
Hari yang telah di tunggu dan di nanti oleh Reynold telah tiba.
"Aku sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari Meymey, apakah dia bersedia menikah denganku, ataukah tidak." Gerutunya dalam hati.
Saat ini Reynold sedang dalam perjalanan menuju ke apartement Meymey. Setelah bertemu, seperti minggu yang lalu. Reynold mengajak Meymey ke cafe yang sama.
"Mey, apa kamu sudah menyiapkan jawabannya?" tanya Reynold terlihat sudah tidar sabar lagi.
"Sudah kok, Rey." Jawab Meymey singkat.
"Katakanlah, Mey. Karena aku sudah tidak sabar lagi ingin mendengar jawaban darimu sekarang juga." Pinta Reynold menyunggingkan senyum.
"Baiklah, Rey. Setelah satu minggu aku berfikir dan berdoa meminta petunjuk dari Tuhan. Aku telah memutuskan menerima tawaran darimu." Kata Meymey tersipu malu.
"Mey, kamu serius kan? tidak sedang berbohong padaku? kamu tulus kan, tidak karena terpaksa?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Reynold.
"Aku serius, Rey. Aku juga tulus dari dalam hatiku, bukan karena aku nggak enak padamu sehingga menerimamu. Tapi karena aku benar-benar cinta padamu." Meymey tertunduk malu.
"Yes, terima kasih. Aku sungguh bahagia karena rasa cintaku terbalas dan kamu bersedia menikah denganku." Reynold sumringah sekali.
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kamu mau menerima segala kekuranganku. Masa lalu burukku," Meymey tertunduk lesu.
"Rey, aku ingin bertanya sekali lagi. Apa kamu nggak menyesal memperistri diriku ini? yang bukan lagi gadis dan punya masa lalu buruk." Meymey tertunduk malu.
"Aku nggak ingin ada penyesalan di kemudian hari, Rey." Kembali lagi Meymey berkata.
"Mey, kamu nggak perlu meragukan aku. Harus berapa kali, aku meyakinkan hatimu. Kalau aku sayang cinta padamu, dan tak peduli dengan masa lalumu." Reynold mencoba meyakinkan Meymey kembali.
"Tapi aku ingin cinta yang selamanya, bukan hanya cinta sesaat." Ucap Meymey.
"Percayalah padaku, Mey. Aku akan mendampingimu selamanya dalam suka dan duka. Dan hanya kamu yang ada di hatiku. Takkan aku menduakanmu." Kata Reynold seraya menggenggam jenari Meymey.
Setelah mendengar semua penuturan dari Reynold, Meymey merasa lega.
"Rey, tapi kita nggak buru-buru menikah kan?" tanya Meymey.
"Memangnya kenapa kalau kita menikah lebih cepst lebih baik." Reynold menaik turunkan alisnya.
"Apa nggak sebaiknya kita saling menjajagi pribadi kita masing-masing. Baik kekurangan maupun kelebihan kita, supaya di saat kita menikah tidak begitu kaget saat mengetaui semua kekurangan dan kelebihan kita." Saran Meymey.
"Baiklah, kita berpacaran tapi hanya dua bulan saja. Setelah itu, aku akan segera mengurus segala sesuatunya." Rey berkata.
__ADS_1
"Baik, Rey. Aku setuju akan keputusanmu." Kata Meymey.
Karena telah cukup lama mereka bercengkrama di cafe, sembari menikmati menu pesanan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sampai di apartement, Meymey telah di tunggu oleh orang tuanya.
"Loh, mami sama papi. Kok masih diteras, kenapa belum tidur?" Meymey mengernyitkan alis.
"Kami belum bisa tidur, sebelum mendengar kabar hubunganmu dengan Reynold." Kata Endrik penasaran.
Meymey menjatuhkan pantatnya di sofa. Begitu pula dengan Endrik dan Cindy.
"Meymey telah memutuskan menerima Rey, tapi Mey meminta untuk tidak terburu-buru menikah. Kita adaptasi selama dua bulan, setelah itu barulah menikah." Kata Meymey tersipu malu.
"Puji Tuhan, kami sangat bahagia mendengar kabar baik ini." Mami Cindy merengkuh Meymey dalam pelukannya.
Bulir bening keluar dari mata Cindy karena sangat terharu mendengar kabar baik dari Meymey.
Mata Papi Endrik juga berkaca-kaca karena rasa haru.
"Semoga kelak rumah tangga kalian langgeng dan hanya maut yang memisahkan," Ucap Papi Endrik nelangsa.
"Aku juga akan memberitahu kabar ini pada Fanie." Batin Mami Cindy.
Situasi bahagia juga telah menyelimuti hati Reynold. Dia merebahkan badan di pembaringan seraya menatap foto keluarga.
"Papi, mami. Rey telah menemukan wanita yang sangat baik, yang telah mampu menggetarkan hati ini di saat baru pertama kali bertemu."
"Papi, mami. Doakan supaya kelak Rey bisa langgeng menjalanksn biduk rumah tangga bersamanya."
"Coba saat ini kalian masih hidup, pasti aku akan lebih bahagia."
Demikian gerutuan Reynold, seraya berkali-kali mengusap foto mami dan papinya. Hingga perlahan tak sadar matanya mulai terpejam sendiri.
********
Pagi menjelang, secerah hati Meymey dan Reynold. Keduanya memutuskan untuk bertemu di pagi ini.
Liburan mereka luangkan waktu bertemu, dan Reynold mengajak Meymey ke makam orang tuanya.
"Papi, mami. Ini Meymey, calon istriku. Kami kemari ingin meminta restu, supaya kelak jika kami benar-benar telah menjalani biduk rumah tangga, supaya kami langgeng." Kata Reynold dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Papi, mami. Semoga kelak kami juga memilik banyak anak, supaya suasana rumah ramai tidak sepi seperti sekarang ini." Kembali lagi Reynold mengusap pusara orang tuanya secara bergantian.
"Ya Tuhan, beruntungnya aku masih memiliki orang tua yang komplit dan sehat. Aku tak bisa membayangkan jika aku mengalami hal yang sama seperti Reynold " Batin Meymey.
Dia merasa iba, saat melihat Reynold begitu sedih di hadapan makam orang tuanya.
Setelah Reynold selesai berkata, giliran Meymey berkata pula di makam kedua orang tuanya. Barulah mereka berdoa bersama.
"Mey, setelah dari makam. Kita akan kemana, biarlah kamu yang memutuskan." Reynold tersenyum seraya menggandeng tangan Meymey.
"Aku boleh kan, menggandeng tanganmu?" Kembali lagi Reynold berkata.
"Iya boleh, Rey. Aku sedang ingin ke rumah ponakanku yang kembar." Kata Meymey menyunggingkan senyum.
"Wah, boleh juga tuh. Sepertinya seru jika bermain dengan baby twins." Reynold sangat antusias.
Segera Reynold melajukan mobillnya menuju ke rumah Fanie. Tak berapa lama, mereka telah sampai.
"Yuk, turun. Itu mereka sedang jalan-jalan." Meymey mengajak Reynold turun dari mobilnya.
Mereka menghampiri baby Andre dan baby Abrina yang sedang berjalan-jalan bolak balik.
"Hups, kena kan Brina." Meymey menggending Abrina.
Namun Abrina memberontak terus minta turun, nggak mau di gendong Meymey. Bahkan Andre menggoncang-goncang kaki Meymey supaya lekas menurunkan Abrina.
Tingkah lucu si kembar membuat Reynold terkekeh saat melihatnya. Tak berselang lama muncul Fanie dan Steven.
"Eh ada, aunty dan uncle." Sapa Fanie.
Steven dan Fanie menyalami Reynold, Steven mengajak Reynold mengobrol. Dan Fanie mengajak Meymey mengobrol.
"Pria ngobrol sesama pria, yuk kita ngobrol." Steven tak sungkan merangkul pundak Reynold.
Steven mengajak Reynold mengitari berkeliling rumah dan duduk di sebuah kursi di taman belakang rumah.
Sedangkan Fanie dan Meymey ngobrol di teras halaman sambil melihat tingkah lucu si kembar.
"Kamu sudah beri keputusan yang tepat kan, buat hubungan kalian berdua?" tanya Fanie.
***********
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favorit..