
Pagi menjelang, Papi Endrik dan Mami Cindy lekas melancarkan aksinya pergi ke rumah grandpa dan grandma.
"Kalian berdua nggak usah ikut, di rumah saja karena nggak ada uang untuk ongkos transportasi," kata Mami Cindy.
"Amit dach, sebegitu miskinnya kitakah?" cibir Meymey menatap sinis pada Mami Cindy.
"Diam kamu, Mey! bisanya cuma seperti itu! kalian berdua sudah lulus kuliah bukannya bantu orang tua cari kerja malah tingkah kalian masih saja seperti anak kecil!" bentak Mami Cindy mendengus kesal.
"Kok mami kasar sama aku? biar begini aku sudah bisa cari duit sendiri," Meymey menjawab ketus.
"Kalau sudah bisa cari duit sendiri, kenapa pula masih suka minta pada orang tua!" hardik Mami Cindy.
"Lah, itu kan sudah kewajiban kalian sebagai orang tua kami. Selama kami belum menikah, berarti kami ini masih tanggung jawab kalian berdua," kata Meymey ketus.
"Harusnya kalian berdua bisa mengerti kondisi mami sama papi saat ini! malah bantu atau bagaimana, bukannya malah menambah pusing orang tua! apa kalian telah lupa, selalu kami utamakan kalian dari pada Phanie! apapun yang kalian pinta selalu kami turuti!" tiba-tiba Mami Cindy menitikkan air mata di pipinya.
"Mi, sudahlah. Nggak usah meladeni mereka, bagaimana pun mereka anak kita. Lebih baik kita ke rumah grandpa sekarang juga," Papi Endrik merangkul Mami Cindy keluar dari kontrakan.
"Sudah, mi. Malu di lihat para tetangga kalau kamu nangis seperti ini," Papi Endrik terus saja mengusap bahu istrinya
Tak berapa lama kemudian, angkutan umum yang mereka tunggu telah datang. Keduanya langsung naik dalam angkutan umum tersebut menuju ke rumah grandpa.
"Ya, Tuhan. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan hidup sengsara seperti ini. Apakah kiranya dosaku begitu besar padaMu," batin Papi Endrik.
Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan pintu gerbang grandpa dan grandma.
Lekaslah mereka turun, dan melangkah ke rumah grandpa.
"Shalom, dad mom. Apakah kalian ada di rumah?" Papi Endrik melangkah masuk ke ruang tamu.
"Eh kamu, Drik. Duduklah dulu, mommy sedang masak di dapur." Grandpa mempersilahkan anak dan menantunya duduk, sementara dirinya kembali melangkah menuju dapur untuk memanggil grandma.
__ADS_1
"Mom, di luar ada Endrik dan Cindy." Kata grandpa.
"Fanie, sekalian saja kamu ikut menemui orang tuamu bersama kami," ajak grandpa.
"Baiklah, grandpa." Ucap Fanie singkat seraya merangkul grandma.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya grandma seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Kami ingin minta tolong pada daddy dan mommy, karena saat ini Endrik sudah tak punya apa-apa lagi, semua habis buat membayar hutang di bank." kata Papi Endrik lirih.
"Maksudmu minta bantuan kami seperti apa?" grandpa menatap tajam Papi Endrik.
"Ijinkan kami untuk tinggal bersama kalian di sini, dan Endrik minta tolong pada daddy supaya meminjamkan modal untuk usaha." jawab Papi Endrik lirih.
Sejenak grandpa dan grandma saling berpandangan satu sama lain seolah ingin meminta suatu persetujuan.
"Biar mereka tinggal di apartementku saja, grandma grandpa." Tiba-tiba Fanie berkata.
"Kebetulan aku masih ada satu apartement yang kosong belum ada yang menyewa, dan letaknya tak jauh dari rumah ini." kata Fanie kembali.
Sesaat Fanie dan grandpa serta grandma duduk di ruang tengah. Sebelum Fanie berbicara, dia terlebih dulu tengok kanan dan kiri. Nggak ingin sampai orang tuanya mendengarnya.
"Grandma, grandpa. Fanie minta untuk sementara waktu kita simpan rahasia ini dulu. Tunggu waktu yang tepat untuk Fanie berkata jujur pada mereka." bisik Fanie pada grandma dan grandpa.
"Baiklah, Cu. Jika menurutmu itu yang terbaik, kami akan menuruti kemauanmu. Ya sudah sebaiknya kita lekas ke depan karena khawatir orang tuamu nanti curiga padamu," ajak grandpa.
Grandpa dan grandma segera keluar, sementara Fanie ke kamar untuk mengambil simpanan uangnya yang di brangkar.
"Tante, Om. Tolong terima ini, bisa buat modal usaha kalian berdua, dan mengenai apartement nanti Fanie tunjukan pada kalian dimana letaknya. Kebetulan ada satu mobil di apartement tersebut, ini kunci mobil beserta surat-suratnya. Bisa om gunakan sebagai transportasi." Fanie menyerahkan kontak mobil beserta surat-suratnya serta amplop coklat besar berisikan uang yang cukup banyak.
"Nak, kami minta bantuan pada orang tua kami, bukan padamu." kata Papi Endrik.
__ADS_1
"Sama saja, om. Lagi pula ini sebagai tanda terima kasihku pada grandma dan grandpa yang selama ini telah mengijinkanku tinggal di sini," kata Fanie dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, Tuhan. Sejahat apa pun mereka dulu padaku, tapi mereka tetap orang tuaku. Aku sama sekali tak tega jika harus membiarkan mereka yang saat ini sedang butuh uluran tangan," batin Fanie.
"Sudahlah, terima saja niat baik Fanie. Anggap saja ini semua pinjaman, jadi kalian harus mengembalikannya," kata grandpa ketus.
"Apa nggak sebaiknya kami pinjam uang daddy saja?" kata Mami Cindy.
"Kami sudah tidak punya uang, tahu sendiri setiap hari kami harus makan. Perlahan-lahan tabungan kami ambil sedikit demi sedikit hingga tak bersisa. Bukankah Endrik juga lama lepas tangan pada kami, mentang- mentang kami punya beberapa lahan tanah. Hingga Endrik tak pernah memberi kami jatah bulanan." sindir grandma ketus.
"Aku tahu maksud ucapanmu, Cindy. Kamu inginnya uang kami, supaya kelak tidak usah mengembalikan, iya kan?" sindir grandpa mendengus kesal.
"Sudah, grandpa grandma. Nggak usah berdebat, lebih baik kita lihat saja apartement yang akan di tempati oleh tante dan om." Fanie bangkit dari duduknya.
Fanie mengajak semua yang ada di ruang tamu ke apartement Fanie yang letaknya tak jauh dari rumah grandpa dsn grandma.
"Ini, tante om. Apartement yang aku maksud, ini kuncinya. " Fanie menyerahkan kunci apartement tersebut pada Papi Endrik.
"Ingat, Endrik Cindy. Ini bukan gratis tapi pinjaman, bukan buat kalian loh!" grandpa mencoba mengingatkan.
"Iya, kami tahu kok. Dan kelak pasti kami kembalikan," jawab Papi Endrik seraya melirik sinis dan mendengus kesal pada grandpa.
"Fanie, om ucapkan terima kasih atas bantuannya. Om janji kelak pasti om kembalikan semua milik Fanie," kata Papi Endrik seraya menyunggingkan senyum pada Fanie.
"Iya, Om. Sama-sama," jawab Fanie singkat.
"Coba senyum ini untuk Phanie bukan Fanie, pasti aku akan bahagia sekali," batin Fanie seraya menghela napas panjang.
Setelah itu Fanie pamit pulang bersama grandma dan grandpa.
Sementara Mami Cindy dan Papi Endrik penasaran dengan isi apartementnya, hingga lekas masuk dalam apartement milik Fanie.
__ADS_1
*******
Mohon maaf jika karya masih remahan rengginang, dan masih banyak typo beterbangan serta PUEBI masih banyak yang salahπππππ