Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Gelisah


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan dari Reynold, Meymey sejenak terdiam.


"Ya Tuhan, apa benar Rey serius denganku? aku khawatir rasa cintanya padaku hanyalah sesaat. Karena aku nggak inging gagal kembali dalam membina mahligai pernikahan." Batin Meymey.


"Mey, katakan saja apa yang ingin kau katakan. Sepahit apapun keputusanmu, aku akn terima." Reynold sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari Meymey.


"Rey, aku nggak bisa jawab sekarang. Bolehkan aku meminta sedikit waktu darimu. Aku akan memberikan jawaban yang pasti malam minggu mendatang." Meymey menghela napas panjang.


"Baiklah, Mey. Aku akan menunggumu sampai sabtu mendatang." Reynold tersenyum.


"Terima kasih ya, Rey." Meymey sedikit bisa bernapas lega.


"Iya sama-sama." Reynold kembali menyunggingkan senyum.


Mereka lekas kembali, terlebih dulu Reynold mengantar Meymey pulang. Sesampainya di rumah, Meymey mencari keberadaan orang tuanya.


"Pi, mi. Bisa nggak kita bicara sebentar, Mey sedang bingung ingin minta pendapat dari kalian." Meymey berkata pada orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Duduklah, cerita saja. Kami pasti akan memberikan saran yang terbaik untukmu." Kata Endrik.


Meymey duduk di samping orang tuanya. Dan dia mulai bercerita tentang semua yang di katakan oleh Reynold barusan.


"Nak, kami tidak bisa memberi keputusan apakah kamu harus menerima ataukah harus menolak."


"Putuskanlah sesuia dengan kata hatimu, karena kelak yang akan menjalani biduk rumah tangga adalah kamu."


"Kamu juga yang lebih tahu bagaimana sifat dan watak Reynold. Kamu juga yang bisa merasakan nyaman tidaknya dirimu saat bersamanya."


"Intinya, kami sebagai orang tua tidak akan melarang hubunganmu dengan pria pilihanmu. Kami akan selalu merestui dan mendoakanmu."


Demikian perkataan panjang lebar dari Endrik.


"Baiklah, Meymey akan menuruti kata hati ini." Ucapnya singkat.


"Hem, boleh dong mami kepo? kira-kira jawaban apa yang akan kamu berikan pada Reynold kelak?" Cindy menaik turunkan alisnya.


"Rahasia dong, kelak pasti mami dan papi tahu." Meymey sumringah seraya bangkit dari duduknya melangkah ke kamar.


"Pi, sepertinya Mey telah menemukan pendamping hidupnya." Cindy tertawa sumringah.


"Iya, mi. Semoga kali ini benar-benar langgeng." Kata Endrik.


Sementara Meymey sedang gelisah di kamarnya, dia masih belum berani untuk memutuskan.

__ADS_1


"Sebaiknya aku minta pendapat dari Ka Fanie, dia aka sangat bijaksana dalam setiap mengambil keputusan." Batin Meymey seraya merebahkan badannya di pembaringan.


Hingga tak terasa Meymey telah tertidur pulas hingga pagi menjelang barulah bangun.


"Ya ampun, ternyata semalam aku ketiduran. Bahkan hingga pagi hari." Meymey bangkit dari pembaringan.


Dia langsung melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi paginya. Dia telah berencana akan bermain ke rumah Fanie, pagi-pagi sekali.


"Segar rasanya mandi di pagi hari seperti ini, walaupun terasa dingin tapi sejuk." Batinnya seraya bersiap-siap berpakaian.


Setelah itu, Mey tak lupa berdandan kemudian melangkah ke luar kamar.


"Mey, pagi sekali kamu sudah rapi dan wangi? memangnya mau kemana?" Cindy yang sedang melintas bertanya.


"Mau ketemu baby cubby dong, mi." Jawab Meymey sangat antusias.


"Wah, mau kerumah si kembar. Mami ikut dong." Cindy menatap Meymey seraya menaik turunkan alisnya.


"Ayok, buruan mami mandi dan siap-siap. Sekalian saja tawarin papi, siapa tahu ikut juga." Kata Meymey.


Cindy berlari kecil ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi paginya. Sementara Endrik yang baru membuka matanya mengerutkan alis melihat Cindy terburu-buru ke kamar mandi.


"Mi, kamu kok buru-buru seperti mau pergi saja?" teriak Endrik yang masih berbaring di pembaringan.


"Jelas ikut dong, papi nggak mau di rumah sendirian." Endrik beranjak bangun dari pembaringan.


"Buruan, mi. Papi juga mau mandi, ntar malah papi ditinggal kalian kalau kelamaan." Endrik khawatir di tinggal oleh Cindy dan Meylan.


"Tenang, pi. Kami nggak akan pergi begitu saja. Pasti kami nungguin, papi." Jawab Cindy di balik pintu kamar mandi.


Tak berapa lama, Cindy selesai juga melakukan ritual mandi paginya. Endrik langasung masuk kamar mandi


Sementara Cindy berpakaian dan bersolek.


Setelah siap semua, segera mereka berangkat menuju rumah Fanie atau Stephanie.


Tak berapa lama mereka telah sampai, kebetulan si kembar sedang berada di halaman bersama para baby sitter.


"Hallo cucu, oma." Cindy menggendong Abrina.


"Hallo cucu, opa." Endrik menggendong Andre.


Sementara Meymey mencari keberadaan grandma dan Fanie yang ternyata sedang berada di dapur.

__ADS_1


"Hey, Mey. Tumben pagi sekali kamu kemari?" tanya Fanie seraya asik mengolah bahan masakan di hadapannya.


"Iya, cu. Kamu sendirian?" tanya grandma.


"Nggak kok, grandma. Aku bareng sama papi dan mami. Mereka sedang di halaman bermain bersama si kembar.


"Mey boleh bantu nggak?" tanya Meymey ingin membantu memasak.


"Boleh, malah kami senang jadi tambah seru tambah ramai. Ada dua bibi, kamu, grandma dan aku. Memasak jadi cepat selesai." Fanie terkekeh.


Memasak menjadi ramai dan sesekali bercanda ria.


Hingga 1 jam berlalu, semua hidangan telah siap di meja makan. Segera mereka sarapan ramai-ramai.


Dari orang tua Steven dan Steven, orang tuan Fanie dan Fanie, serta Meymey dan grandma.


30 menit kemudian, masing-masing ngobrol sendiri-sendiri. Orang tuan Steven bercengkrama dengan orang tua Fanie. Sedang grandma dan Steven bermain dengan si kembar.


Kini saatnya Meymey bercerita pada Fanie tentang kegelisahan yang saat ini bersemayam di dalam hatinya.


"Ka, ada yang ingin aku ceritakan padamu." Meymey menghela napas panjang.


"Cerita saja, aku akan menjadi pendengar setiamu." Goda Fanie terkekeh.


Meymey bercerita tentang Reynold yang mengajaknya menikah. Namun Meymey bingung dalam mengambil sebuah keputusan. Kegagalannya yang membuatnya benar-benar trauma.


"Mey, jika kamu telah yakin dengan Reynold. Mantapkan hatimu untuk membina rumah tangga bersamanya."


"Kamu jangan terus menoleh kebelakang, mengingat semua masa lalumu. Ingatlah akan selalu ada pelangi setelah turun hujan."


"Namun jika kamu tidak yakin, berilah keputusan yang tepat. Kamu jangan memaksa menerima jika ternyata kamu tak ada rasa padanya. Dan jika akan menolak, aturlah supaya tidak menyakiti hati Reynold."


"Berdoalah pada Tuhan, jika dia baik dekatkan. Dan jika dia buruk jauhkan. Itulah doa yang tepat di saat seperti ini kamu sedang gelisah dan takut salah ambil keputusan."


"Hanya itu saja yang kakak bisa sampaikan padamu. Pada dasarnya yang tahu sifat dan pribafi Reynol adalah dirimu yang setiap saat berada di sampingnya."


Demikian panjang lebar, Fanie memberi nasehat serta saran buat Meymey.


"Terima kasih, kak. Aku sekarang lega sudah tidak bingung lagi." Meymey memeluk Fanie.


*********


Mohon maaf jika karya belum sesuai dengan keingina para readers, dan maaf jika pueby belum ok dan typo beterbangan🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2