Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Bangkrut


__ADS_3

Sesampainya di rumah grandpa, keduanya mendapat sambutan meriah dari grandpa dan grandma.


"Nah, begitu kan kami jadi ikut senang melihatnya. Sini cu, kami ingin ngobrol dengan kalian berdua." grandma menuntun Fanie ke ruang tengah, begitu pula dengan grandpa menuntun Steven pula ke ruang tengah.


"Duduklah, kami ingin berbicara sejenak dengan kalian berdua," kata grandpa.


"Serius amat, grandpa. Ada apa gerangan?" tanya Fanie.


"Biasa saja kok, nggak ada apa-apa," kata grandma.


"Kami hanya ingin ngobrol ringan saja, kami turut bahagia jika kalian bisa bersatu secepatnya dalam mahligai pernikahan," kata grandpa seraya menatap lekat pada Steven dan Fanie.


Belum juga Fanie dan Steven menjawab, grandpa telah kembali berkata.


"Grandpa tahu, itu terlalu cepat buat kalian hheeee."


"Fanie, saat ini kamu telah sukses. Apa nggak sebaiknya kamu buka jati dirimu pada orang tua dan kedua adikmu?" tanya grandpa.


"Entahlah, grandpa. Fanie juga bingung, sebaiknya bagaimana? kalau menurutmu bagaimana, Steve?" Fanie menatap Steven seolah meminta saran.


"Wah, maaf Fanie. Ini kan masalah pribadi, jadi aku nggak berani ikut memutuskan. Coba tanya grandpa dan grandma baiknya bagaimana?" Steven memberi saran.


"Bagaimana, grandma? apakah Fanie jujur tentang jati diri Fanie pada keluarga atau bagaimana?" Fanie mengerutkan alis tanda bingung.


Sejenak grandpa dan grandma saling berpandangan seolah saling bertanya satu sama lain.


"Fanie, kalau dulu kami yang memintamu untuk merahasiakan jati dirimu karena kondisi kamu belum sukses. Sekarang kondisinya telah berbeda, apa nggak sebaiknya kamu jujur saja pada mereka?" kata grandpa sedikit ragu.


"Baiklah, grandpa. Fanie akan ke rumah papi dan mami besok pagi, untuk menjenguk mereka dan juga untuk mengatakan kejujuran ini," kata Fanie tersenyum penuh antusias.


"Kami doakan, semoga keluargamu sudah tak menolakmu lagi dan menjadi sayang padamu," kata grandma.


"Besok aku temani kamu ya, Fanie?" kata Steven menawarkan diri.


"Baiklah, Steve." Jawabnya singkat.


********


Pagi menjelang sesuai janjinya, Steven datang pagi-pagi sekali ke rumah grandpa untuk menemani Fanie ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Grandpa, grandma. Apa nggak sebaiknya kalian ikut kami?" tanya Fanie menatap sendu pada grandpa dan grandma.


"Baiklah, Cu. Kami akan ikut denganmu ke rumah orang tuamu " kata grandpa.


"Yyeehh, makasih grandpa grandma." Fanie sumringah seraya memeluk granda dan grandma.


Mereka berangkat berempat, dengan Steven sebagai sopirnya.


Perjalanan hanya memakan waktu 30 menit saja, karena Steven melajukan mobilnya lumayan cepat.


"Grandpa grandma, kok rumahnya sepi. Terus ada tulisan di sita bank?" Fanie mengerutkan alisnya.


"Coba grandpa yang tanya pada tetangga sebelah, kali saja ada yang tahu." Grandpa turun dari mobil melangkah ke rumah tetangga.


10 Menit kemudian, grandpa kembali ke mobil.


"Tetangga bilang, papimu bangkrut hingga rumah dan seluruhnya di sita oleh bank. Dan tidak ada yang tahu saat ini di mana keberadaan keluargamu, karena mereka pergi begitu saja tanpa pamit." Grandpa menjelaskan.


"Terus kita harus bagaimana, grandpa? mau mencari kemana lagi?" Tak terasa air mata Fanie menetes begitu saja.


"Sabar, Fanie. Besok atau lusa pasti keluargamu datang ke rumah grandpa dan grandma. Jadi sebaiknya kita pulang saja," ajak grandma.


*****


Sementara situasi di rumah kontrakan Papi Endrik sedang riuh rame karena kedua anak kembarnya, sedang protes dan marah-marah.


"Papi, mami! mau sampai kapan kita hidup di kontrakan panas dan sempit seperti ini!" Meymey mendengus kesal.


"Iya, papi. Kenapa juga pake acara bangkrut segala!" ucap Meylan kesal.


"Kalian bisa diam nggak! papi juga lagi mikir bagaimana caranya supaya bisa keluar dari kemiskinan ini, jangan bikin kepala papi tambah puyeng!" Papi Endrik mendengus kesal.


"Iya, kalian jangan memojokkan papi. Kasihan, papi pasti juga bingung." sela Mami Cindy.


Meymey dan Meylan akhirnya diam saja, tak berani berkata kembali. Hanya pasang wajah masam dan bibir manyun.


"Pi, apa nggak sebaiknya kita tinggal sementara di rumah grandpa dan grandma. Rumah mereka kan luas, dari pada di kontrakan ini panas dan sempit." Mami Cindy mengusulkan.


"Ada benarnya juga usul mami. Nanti aku bisa ngomong supaya beberapa lahan tanah di jual untuk modal papi,"

__ADS_1


"Nah begitu dong, baru namanya papi keren." sela Meymey sumringah.


"Ya sudah tunggu apa lagi, papi nggak kesana sekarang saja?" tanya Mami Cindy.


"Besok saja, mi. Papi lelah hari ini mau istirahat mau tidur." Papi Endrik melangkah ke kamarnya.


"Mi, bagi duit dong." Meylan menengadahkan tangannya.


"Aku juga mau, mi." Meymey pun menengadahkan tangannya.


"Kalian ini bagaimana, sudah tahu kondisi sedang seperti ini masih saja minta duit!" Mami Cindy bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke kamar menyusul Papi Endrik.


"Mey, kalau hidup seperti ini terus aku nggak akan kuat. Aku mau cari pacar yang kaya raya biar aku bisa numpang hidup enak," Meylan mendengus kesal.


"Sama, aku juga nggak akan kuat hidup seperti ini. Mending nanti kita clubing saja, siapa tahu dapat pacar tajir walaupun om-om nggak apa-apa dech," ketus Meymey.


"Gila apa kamu, Mey! masa mau sama om-om, kalau aku ogah!" cibir Meylan.


"Yang penting kan duitnya banyak, janhan lihat tuanya tapi lihat kantongnya. Banyak temen kuliahku jadi istri simpanan om-om, tapi semua kebutuhan tercukupi," Meymey sumringah.


"Terserah kamu, Mey. Kalau aku ogah sama aki-aki, kaya nggak ada cowo muda saja." Meylan bangkit berlalu pergi begitu saja.


"Hari ini ngandelin gengsi, nggak bakalan maju hidupmu Lan!" teriak Meymey mencibir pada Meylan.


"Dari pada berdiam diri di kontrakan panas kumuh ini, lebih baik aku pergi cari mangsa saja." Meymey bangkit dan ke kamar.


Dirinya bersiap-siap untuk segera pergi ke tempat hiburan dimana banyak muda mudi atau para pengusaha nongkrong di saat liburan kerja.


Meymey sudah tak memikirkan sebab akibatnya kelak, yang ada di otaknya hanyalah kesenangan duniawi.


Karena dari kecil baik Meymey maupun Meylan selalu di manjakan dengan harta yang melimpah ruah.


Hingga kini hidupnya telah terbiasa dengan semua kekayaan, sehingga saat mengalami hidup susah, baik Meymey maupun Meylan serasa tidak betah.


Berbeda dengan Stephanie yang selalu mendapatkan semua hal hanya barang bekas milik kedua adik kembarnya.


Kini malah hidup Stephanie berlimpah harta benda di usianya yang masih muda.


"Hem, ternyata sudah banyak orang di cafe ini. Tapi belum ada satu tarjet yang bisa aku dekati untuk aku jadikan mangsaku," batin Meymey.

__ADS_1


"Tapi aku yakin, dengan penampilanku ini. Banyak lelaki kaya yang ingin jalan denganku," batin Meymey dengan sangat percaya diri


__ADS_2