
Setelah mendengar penuturan dari Reynold, Endrik tak langsung merespon mengiyakan. Sejenak dia berpikir.
"Nak Rey, biaya nggak sedikit. Lagipula jika, Nak Rey mampupun sepertinya om nggak mau. Bukan apa-apa, tapi om nggak akan sanggup mengembalikan uang, Nak Rey." Kata Endrik menghela napas panjang.
"Om, aku iklas bantu. Dan aku buat memberi sebuah pinjaman yang kelak harus om lunasi. Om, sebentar lagi aku akan menikah dengan Mey. Bagiku om sudah aku anggap ayahku sendiri. Om, percaya saja padaku. Aku tidak akan bangkrut atau rugi jika membantu, om. Karena peninggalan orang tuaku berlimpah, maaf bukan sombong. Hanya ingin membuat om yakin dan percaya padaku." Kata Reynold panjang lebar.
"Ya sudah jika Nak Rey memaksa, om terima bantuannya. Terima kasih, Nak Rey. Atas segala kebaikannya." Tiba-tiba Endrik memeluk Reynold.
"Sama-sama, om. Lain kali, jika ada masalah cerita saja. Nggak perlu sungkan sama aku." Rey mengusap punggung Endrik.
Endrik merasa lega karena sudah terbuka jalan keluar baginya untuk menghadapi kekacauan yang di sebabkan oleh ulah Alex.
"Aku punya usul, om. Bagaimana kalau untuk sementara waktu kantor expedisinya di pindah ke salah satu aset ruko aku. Sambil menunggu selesai di bangun kantor yang kebakaran."
"Bagaimana kalau hari ini, kita kumpulkan seluruh karyawan, om. Dan kita hubungi setiap pelanggan, om. Yang barangnya belum sempat di kirim, tapi terbakar di dalam gudang."
Demikian saran dan masukan dari Reynold untuk calon mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah, Nak Rey. Om, menurut saja dengan saran darimu. Karena jalan pemikiranmu lebih cerdas daripada om." Endrik terkekeh.
Endrik bersiap-siap untuk pergi bersama Reynold mengurus ganti rugi pada pelanggan expedisinya.
Setelah itu mereka berangkat, bahkan mengajak serta Meymey dan Cindy. Untuk membantu menjelaskan pada para pelanggan, jika perusahaan mengalami musibah bukan karena unsur kesengajaan.
Pertemuan dengan para karyawan dan pelanggannya berjalan lumayan lama. Karena badang yang barus di ganti nggak cuma beberapa barang, tapi ada ribuan barang.
**********
"Puji Tuhan, akhirnya selesai juga. Untung para pelanggan bisa memaklumi kondisi kita, dan masih bersedia berlangganan. Sehingga kita tidak kehilangan merema."
"Para karyawan juga masih mau bekerja dengan kita, walaupun di kantor yang baru."
Demikian ucapan syukur Endrik, dia merasa bahagia karena permasalahannya telah terselesaikan.
"Nak Rey, sekali lagi om mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya. Juga mohon maaf karena telah merepotkan." Kembali lagi Endrik memeluk Reynold.
__ADS_1
"Iya, om. Sama-sama."
Setelah itu mereka pulang, untul beristirahat karena waktu telah larut malam. Hampir semuanya merasakan lelah yang teramat sangat sehingga mereka langsung tertidur nyenyak hingga pagi hari menjelang.
Ekonomi di kehidupan keluarga Endrik mulai membaik secara perlahan, itu semua berkat pertolongan Reynold.
Sementara Alex sedang gencar mencari informasi tentang Reynold. Dia penasaran dengan identitas pemuda tersebut.
"Bagaimana, apa kalian telah mendapatkan informasi?" tanya Alex pada anak buahnya.
"Sudah, bos. Nama terjet adalah Reynold, pemuda itu salah satu anak dari almarhum pengusaha terkenal di kota ini. Bahkan perusahaanya telah merambah ke dunia Internasional."
"Dia sudah tak punya orang tua. Rumor yang sempat tersebar, orang tuanya meninggal oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Namun mereka telah di tangkap dan menjalani hukuman seumur hidup."
Demikian penuturan anak buah Alex.
*******
__ADS_1