
Alex segera memanggil Mami Cindy untuk menemui para aparat polisi.
"Masa ada polisi mencariku, aku nggak berbuat kejahatan kok," Cindy mencoba berkilah.
"Jika mami nggak bersalah, ya cepat temui dan jelaskan pada polisi." Alex melirik sinis pada Cindy.
Cindy melangkah keluar rumah untuk menemui polisi yang ada di teras depan apartement Alex.
"A-ada apa bapak polisi mencari saya?" Cindy sangat panik saat melihat ada dua dokter yang bertugas di rumah sakit dimana Meymey saat itu melahirkan.
"Pak dokter ini yang telah melaporkan anda, jika anda ini telah menculik bayi dan menukarnya dengan bayi yang telah meninggal," kata salah satu aparat polisi.
"Maaf, saya tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Lalu mana bukti jika saya telah melakukan itu semua," Cindy masih saja berkilah.
"Kami punya bukti rekaman CCTV, jika anda terus saja berkilah. Hukuman anda bisa tambah berat, sebaiknya anda ikut kami sekarang juga ke kantor. Disana anda bisa menjelaskan semuanya jika memang anda tidak melakukan kejahatan tersebut." Dua aparat polisi mencekal lengan Cindy dan membawanya paksa masuk dalam mobil petugas polisi.
Cindy tak dapat berkutik apa lagi melawan.
Sementara Alex merasa malu dan geram karena telah di bohongi oleh mertuanya.
"Mas, mana mami?" tanya Meymey pada Alex.
"Mamimu di tangkap polisi karena melakukan tindak kriminal!" Alex mendengus kesal.
"Mami bukan penjahat, bagaimana bisa polisi menangkapnya?" Meymey serasa tak percaya.
"Mamimu telah menukar bayimu dengan bayi orang lain!" Jawab Alex ketus.
"Aku nggak maksud, bagaimana mami menukar anak kita dengan anak orang lain?" Meymey semakin bingung dengan penuturan Alex.
"Anak kita telah meninggal, dan mamimu menukarnya dengan bayi orang lain yang masih hidup," Jawabnya ketus.
"Mas, tolong bantu mami keluar dari penjara. Mana mungkin mami melakukan hal sejahat itu, aku sama sekali nggak percaya. Pasti ini suatu kesalah pahaman." Meymey terus saja membela Cindy.
__ADS_1
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas sudah ada bukti kuat yakni rekaman CCTV," kata Alex ketus.
"Masa iya, yang bersamaku ini bukan anak kandungku?" Meymey masih saja nggak percaya.
"Masa iya, bayiku telah meninggal dunia," kembali lagi Meymey menggerutu.
"Sudahlah, nggak usah menggerutu terus. Jika semua terbukti kalau bayi itu bukan anakku, aku tak segan-segan menalakmu!" Alex berlalu begitu saja.
Meymey segera mengejarnya.
"Mas, jika kamu ragu. Aku bersedia mengadakan tes DNA pada bayi kita," Meymey mencekal lengan Alex.
"Baiklah, sekarang juga akan kita lakukan tes DNA pada bayi itu!" Alex berkata ketus.
Alex menelpon asistennya untuk mengantar ke rumah sakit guna tes DNA bayi yang saat ini sedang bersama Meymey.
Segera asisten Alex melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
Proses tes DNA berlangsung cepat, namun untuk hasilnya tidak bisa langsung bisa di ketahui, melainkan besok pagi baru bisa di lihat hasilnya.
Hingga waktu bergulir cepat, dan telah pagi saja. Alex segera kembali lagi ke rumah sakit tersebut untuk mengambil hasil tes DNA bayinya.
Saat Alex membuka hasil tes DNA tersebut, dia sangat kaget dan syok.
"Astaga, ternyata memang bayi itu bukan anak kandungku! sialan, Mami Cindy telah mengelabuiku! aku tidak akan memaafkan!" Alex geram memukul meja yang ada di hadapannya.
"Mas, benarkan hasilnya?" Meymey menyunggingkan senyum.
"Iya benar, hasilnya telah jelas jika bayi itu bukan anakku!" Alex melempar hasil tes DNA ke wajah Meymey.
Segera Meymey membacanya, dirinya lemas jatuh terduduk di kursi.
"Nggak mungkin, pasti ini salah! pasti hasilnya tertukar dengan orang lain." Mata Meymey berkaca-kaca.
__ADS_1
Alex tak merespon ucapan Meymey, dia mengambil kembali hasil tes DNA tersebut dan membawanya ke kantor polisi. Karena pihak yang berwajib sedang menunggu hasil tes DNA bayi tersebut untuk di cocokkan dengan hasil tes DNA dari orang tua bayi kembar.
"Pak Alex, hasilnya cocok sekali dengan hasil tes DNA orang tua si bayi kembar. Sudah bertambah bukti yang akurat untuk memberi masa hukuman pada Nyonya Cindy," kata salah satu aparat polisi.
"Silahkan saja, di proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku," Alex berkata tegas.
Setelah itu dia meninggalkan kantor polisi tanpa menjenguk mertuanya. Alex pulang kerumah beserta orang tua bayi yang di culik bayinya oleh Cindy.
"Mey, sini serahkan bayinya. Karena dia harus di kembalikan pada orang tua kandungnya," Alex mengambil paksa bayi tersebut.
"Jangan, ini anakku. Tolong jangan di ambil," Meymey menitikkan air mata dan mencoba meminta kembali bayi tersebut.
Namun orang tua bayi bukannya iba, tapi malah lekas pergi dari apartement Alex. Sementaea Meymey terus saja menangis.
"Sudahlah, nggak usah kamu tangisi. Kelak kita punya anak lagi, masih untung aku nggak talak kamu karena mamimu telah membodohiku," Alex melirik sinis pada Meymey.
Setelah itu Alex berlalu pergi begitu saja, tanpa menghiraukan tangisan Meymey.
"Aku masih nggak percaya kalau bayiku telah meninggal dan bayi yang aku rawat adalah bayi orang lain," batin Meymey di sela isak tangisnya.
Sementara Cindy telah di vonis hukuman 15 tahun penjara akan kejahatannya, dia sungguh tak menyangka akan berakhir di penjara.
"Ya, Tuhan. Aku nggak menyangka masa tuaku berakhir tragis di dalam penjara. Padahal niatku menukar bayi itu supaya Meymey nggak syok, karena aku nggak bisa membayangkan jika kematian bayinya membuatnya depresi. Aku nggak ingin Meymey seperti itu, hingga aku melakukan hal senekad ini," batin Cindy seraya menitikkan air mata.
Selama di dalam penjara, Endrik sama sekali tak menjenguknya. Begitu pula dengan Meymey. Padahal dia melakukan hal senekad itu demi Meymey.
Cindy terus saja meratapi nasibnya di dalam penjara. Tidak ada satupun orang yang memberi tahu pada grandpa dan grandma jika saat ini Cindy di dalam penjara.
Karena Endrik sudah lepas hubungan dengan orang tuanya sejak peristiwa waktu lalu dimana Fanie mendapati si kembar melakukan hal buruk.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku tak enak seperti ini? aku selalu kepikiran Mami Cindy," batin Fanie gelisah di dalam tidurnya tak nyenyak.
Fanie akhirnya memutuskan untuk bangun dari pembaringan dan melangkah ke balkon. Termenung menerawang jauh, mengingat masa-masa kebersamaan bersama orang tua dan si kembar. Walaupun dulu saat bersama, dirinya tak pernah di anggap ada oleh keluarganya.
__ADS_1
Steven terbangun saat mendapati Fanie tak ada di sampingnya. Dia menoleh kiri kanan mencari keberadaan istrinya.
Saat melihat Fanie sedang berada di balkon kamar, Steven lekas menghampiri.