Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Gelisah


__ADS_3

Grandma berusaha menghibur Fanie.


"Sudahlah, cu. Kelak pasti kamu bisa bertemu mereka jika mereka telah mengalami cobaan yang luar biasa hebatnya," kata grandma.


"Fanie justru nggak ingin mereka mengalami masalah yang serius. Fanie ingin semuanya baik-baik saja," Fanie menghela napas panjang.


"Sudahlah, cu. Fokus saja dengan Steve dan usaha perkebunanmu." tiba-tiba grandpa datang dan ikut berkata.


"Baiklah, akan Fanie coba untuk tidak memikirkan keluarga Fanie," Fanie berusaha tersenyum walaupun hatinya masih saja gelisah memikirkan keluarganya.


Sementara kehidupan keluarga Endrik bukannya lebih baik, malah lebih parah. Karena kelakuan Endrik semakin menjadi-jadi saja.


Begitu juga kelakuan Meymey dan Meylan. Dalam pergaulan mereka semakin bebas saja, tanpa memikirkan akibatnya jika terjadi sesuatu pada diri mereka.


"Aku sudah berubah, tapi malah suamiku semakin menjadi-jadi. Lalu aku harus bagaimana ya, Tuhan. Aku bingung bagaimana caranya supaya mendapatkan maaf dari suamiku, dan dia tidak melakukan hal menjijikkan yang sekarang ini dia lakukan," air mata Cindy menetes begitu saja.


" Aku juga heran pada kedua anak gadisku, padahal aku sangat menyayangi mereka. Saat kita masih kaya segala keinginan mereka juga selalu aku turuti. Bahkan aku selalu mengesampingan keinginanku demi mereka berdua, tapi saat ini mereka sama sekali tak peduli padaku," air mata Cindy semakin deras saja.


"Hidupku terasa sunyi sepi, padahal aku bersama suami dan dua anak gadisku. Tapi bagaikan hidup sebatang kara, karena mereka sibuk dengan urusan mereka saja." Semakin menjadi tangis Cindy.


"Mi, kenapa menangis sampai begitu? seperti anak bayi saja," tiba-tiba Meymey berkata dari balik pintu ruang tamu.


"Bagaimana mami nggak sedih, melihat tingkah kalian. Baik kamu ataupun Meylan tidak ada yang peduli sama mami. Kalian berdua hanya peduli dengan diri sendiri saja," Mami Cindy berucap dengan sesekali sesenggukan.


"Mi, kita sudah dewasa. Dan punya kehidupan sendiri-sendiri, masa harus terus berada di samping mami? apa mami mau kita terus menjadi bayi yang selalu tergantung pada mami," Meymey menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Bukan begitu maksud mami, setidaknya kita ada waktu untuk ngobrol bersama dan bermain bersama, seperti saat sebelum papimu bangkrut," Mami Cindy menjelaskan.


"Mami harusnya koreksi diri, adanya sikap papi berubah karena ulah mami yang sangat memalukan!" Meymey berkata ketus pada Cindy.


"Mami sudah koreksi diri, dan sudah minta maaf pada papi kalian. Bahkan mami sudah berubah, tapi papimu masih saja tak mau memaafkan mami." Cindy mencoba membela diri.

__ADS_1


"Aku bisa memahami apa yang di rasakan papi, jika aku yang ada di posisinya juga akan melakuka hal yang sama." Meymey malah memojokkan Cindy.


Cindy tak bisa berkata lagi, karena baginya percuma jika berkata terus yang ada selalu sinis perkataan dari Meymey. Dan kata-katanya pedas, membuat tambah luka di hati.


"Hoex hoex " tiba-tiba Meymey mual-mual.


"Kamu kenapa, Mey?" apa kamu sakit, yuk ke dokter biar mami temenin." Cindy memijit tengkuk leher Meymey.


"Nggak usah, mi. Aku hanya masuk angin saja, tiba-tiba kepalaku pusing banget. Ya sudah, aku mau ke kamar untuk istirahat." Meymey bangkit dari duduk dan melangkah menuju ke kamarnya.


"Ada apa dengan Meymey, nggak biasanya dia seperti itu. Sesakit apa pun juga tak pernah hoek-hoek," batin Cindy.


Sementara Meymey saat ini telah tertidur pulas di kamarnya hingga menjelang malam dia baru bangun.


"Busyet, aku tidur begitu nyenyaknya sehingga tak sadar sudah malam saja. Ya ampun, aku harus buru-buru sudah jam 7 malam, aku kan ada janji dengan Om Alex ." Meymey lekas mandi dan bersolek.


Setelah itu Meymey melangksh keluar kamar dan pergi begitu saja dengan mengendarai taxi on line.


Meymey pergi, Meylan baru pulang. Begitu pula dengan Endrik. Suami dan anak ini sama sekali tidak bertegur sapa dengan Cindy. Bahkan biar pun Cindy tidak terlihat, tidak ada yang merasa kehilangan atau ingin tahu dimana keberadaan Cindy.


******


Jam 2 dini hari, Meymey baru pulang ke rumah. Tidak ada seorang pun yang tahu jika dia baru pulang.


Karena semua penghuni rumah sedang tertidur pulas sekali.


"Haduh, cape sekali. Ternyata Om Alex tak seperti pikiranku, biarpun sudah aki-aki tapi masih kuat. Masa satu ronde bisa kurang, sampai aku kewalahan melayaninya. Tapi hanya dia yang selalu memberi tips banyak buatku." Meymey tersenyum bahagia seraya menghitung uang ratusan ribu ada beberapa puluh lembar.


"Hoex hoex" Kembali lagi Meymey mual-mual.


"Kenapa akhir-akhir ini aku sering merasakan hal aneh ini, dan kepalaku juga pusing sekali. Besok aku akan menyempatkan diri ke dokter. Karena aku penasaran dengan kesehatanku," Meymey membaringkan badannya di ranjang dan lekas memejamkan matanya.

__ADS_1


Tak terasa pagi menjelang, tiba-tiba Meymey terbangun karena mual.


"Aneh, bau masakan kok buatku mual sekali." Meymey memijit pelipisnya yang pusing.


"Baru jam 6 pagi, sebenarnya aku masih ngantuk tapi aroma masakan membuatku mual dan muntah. Sehingga aku tak bisa tidur kembali." Meymey menghela napas panjang.


Jam 7 pagi saat sarapan, Meymey kembali mual-mual. Membuat semua orang yang ada di meja makan mengernyitkan alis dan semua menatap heran ke arah Meymey.


"Mey, tumben kamu seperti ini? apa kamu sakit?" Endrik menatap Meymey seraya melahap makannya.


"Entahlah, pi. Beberapa hari ini kepalaku pusing, dan aku nggak enak makan. Bau aroma masakan membuatku pusing." Meymey kembali lagi mual dan lekas berlari ke kamar mandi.


"Jangan-jangan Meymey hamil, selama ini kan dia selalu chek in hotel dengan pacar-pacarnya yang seumuran papi," batin Meylan.


Dia bangkit dan mengejar Meymey ke arah kamar mandi.


"Mey, apa jangan-jangan kamu hamil," bisik Meylan ke telinga Meymey.


"Hust, sembarangan saja kamu kalau ngomong! mana mungkin aku bisa hamil, karena para langgananku selalu memakai pengaman dulu kalau akan bermain," bisik Meymey.


"Bisa jadi pengamannya bocor kan nggak tahu? yuk aku temani kamu ke dokter," Meylan menawarkan diri.


"Aku ganti baju dulu, kamu tunggu saja di halaman apartement. Tolong pesankan taxi on line." Meymey melangkah ke kamar untuk berganti pakaian.


"Baiklah." Meylan ke halaman rumah seraya memesan taxi on line.


"Mey, kamu mau kemana?" tanya Cindy saat melihat Meymey melintas lewat.


"Mau kedokter, mi. Ditemani sama Meylan." Meymey melangkah ke halaman dimana Meylan telah menunggunya.


Tak berapa lama, taxi on line datang. Segera Meymey dan Meylan masuk dalam taxi. Dan sang sopir segera melajukannya menuju ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


*********


Mohon dukungan like,vote, favorit..


__ADS_2