dokter pribadiku supaya kemari. Masa lama sekali keluar kotanya nggak pulang-pulang?" Alex memerintah Meymey.
"Ya ampun, mas. Kalau nggak percaya telpon sendiri, sudah dulu aku mau ke kantor. Kalau butuh apa-apa kan aku sudah bayar perawat untuk membantu segala kebutuhanmu." Meymey melangkah pergi begitu saja.
Seperginya Meymey, perawat pribadi Alex menghampiri.
"Tuan, sarapan dulu ya." Entin menyuapi Alex dengan sangat pelan.
"Mba, aku ingin minta tolong. Telponin dokter pribadiku sebentar untuk datang kemari," Alex berkata lirih.
Entin meraih ponsel Alex.
"Siapa nama dokternya, Tuan?"
"Cari saja nama Dokter Raka," Jawab Alex lirih.
Segera Entin mencari kontak nomor Dokter Raka, dan segera menelponnya. Setelah tersambung, Entin meletakkan ponsel di telinga kiri Alex.
📱" Hallo, dok. Bagaimana kabar, apakah dokter sudah pulang dari luar kota?"
📱" Hallo juga, Tuan Alex. Saya stand by di klinik kok, nggak ada tugas luar kota."
__ADS_1
📱"Dok, tolong ke rumah sekarang dan periksa saya. Karena kondisi saya sudah tak berdaya, tak bisa bergerak sama sekali."
📱" Baiklah, Tuan Alex. Saya akan segera ke rumah anda."
Setelah itu panggilan telpon di tutup kedua belah pihak. Dokter Raka langsung meluncur ke rumah Alex.
"Hem, berarti ada yang tidak beres dengan Meymey. Dia telah berbohong padaku dengan mengatakan Dokter Raka berada di luar kota," batin Alex.
"Pasti dia juga tidak menelpon Dokter Raka setiap kali aku memerintahnya menelpon dokter," batinnya geram.
"Awas kamu ya, Mey." Batin Alex begitu kesal.
Tak berapa lama kemudian, Dokter Raka telah datang. Dia sempat kaget dan merasa tak percaya saat melihat kondisi Alex.
"Tuan Alex, kenapa kondisi anda seperti ini? kenapa juga anda tidak menghubungi saya?" Dokter Rama segera mengeluarkan alat pemeriksaannya.
"Saya berkali-kali meminta tolong pada istri saya, untuk menghubungi anda. Tapi dia selalu berkata jika anda sedang tugas di luar kota dan belum juga kembali," Jawab Alex lirih.
"Sepertinya ini ada yang nggak beres, Tuan. Saya sama sekali tidak pernah mendapatkan telpon dari istri anda, dan saya kebetulan nggak ada tugas ke luar kota." Ucapnya seraya memeriksa Alex.
"Tuan, sepertinya kita harus ke klinik saya. Supaya anda bisa saya periksa lebih intensif lagi, karena ada yang serius pada tubuh anda." Dokter Raka menyarankan.
Dokter Raka mengangkat tubuh Alex di bantu oleh perawat dan asisten rumah tangganya.
Alex di bawa ke klinik Dokter Raka dengan menggunakan mobil Dokter Raka.
Hanya beberapa menit saja telah sampai di klinik dimana Dokter Raka buka praktek.
Segera para perawat mengambil brankar dan memindahkan tubuh Alex dari mobil Dokter Raka ke brankar.
Dibawanya Alex ke ruang pemeriksaan yang penuh dengan alat-alat kedokteran.
Setelah beberapa menit di periksa, barulah Dokter Raka menemukam sebab musabab kenapa tubuh Alex menjadi lemah.
"Tuan Alex, obat apa yang anda konsumsi selama ini?" tanya dokter penasaran.
"Saya tidak mengkonsumsi obat apapun, dok. Cuma kadang kalau saya sakit kepala, istri saya memberi saya obat warung atau membelinya di apotik." Jawab Alex mengernyitkan alis.
__ADS_1
"Hem, tapi di dalam tubuh anda kini terdapat racun yang sangat berbahaya. Racun ini jika di konsumsi secara sedikit demi sedikit efeknya seperti yang saat ini anda rasakan. Pasti awal mula, anda merasa ngantuk lemas dan lelah. Lambat laun rasa itu berlanjut dan anda semakin tak bisa apa-apa. Tapi jika racun ini di konsumsi langsung dalam jumlah banyak, anda bisa langsung meninggal." Dokter Raka menjelaskan sebegitu detailnya.
"Mungkin ada yang dengan sengaja ingin membuat anda meninggal secara perlahan-lahan sehingga memberikan racun ini secara bertahap pada anda." Kembali lagi dokter ini berkata.
"Coba anda ingat-ingat kembali, apa memang benar anda tidak pernah mengkonsumsi obat?" tanya dokter kembali.
Sejenak Alex mengingat-ingat kembali.
"Tidak ada kok, dok. Hanya beberapa kali minum obat sakit kepala dari warung atau apotik."
"Obat ini sejenis obat tabur, bisa di taburkan dalam makanan atau minuman yang anda komsumsi." Kembali lagi Dokter Raka menjelaskan.
"Saya baru ingat, dok. Setiap saya meminum teh buatkan istri saya, pasti setelah itu sangat mengantuk dan tidur." Kata Alex lirih.
"Bisa jadi, istri anda menaburkan racun dalam teh anda. Mulai sekarang, jika istri anda memberi teh. Jangan anda minum, dan saya minta sample air teh tersebut." Saran dari Dokter Raka.
"Baiklah, dok. Saya juga tidak akan memberitahu pada istri saya jika telah menjalani pengobatan," Alex berkata lirih.
"Itu tindakan yang bagus, Tuan. Tolong semua obat yang saya berikan di minum rutin." Dokter memberikan beberapa obat.
Setelah itu mengantarkan pulang Alex, karena Alex tidak bisa kembali ke rumah sendiri.
Setelah sampai di rumah, Alex mengumpulkan asisten rumah tangga dan perawat untuk di beri nasehat.
"Mba Entin, Bi Inah. Tolong kalian rahasiakan pada istri saya jika saya sedang menjalani perawatan dokter. Dan ingat satu hal, jika nanti istri saya membuatkan saya minum atau makan. Tolong diantara kalian harus segera bertindak cepat, dengan mengganti minuman atau makanan yang baru. Tapi jangan sampai istri saya tahu." Pesan Alex.
"Satu hal, kalau bisa simpan salah satu minuman yang dibuat oleh istri saya, jangan dibuang karena akan di periksa di laboratorium," Pesan Alex kembali.
"Maaf, Tuan besar. Memangnya ada apa ya?" tanya Bi Inah.
"Baiklah, aku akan jujur pada kalian berdua. Menurut dokter saya jadi seperti ini karena di dalam tubuh saya telah tersebesar racun. Dan saya curiga istri saya yang melakukannya." Kata Alex.
"Baiklah, Tuan Besar. Kami berdua akan selalu membantu Tuan." Kata Bi Inah.
"Mba Entin, bisa kan rahasiakan ini dari istri saya? walaupun mba Entin yang bawa kemari adalah istri saya." Alex menatap sendu Entin.
*********
__ADS_1
Mohom dukungan like,vote, favorit.