
"Bunny, kamu kenapa termenung?" Steven memeluk Fanie dari belakang seraya mencium tengkuk leher Fanie.
"Entah mengapa aku kepikiran sama Mami Cindy, rasa hatiku gelisah sekali." Fanie menghela napas panjang.
"Bagaimana kalau kita besuk saja kerumah Mami Cindy, supaya kamu tenang jika sudah tahu kabar tentang mami." Steven memberi saran
"Serius, hunny?" Fanie membalikkan badan sehingga kini berhadapan dengan Steven.
"Hem, apa selama ini aku pernah berbohong padamu?" Steven mencolek hidung Fanie.
"Yuk, kita sekarang saja ke rumah mami." Steven merangkul Fanie membawanya melangkah meninggalkan balkon.
Fanie dan Steven berganti pakaian dan setelah itu mereka melangkah keluar dari kamar.
Segera Steven melajukan mobilnya ke apartement dimana Mami Cindy dan Papi Endrik tinggal.
"Kok sepi banget ya, bunny?" Steven mengamati apartement.
"Sebaiknya kita turun saja, hunny." Fanie bergegas keluar dari mobil di ikuti oleh Steven.
Mereka melangkah berdampingan menuju ke apartement. Namun saat bel pintu di pencet, tidak ada satupun yang keluar dari dalam rumah untuk membukakan pintu.
"Kok nggak ada orang ya, hunny." Fanie celingukan.
Dan tak sengaja Fanie melihat ada orang melintas lewat.
"Ibu, tunggu sebentar." Fanie berlari menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Eh, Non Fanie. Mau tanya pemilik apartement?" tanya wanita paruh baya.
"Iya, bu. Apa ibu tahu keberadaan pemilik apartemen?" tanya Fanie tersenyum ramah.
"Jadi Non Fanie belum tahu? Meylan kan di penjara karena kasus narkoba, dia jadi bandar narkoba. Sedang Meymey ikut suaminya. Mami Cindy juga di penjara karena kasus penukaran bayi." Kata wanita paruh baya tersebut.
"Di penjara, penukaran bayi maksudnya bagaimana?" Fanie semakin penasaran.
"Saat Meymey melahirkan, bayinya meninggal. Mami Cindy menukar dengan bayi orang lain yang masih hidup," Wanita paruh tersebut berkata kembali.
Belum juga Fanie mengucap terima kasih, wanita paruh baya tersebut pamit pulang.
"Maaf, Non Fanie. Saya pulang ya, karena lagi masak." Wanita paruh baya tersebut berlari kecil pulang ke rumah yang letaknya bersebelahan dengan apartement.
__ADS_1
Fanie hanya menyunggingkan senyum saat melihat wanita paruh baya tersebut berlari-lari.
"Yuk kita jenguk Mami Cindy ke lapas." Steven merangkul Fanie mengajaknya masuk dalam mobil.
"Ya, Tuhan. Ternyata selama ini telah terjadi berbagai masalah di kehidupan keluargaku," tak terasa air mata Fanie tercurah begitu saja.
"Bunny, janganlah terlalu bersedih. Mungkin ini semua teguran dari Tuhan untuk orang tuamu dan adik kembarmu," Steven mengusap air mata Fanie.
Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju ke lapas dimana saat ini Mami Cindy menjalani masa hukumannya.
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di lapas tersebut. Hati Fanie hancur saat melihat kondisi Mami Cindy.
"Untuk apa kamu kemari! ingin menertawakan kondisiku, dasar gadis tak jelas asal usulnya!" tiba-tiba Mami Cindy membentak Fanie saat melihat kedatangan Fanie.
"Mami, aku hanya ingin menjenguk dan melihat kondisi Mami," Fanie menatap sendu Mami Cindy.
"Heh, siapa kamu! dengan seenaknya memanggilku mami, aku bukan siapa-siapamu!" Kata Mami Cindy dengan nada tinggi.
"Maaf, tante. Karena selama ini aku sudah menganggap tante seperti ibuku sendiri jadi tadi aku keceplosan," Fanie mencoba menahan air matanya supaya tidak tertumpah.
"Ih, siapa sudi punya anak sepertimu! pergi kamu dari sini, dan aku harap kamu nggak perlu datang lagi kemari. Aku nggak butuh belas kasihmu!" Mami Cindy menatap sinis Fanie.
Fanie pergi dari lapas dengan rasa sangat kecewa karena kedatanganya di tolak mentah-mentah oleh Mami Cindy.
Kini Fanie mengajak Steven menjenguk Meylan di lapas lain.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di lapas dimana Meylan saat ini menjalani masa hukumannya.
"Meylan, bagaimana kabarmu?" Fanie menyapa Meylan.
Meylan menoleh untuk mengetahui siapa yang telah datang menjenguknya. Meylan sempat kaget melihat kedatangan Fanie.
"Heh, ngapain kamu datang kemari? senang melihat kondisiku seperti ini!" Meylan melotot pada Fanie.
Belum juga Fanie berkata kembali, dia telah di usir oleh Meylan.
"Pergi kamu dari sini, aku nggak butuh belas kasihan darimu! simpan saja rasa ibamu untuk orang lain! cepat pergi, karena aku mau muntah jika melihatmu!" Meylsn terus saja mengusir Fanie.
"Bunny, sebaiknya kita pergi saja. Percuma kita berlama-lama di sini." Steven membalikkan badan Fanie dan merangkulnya membawanya pergi dari hadapan Meylan.
Kembali lagi Fanie menitikkan air matanya. Dia sudah tak bisa membendungnya lagi. Hingga tangisnya terisak di dalam mobil.
__ADS_1
"Bunny, sebaiknya kita pulang saja. Nggak usah melanjutkan ke apartement Meymey. Pasti di sana kamu juga akan kecewa, aku nggak rela jika kamu tersakiti terus," Steven menahan geram terhadap ulah Cindy dan Meylan yang tak tahu terima kasih. Sudah di jenguk malah mengumpat, menghina dan berkata kasar.
"Nggak, hunny. Kita akan tetap ke apartement Meymey, semoga saja sifat Meymey telah berubah." Fanie berkeras hati ingin bertemu Meymey.
Steven tak bisa berbuat apa-apa lagi, hingga dia menuruti kemauan Fanie.
Steven melajukan mobilnya menuju ke apartement dimana saat ini Meymey tinggal bersama Alex.
"Kalian siapa?" Alex penasaran saat melihat kedatangan Fanie dan Steven.
"Kami saudara Meymey, kami ingin bertemu dengannya," jawab Fanie.
"Saudara? tapi selama ini Meymey bilang saudaranya hanya Meylan saja. Nggak ada saudara yang lain," Alex merasa tidak percaya.
"Tolong pertemukan saya dengan Meymey, tolong ijinkanlah, walaupun hanya sebentar saja." Fanie memohon membuat Alex merasa iba dan mengijinkannya bertemu dengan Meymey.
Namun Fanie harus menelan rasa pahit dan kekecewaan kembali, karena Meymey juga tak menerima kedatangan Fanie.
"Eh, ngapain kamu kemari? kita saudara bukan apa-apa bukan?" Meymey melotot seraya berkacak pinggang.
"Mey, aku sudah anggap kamu adikku sendiri. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja, nggak ada maksud lain." Fanie mencoba tersenyum.
"Ckckckck..adik? siapa sudi jadi adikmu yang tak jelas asal usul keluargamu," Meymey mengejek.
"Cukup ya, Mey! kamu jangan hina istriku!" Steven nggak terima dirinya mendengus kesal seraya mengepalkan tinju.
"Pergi sana, aku nggak sudi melihat kalian. Dan aku harap, ini yang terakhir kalinya aku melihat kalian berdua!" Meymey berlalu pergi meninggalkan Steven dan Fanie.
"Bunny, sebaiknya kita pulang saja." Steven merangkul Fanie seraya tersenyum.
Fanie hanya bisa menitikkan air mata kembali seraya menghela napas panjang.
Seperginya Fanie, Alex menghampiri Meymey.
"Wanita cantik tadi memangnya bukan saudaramu, Mey?" Alex penasaran.
"Kamu naksir ya, mas?" Meymey melirik sinis.
"Iya juga sih, sayangnya sudah bersuami. Kalau belum pasti aku kejar dia," Alex melirik sinis pada Meymey.
"Ih, tega kamu ya! bicara seperti ini padaku!" Meymey melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
******
mohon dukungan like,vote, favorit..