Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Di Talak


__ADS_3

"Alex, bukannya aku membela kejahatan Mey. Jika tidak ada suatu alasan yang memicunya, dia tidak akan senekad. Aku mohon maafkanlah kesalahan putriku," Endrik memohon memelas pada Alex.


"Alex, kita telah berteman. Setidaknya demi pertemanan kita, aku mohon maafkan kesalahan putrikku. Aku jamin dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," Endrik merelakan dirinya berlutut di hadapan Alex.


"Aku mohon, Lex. Aku sudah kesepian karena istri dan kembaran Meymey di penjara. Aku nggak ingin tambah merana jika Meymey juga harus mengalami nasib yang sama dengan istriku dan anakku yang satunya." Endrik terus berlutut di hadapan Alex.


"Papi, bangun. Untuk apa papi melakukan hal seperti ini!" Meymey mencoba mengangkat tubuh Endrik yang sedang berlutut.


Tapi Endrik enggan untuk bangkit, dia bersikeras untuk terus berlutut di hadapan Alex.


"Aku salut padamu, Endrik. Padahal yang aku lihat dan aku perhatikan, anak-anakmu tidak ada yang perhatian dan peduli padamu sepenuhnya, tapi kamu masih saja memikirkan anakmu," Alex menghela napas panjang.


"Jika kamu mempunyai anak, pasti kamu bisa memahami pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya," kata Endrik.


"Baiklah, aku masih memandang persahabatan kita. Walaupun telah berlalu begitu lama, tapi aku minta maaf. Detik ini juga, aku kembalikan Meymey padamu, aku talak Meymey sekarang juga, hari ini juga." Alex menghela napas panjang.


"Aku minta kamu kemasi barang-barangmu sekarang juga." Perintah Alex menatap pada Meymey.


Meymey bangkit dari duduknya dan lekas ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya.


Sementara Endrik sudah tidak berlutut, dia duduk kembali di sofa.


"Terima kasih, Alex. Kamu telah berbaik hati tidak melaporkan kejahatan Meymey pada polisi. Sekali lagi aku mohon maaf atas kesalahannya." Endrik menangkupkan kedua tangannya pada Alex.


Tak berapa lama, Meymey telah kembali ke ruang tamu dengan membawa koper besarnya. Dia tak mengucap sepatah katapun, hanya diam seribu bahasa.


"Alex, kami pamit pulang. Terima kasih atas semua kebaikanmu pada putriku." Endrik bangkit dari duduknya seraya mengulurkan tangannya pada Alex.


"Sama-sama. Jaga dirimu baik-baik, Endrik." Alex membalad uluran tangan Endrik dengan jabatan tangannya.


Barulah Endrik merangkul Meymey keluar dari rumah Alex. Mereka melangkah menuju mobil Endrik.


Seperginya mereka, Alex menutup pintu rumahnya.


"Untung saja, aku belum memenuhi kemauan Meymey yang menginginkan pernikahan resmi, sehingga aku nggak usah pakai proses panjang untuk bisa berpisah darinya." Batin Alex.

__ADS_1


Alex melangkah ke kamarnya dan segera membersihkan badannya karena telah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor.


Sementara Meymey merasa iba pada Endrik, mengingat apa yang di lakukan Endrik tadi di hadapan Alex. Air matanya tertumpah begitu saja membasahi pipinya.


Sepintas Endrik melirik dari kaca spion sembari tetap mengemudikan mobilnya.


"Nak, kok kamu menangis? apa karena kamu di talak oleh suamimu?" tanyanya penasaran.


" Bukan itu, pi. Aku merasa bersalah sama papi, karena papi harus menurunkan harga diri papi dengan berlutut pada Alex hanya demi diriku," air mata Meymey terus saja berderai.


"Sudahlah, nak. Tak usah kamu bersedih dan mengingat kejadian tadi. Sekarang kamu memikirkan masa depanmu. Papi bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, sekarang papi nggak kesepian lagi karena ada kamu di sisi papi." Endrik menyunggingkan senyum seraya terus fokus mengemudi.


"Iya, pi. Mey janji mulai hari ini nggak akan bertindak ceroboh dan egois. Mey akan memerperbaiki diri Mey supaya menjadi wanita yang baik dan bisa membanggakan papi dan mami." Perlahan Mey menghapus air matanya.


Sejenak mereka diam, masing-masing sibuk dengan lamunannya. Hingga tak terasa telah sampai di apartement.


Endrik dan Meymey segera turun dan masuk dalam apsrtement.


"Nak, istirahatlah dulu, papi juga mau mandi dan rebahan sebentar. Nanti jam 7 malam kita makan di cafe favorit keluarga kita dulu." Endrik lekas melangkah ke kamarnya.


Setelah itu Meymey membersihkan badannya dan merebahkan badannya di pembaringan. Tak terasa matanya terlelap dalam tidur nyenyaknya.


Tak terasa waktu begitu cepat, sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Nak, keluarlah. Ayok kita makan malam bersama." Endrik memanggil Meymey dari balik pintu.


"Iya, pi. Mey sedang berganti pakaian, tunggu sebentar." Jawab Meymey dari dalam kamar.


Tak berapa lama, mereka telah berada di dalam mobil. Endrik melajukan mobilnya ke arah cafe yang dulu menjadi langganan keluarga mereka.


"Pi, Mey jadi kangen sama Meylan dan mami." Meymey melihat sekitar cafe seraya mata berkaca-kaca.


"Sama, nak. Papi juga kangen kebersamaan dengan mami dan Meylan. Begitu banyak permasalahan yang terjadi dalam keluarga kita, hingga keluarga kita terpisah berantakan tak karuan seperti ini." Endrik menghela napas panjang.


Meymey tidak bisa berkata apapun setelah mendengar penuturan dari Endrik. Mey hanya bisa menitikkan air mata.

__ADS_1


Sekilas terbayang saat bersama Meylan dan Cindy di cafe tersebut. Terbayang di saat makan bersama dengan orang tua yang utuh.


"Nak, makanlah. Jangan terlalu banyak melamun." Endrik mengusa lengan Meymey membuatnya terhenyak kaget dalam lamunannya.


"Iya, pi." Meymey lekas menyendok makanannya.


"Pi, bukankah itu Fanie dan Steven." Meymey tak sengaja melihat Fanie dan Steven di meja pojok.


Sementara Steven saat itu sedang berpamitan pada Fanie untuk ke toilet. Steven tak melihat keberadaan Endrik dan Meymey, hanya Fanie yang melihatnya.


"Biarlah, nggak usah melihat ke arah mereka hanya bikin emosi saja." Endrik sempat melirik sinis ke meja dimana ada Fanie dan Steven.


Namun Fanie malah menghampiri Endrik dan Meymey.


"Om, Meymey. Bagaimana kabar kalian?" Fanie mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan Endrik dan Meymey.


Namun baik Endrik maupun Meymey hanya melirik sinis, sama sekali tak menghiraukan keberadaan Fanie.


Sementara, Steven yang telah kembali dari toilet tak mendapati Fanie di kursinya.


"Kemana Fanie, di tinggal ke toilet sebentar sudah nggak ada di kursinya." Steven melihat di sekelilingnya.


Steven melihat Fanie sedang menghampiri Endrik dan Meymey. Dia lekas melangkah ke arah Fanie.


"Bunny, ayuk kita lanjutkan makannya. Kalau sudah dingin nggak akan enak di makan." Steven merangkul Fanie membawanya ke meja makannya.


"Tapi.."


Steven tetap saja memaksa Fanie ikut dengannya tanpa mendengarkan apa yang di katakan oleh Fanie.


"Duduklah, dan jangan pergi lagi. Sudah aku bilang berapa kali, nggak usah kamu dekati mereka. Hanya akan membuatmu sakit hati saja," Steven mencoba menasehati Fanie.


"Maafkan aku, hunny. Aku tak bisa membenci mereka, bagaimanapun mereka masih keluargaku." Fanie menghela napas panjang seraya matanya terus menatap ke arah Endrik dan Meymey.


*****

__ADS_1


Mohon maaf jika karya masih remahan rengginang๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2