
Hujan yang sangat deras dan suasana yang mencekam di tengah malam membuat Meylan dan Meymey tak bisa memejamkan matanya.
"Mey, kamu bisa tidur nggak?" bisik Meylan mencolek punggung Meymey yang sedang berada di depan kemudinya.
"Bagaimana bisa aku tidur di dalam mobil, apa lagi suasana sangat menyeramkan seperti ini," kata Meymey lirih.
"Lihat tuh, papi kok bisa tidur sepulas itu." Meylan melirik ke arah Papi Endrik yang telah tidur pulas.
Bukannya hujan mereda, malah semakin deras saja di sertai bunyi petir yang sangat menggelegar.
Hingga pagi menjelang pukul lima, hujan sudah mulai reda. Meymey membangunkan Papi Endrik untuk memegang kemudi, karena dia dan Meylan sama sekali tak bisa tidur.
"Pi, bangun dong. Buruan kita pulang, entar ketahuan warga bagaimana," Meymey mengguncang tubuh Papi Endrik hingga terlonjak kaget.
"Ih, sebentar lagi. Papi masih ngantuk banget." Papi Endrik cuma menguap lalu tidur lagi.
Sikap Papi Endrik membuat si kembar emosi, karena waktu perlahan mulai siang saja.
Meylan ikut membantu membangunkan Papi Endrik dengan berteriak jika ada kebakaran.
"Kebakaran! kebakaran!"
"Mana kebakaran, cepat siram pakai air!" Papi Endrik bangun melihat sekiling dan mengerjapkan matanya.
"Loh, mana kebakarannya?" Papi Endrik seperti orang linglung kebingungan tengok kanan dan kiri.
"Bisa-bisanya papi tidur nyenyak di saat genting seperti ini, sudah jam lima lebih. Keburu ada banyak orang berlalu lalang di jalan ini." Meylan menghardiknya.
"Kami berdua ketakutan semalaman nggak bisa tidur, makanya membangunkan papi supaya bergantian mengemudi!" hardik Meymey.
Papi Endrik hanya menghela napas panjang kemudian pindah ke jok depan kemudi bergantian dengan Meymey.
Langsung saja Papi Endrik melajukannya dengan santai menuju arah pulang. Sementara Meymey dan Meylan yang kini tertidur pulas di dalam mobil.
Hanya beberapa menit sampailah di apartement, Papi Endrik sengaja tak membangunkan si kembar.
__ADS_1
Dia melenggang masuk rumah dan lekas masuk kamar untuk melanjutkan tidurnya kembali.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah pukul delapan pagi. Hujan pun telah reda.
Saat beberapa pekerja akan mengurus perkebunan, salah satu terhenyak kaget saat mencium bau aroma bensin yang sangat menyengat juga menemukan jeligen wadah bensin.
"Aku harus melaporkan hal ini pada Nona Fanie." Pekerja tersebut langsung menelpon Fanie.
π±" Selamat pagi, Non Fanie. Maaf mengganggu sebentar.
π±" Pagi juga, Pak Bowo. Ada apa ya?"
π±" Bisakah Non Fanie ke perkebunan di ujung desa, karena di sini ada suatu kejadian aneh."
π±" Kejadian aneh bagaimana maksudnya, Pak Bowo?"
π±" Sebagian perkebunan bau bensin, dan saya juga menemukan jeligen wadah bensin bahkan masih tersisa bensin sedikit."
π±" Baiklah, Pak Bowo. Saya akan segera ke lokasi."
Setelah itu baik Fanie maupun Pak Bowo mematikan ponselnya. Fanie yang kebetulan sedang bersiap-siap akan ke perkebunan, segera berpamitan pada grandma dan grandpa untuk segera ke perkebunan yang ada di ujung batas desa.
Sejak Steven dan Fanie resmi berpacaran, Steven fokus berada di kantor. Hanya sesekali waktu dia berada di perkebunan Fanie.
Tak berapa lama kemudian sampailah Fanie di perkebunan ujung desa.
"Nona Fanie, ini jeligen bensin dan tak tak jauh dari lokasi di temukannya jeligen ini perkebunannya bau sekali bensin. Serta ada korek api di pembatas perkebunan," Pak Bowo menunjukkan jeligennya serta mengajak Fanie ke tanaman yang berbau bensin.
"Padahal kita hari ini akan panen ya, pak? berarti nanti sayuran yang berbau bensin jangan di campur dengan sayuran yang lain," perintah Fanie pada Pak Bowo.
"Baik, Non Fanie. Sepertinya ada yang berniat membakar perkebunan ini, namun karena semalaman hujan lebat jadi orang jahat itu menggagalkan rencananya." Kata Pak Bowo.
"Jangan berprasangka buruk sama orang, Pak Bowo." Fanie mencoba mengingatkan.
"Hee iya maaf, Non Fanie." Katanya singkat.
__ADS_1
Setelah percakapan sejenak, Pak Bowo melanjutkan pekerjaannya memanen sayurannya.
Sementara Fanie membawa jeligen yang masih berisi sedikit bensin untuk di bawa pulang. Di dalam hati Fanie juga ada rasa curiga seperti halnya Pak Bowo.
"Sebenarnya siapakah yang ingin berniat membakar perkebunanku. Mulai hari ini aku harus waspada, jika perlu setiap perkebunan harus ada yang menjaganya. Atau aku pasang saja CCTV," batin Fanie seraya melajukan mobil menuju arah pulang.
"Terima kasih Tuhan, Kau telah menjaga perkebunanku sehingga terhindar dari niat jahat orang. Jika semalam Kau tak menurunkan hujan, pasti perkebunanku sudah terbakar habis tak tersisa," batinnya kembali.
Setelah sampai di rumah, grandpa dan grandma menjadi bertanya-tanya melihat jeligen yang di bawa Fanie.
"Cu, kok kamu pulang bawa jeligen?" grandma mengerutkan alis.
"Ya, grandma. Tadi ada yang melapor yakni salah satu pekerja perkebunan. Kalau di perkebunan di temukan jeligen ini yang masih ada sedikit bensin dan seperempat tanaman yang ada di perkebunan berbau bensin hingga terpaksa ntar di buang," jawab Fanie menghela napas panjang.
"Pasti ada yang berniat jahat, apa mungkin papimu?" grandpa menerkanya.
"Nggak mungkinlah, grandpa. Jangan berprasangka buruk sama papi," Fanie mencoba berpikiran positif.
"Bisa jadi, cu. Karena nggak terima tentang teguran kemarin hingga melakukan hal senekad itu untuk meluapkan emosinya," kata grandpa kembali.
"Dad, sama anak sendiri jangan selalu berprasangka buruk. Seburuk apa pun kelakuan Endrik, belum tentu dia yang berniat membakar perkebunan milik Fanie," grandma mengingatkan.
"Sudahlah, grandma grandpa. Nggak usah di perdebatkan dan di perpanjang lagi. Fanie masih bisa bersyukur, karena perkebunan masih bisa di selamatkan. Rugi sedikit nggak apa-apa," Fanie mencoba tersenyum.
"Puji Tuhan, semua terlindungi karena kamu gadis yang baik. Selalu bersedia membantu orang yang membutuhkan walaupun kadang banyak sekali orang yang nggak kamu kenal, tapi kamu nggak sungkan untuk membantunya," grandma tersenyum.
Sementara di kediaman Papi Endrik, saat ini si kembar baru bangun. Mereka baru tersadar jika masih di dalam mobil. Lekas keduanya keluar dari mobil dan berlari menuju ke kamar mereka masing-masing.
Meylan bergegas mandi untuk segera bertemu teman-temannya. Meymey segera mandi karena ada janji dengan salah satu pacar gelapnya yang seusia Papi Endrik.
Berbeda dengan Papi Endrik yang masih tertidur pulas, berbeda dengan Mami Cindy telah pergi dari rumah satu jam lalu.
Tanpa suami dan anaknya ketahui, selama Papi Endrik miskin ternyata Mami Cindy menjalin hubungan terlarang dengan seorang pengusaha kaya raya yang masih teman baik Papi Endrik.
"Sayang, sampai kapan kita menjalin hubungan seperti ini? apa kamu nggak ada niat untuk menikahiku?" tiba-tiba Mami Cindy merengek manja pada selingkuhannya.
__ADS_1
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€¨π€¨π€¨π€¨π€¨π€
Mohon maaf jika karya remahan rengginang karena tahap belajarππππ