
Endrik melangkah ke mobil di ikuti oleh Meymey.
"Pi, papi. Tunggu!" Meymey berlari kecil mengejar Endrik.
"Apa lagi sih, Mey! kamu lihat sendiri kan, bagaimana grandma mengusir papi?" Endrik mendengus kesal, seraya masuk dalam mobil.
Meymey ikut masuk mobil.
"Harusnya papi nggak terbakar emosi, grandma bersikap seperti itu karena kecewa sama papi. Harusnya papi minta maaf, karena papi yang salah. Kemarin papi yang nggak bersedia datang di hari meninggalnya grandpa." Meymey berkata panjang lebar.
"Mey, sudahlah! nggam usah mencoba menasehati papi terus, bikin papi pusing saja!" Endrik melajukan mobilnya menuju ke kantor kembali.
Meymey sudah tidak berani berkata kembali.
**********
Wakti bergulir begitu cepat, tak terasa sudah satu bulan berlalu dari meninggalnya grandpa.
Kini grandma tinggal bersama Fanie dan Steven sementara rumahnya di sewakan ke orang.
Sementara desas desus kejadian Endrik tak datang ke pemakaman grandpa terdengar keseluruh penjuru kota. Bahkan masuk ke surat kabar kota.
"Pi, lihat kan? semua gara-gara keegoisan papi yang nggak bersedia datang saat meninggalnya grandpa, hingga beritanya sampai ke surat kabar. Ini sangat mempengaruhi bisnis yang sedang papi jalankan." Meymey memberikan surat kabar tersebut pada Endrik.
"Loh, kok bisa masuk berita? pantas akhir-akhir ini penghasilan dari expedisi menurun drastis, pasti semua ini karena pengaruh dari berita di surat kabar ini." Endrik mendengus kesal.
"Itu karena kesalahan papi, coba waktu itu saat grandma marah, papi nggak pergi tapi setidaknya minta maaf, pasti nggak akan sampai seperti ini " Meymey menghela napas panjang.
"Papi akan selidiki siapa kiranya yang telah lancang menyebarkan berita ini. Apa mungkin Fanie?" Endrik hanya menebak saja.
"Kalau menurutku bukan Fanie, pi. Sepertinya orang lain yang menyaksikan kejadian saat grandma marah-marah ke papi," Meymey ikut menebak.
"Jika nanti hasil penyelidikan papi ada hubungannya dengan Fanie, papi nggak akan memaafkannya. Bahkan papi akan membalasnya." Endrik mendengus kesal.
Sore menjelang, di saat Endrik dan Meymey telah kembali dari kantornya. Mereka menyempatkan diri bersinggah ke rumah grandma.
Semua juga atas saran dari Meymey, supaya Endrik meminta maaf pada grandma dan memperbaiki hubungannya dengan grandma agar berita buruk yang ada di surat kabar segera hilang.
__ADS_1
"Mey, kok rumah grandma sepi ya?" Endrik mengamati sekitar rumah grandma.
"Sebaiknya kita turun dan langsung saja ke rumah, mungkin grandma ada di dalam rumah." Meymey lekas turun dari mobil.
Endrik ikut pula turun dari mobil. Mengikuti langkah Meymey melangkah je arah pintu rumah grandma.
"Ting tong." Endrik membunyikan bel pintu rumah.
Ada seorang wanita datang membuka pintu rumah.
"Maaf, kalian siapa?" tanya wanita muda menatap pada Endrik dan Meymey.
"Justru kamu ini yang siapa? Saya adalah anak dari pemilik rumah ini," Endrik berkata dengan ketus.
"Oh, jadi anda adalah orang yang telah menyia-nyiakan ibu kandungnya dan tidak bersedia mengurus pemakaman ayahnya?" Wanita tersebut berkata ketus.
"Apa maksud ucapanmu? jangan sembarangan ya!" Endrik melotot pada wanita itu.
"Pi, sudah." Meymey melerai.
"Maaf, ka. Kami ingin bertemu grandma, bisakah kakak memanggilnya untuk menemui kami?" Meymey tersenyum ramah.
"Oh, maaf. Kami tidak tahu, apakah kakak tahu alamat rumahnya Fanie?" Meymey bertanya kembali.
"Maaf, saya tidak tahu. Harusnya kalian bersikap baik pada seorang wanita yang sudah lanjut usia yang hanya tinggal sendiri. Maaf, saya masih banyak kerjaan." Wanita tersebut masuk begitu saja dan menutup pintunya.
"Kamu lihat, grandma bahkan sama sekali tidak memberi tahu papi jika akan tinggal bersama Fanie dan menyewakan rumah ini," Endrik mengacak-acak rambutnya seraya melangkah masuk dalam rumah.
"Sudahlah, papi nggak usah selalu menyalahkan grandma. Papi harusnya koreksi diri sendiri, awal mula semuanya terjadi karena ulah papi. Mau sampai kapan papi sadar?" Meymey tiba-tiba kesal dan hilang kendali memarahi Endrik.
Di dalam mobil Meymey tidak bertegur sapa dengan Endrik. Karena dirinya sudah lelah untuk menasehati Endrik yang sangat keras kepala.
Sementara wanita yang tinggal di rumah grandma menelpon grandma jika barusan Endrik dan Meymey datang ke rumah.
📱" Hallo, oma. Sedang apakah kiranya?
📱" Hallo juga, Gabriel. Oma sedang bersantai menonton televisi, ada apa sayang?"
__ADS_1
📱" Barusan anak dan cucu, oma. Datang kemari mencari oma. Aku bilang saat ini oma tinggal bersama Fanie."
📱" Baguslah, tapi kamu tidak memberi tahu tempat tinggal Fanie kan?"
📱" Tidaklah, oma. Seperti yang oma mau."
📱" Ya sudah ya, oma. Gabriel hanya ingin memberi tahu tentang hal itu. Sehat selalu ya, oma."
📱" Iya, sayang. Sehat selalu juga buatmu, Tuhan Berkati."
Setelah itu keduanya sama-sama menutup telponnya.
"Hem, untuk apa pula kalian mencariku. Aku yakin paling harta yang kalian inginkan. Tidak akan aku wariskan padaku, Endrik. Semua hartaku telah aku balik nama untuk Fanie semua," gerutu grandma dalam hati.
"Aku sudah sangat kecewa padamu, Endrik. Bahkan sampai aku mati kelak, aku nggak akan pernah memaafkanmu." Gerutu grandma kembali.
Sementara Endrik dan Meymey telah sampai di apartement. Tapi Endrik merasa penasaran dengan orang yang telah menyebarkan berita ke surat kabar.
Endrik memutar balik mobilnya, melajukannya ke arah kantor redaksi surat kabar yang telah menerbitkan berita tentangnya.
Setelah sampai Endrik lekas ke bagian redaksi dan bertanya.
"Maaf, pak. Saya ingin bertanya, darimana anda mendapatkan berita ini?" Endrik menunjukkan surat kabar yang ada berita tentang dirinya.
"Oh, jadi anda anak durhaka itu? kami menerbitkan berita tentang anda atas ijin ibu anda. Bahkan dia sendiri yang datang kemari meminta kami untuk menulis beritanya di halaman utama. Dengan tujuan, supaya tidak ada lagi anak yang durhaka seperti anda." Jawab seorang redaksi secara lantang dan nada tinggi.
Endrik hanya menghela napas panjang dan berlalu pergi dari kantor redaksi surat kabar tersebut.
"Apa yang di katakan Mey ternyata benar, bukan Fanie yang melakukannya. Melainkan mommy sendiri." Gerutu Endrik seraya melajukan mobilnya.
"Apa mommy benar-benar telah marah padaku, biasanya mommy tidak pernah marah dan selalu membelaku. Tapi kenapa sekarang mommy berubah ya?" batin Endrik.
Endrik masih belum percaya jika mommy yang dengan sengaja bercerita keburukannya pada salah satu penerbit surat kabar.
"Aku khawatir, adanya berita tersebut. Usahaku menjadi hancur, padahal dengan susah payah aku telah membangunnya," batin Endrik menghela napas panjang.
Dia berinisiatif mencari keberadaan grandma, dan akan meminta maaf. Supaya dia bisa akrab kembali dengan grandma hingga berita buruk tentangnya hilang.
__ADS_1
*****
Mohon dukungan like, vote, favorit..