Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Meylan Tidak Percaya


__ADS_3

Setelah sidang selesai Cindy menghampiri Bu Nilam, dan tiba-tiba bersimpuh di kakinya.


"Bu, saya mohon maaf atas segala kesalahan saya di masa lalu. Dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Ibu, saya jadi bisa bebas walaupun bersyarat." Cindy menitikkan air mata haru.


"Bangunlah, Bu Cindy. Saya nggak enak jika di lihat oleh banyak orang." Bu Nilam mengangkat tubuh Cindy untuk bangun.


Akhirnya Cindy bangkit dari bersimpuhnya. Keluarga Cindy juga meminta maaf serta berterima kasih pada Bu Nilam.


Tak lupa keluarga Cindy juga meminta maaf atas kegaduhan yang di lakukan Cindy di rumah sakit pada Dokter Faris dan Dokter Raka. Mereka juga berterima kasih karena Dokter mau mencabut laporannya.


Kini Cindy pulang bersama Endrik dan Meymey ke apartement Endrik. Sementara Fanie terlebih dulu mengurus uang denda untuk jaminan bersyarat Cindy pada aparat aparat hukum.


Setelah semua urusan selesai, barulah Fanie pulang ke rumah karena si kembar tidak bisa di tinggal terlalu lama oleh Fanie.


Sesampainya Cindy di apartement, dia langsung menangis terisak-isak membuat Endrik dan Meymey merasa heran.


"Mami kenapa, sudah bebas kok malah menangis?" tanya Meymey mengernyitkan alis.


"Mami merasa berdosa dan bersalah pada Phanie. Mami masih ingat betul bagaimana dulu, memperlakukan dia. Tapi di saat seperti ini, justru dia yang menolong," Mami Cindy terus saja menangis tersedu-sedu.


"Mami, sudahlah. Bukannya Ka Fanie alias Phanie sudah memaafkan mami. Jadi nggak perlu merasa bersalah terus. Lebih baik kita perbaiki diri, dan menebus kesalahan kita dengan cara berbuat kebaikan." Meymey menghibur Cindy seraya mengusap-usap punggung Cindy.


"Iya, Mey. Benar juga apa yang kamu ucapkan, mami tidak akan mengecewakan Fanie yang telah membebaskan dengan jaminan uang yang tidak sedikit." Cindy sangat antusias.


"Sekarang lebih baik mami istirahat dulu biar rileks dan fresh. Besok pagi saja kita ke rumah Ka Fanie, di sana ada grandma juga." Saran Mrymey.


Cindy menuruti saran dari Meymey, kini dia lekas beristirahat. Karena terasa lelah, apa lagi selama dua tahun di dalam penjara dia selalu kurang tidur karena teman di dalam lapas selalu saja mengganggunya.


********

__ADS_1


Tak terasa pagi menjelang, setelah Meymey dan orang tuanya sarapan. Mereka lekas ke rumah Steven sesuai permintaan Cindy.


Setelah sampai, Cindy terlebih dulu meminta maaf pada grandma atas segala kesalahan masa lalunya.


"Mom, aku minta maaf. Karena selama menjadi menantu, aku tak pernah bersikap baik pada mommy." Cindy bersimpuh di kaki grandma.


"Iya, nak. Mommy sudah memaafkanmu. Tolong berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan jangan pernah membedakan anak yang satu dan lainnya. Setia anak punya kekurangan dan kelebihan." Pesan grandma.


"Iya, mom. Cindy benar-benar menyesal dengan apa yang telah Cindy lakukan. Cindy telah menyia-nyiakan Phanie, tapi di saat Cindy terpuruk malah dia yang menolong." Cindy tertunduk lesu.


"Syukurlah kalau kamu sudah menyadari kekeliruanmu pada Phanie," grandma menyunggingkan senyum.


Kini giliran Cindy bermain bersama dengan cucu kembarnya. Dia merasa sangat bahagia setelah bertemu dengan cucu kembarnya.


Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah siang Cindy teringat akan Meylan. Dia mengajak Endrik dan Meymey lekas ke lapas untuk menjenguk Meylan.


"Mami, bagaimana bisa mami bebas? kok papi sama Meylan nggak cerita padaku, dan kenapa pula kalian nggak mengusahakan aku supaya bebas juga. Kalian pilih kasih." Tiba-tiba Meylan emosi.


Tingkah Meylan ini membuat kaget Endrik, Cindy, juga Meymey.


"Lan, kami minta maaf karena tidak bercerita padamu jika akan membebaskan Mami. Saat itu kami belum yakin akan berhasil seperti ini, jadi kami merahasiakan darimu." Kata Papi Endrik mencoba menenangkan hati Meylan yang sedang iri pada Mami Cindy.


"Bukannya dulu kasusmu ini tidak dapat naik banding, atau tidak dapat kami untuk meminta supaya kamu bebas. Kami dulu pernah meminta pada hakim dan aparat polisi untuk memberi kebijaksanaan, supaya kamu bebas tapi ternyata tidak bisa." Kata Meymey menjelaskan.


"Ah, kalian bohong. Pasti kalian nggak mau membebaskanku, karena pastinya jika kalian menjamin kebebasanku akan mengeluarkan uang banyak, iya kan?" Meylan masih saja cemburu melihat kebebasan Cindy.


"Nak, yang membebaskan mami bukan papi maupun Meymey. Melainkan Fania alias Phanie." Cindy ikut berkata.


"Hah, bagaimana mungkin wanita tak punya asal usul itu sebenarnya Phanie. Dari fisik saja sangat jauh berbeda." Meylan tidak mempercayainya.

__ADS_1


Kemudian Papi Endrik dan Meymey perlahan secara bergantian menceritakan semuanya pada Meylan.


Namun Meylan masih saja tidak percaya jika Fanie adalah Stephanie. Meylan bahkan mengira jika Meymey dan Papi Endrik telah di hipnotis dan di perdaya oleh Fanie.


"Kalian ini terlalu bodoh, mana mungkin Fanie dan Stephanie adalah orang yang sama. Kalian telah di perdaya oleh wanita nggak jelas asal usulnya," Meylan tetap tidak percaya.


"Nak, tapi dia memang Phanie. Mami saja bisa merasakan jika dia adalah Fanie, hati nurani seorang ibu tidak bisa dibohongi." Mami Cindy mencoba meyakinkan Meylan.


"Sudahlah, kalian nggak perlu meyakinkan aku. Misalkan Phanie menjalankan operasi tidak akan sampai secantik dan semulus Fanie. Pasti masih bisa kita kenali." Meylan tetap pada keyakinannya.


"Sudahlah, kalau kalian sudah tak sayang lagi padaku nggak apa-apa. Aku bisa terima kok, nggak perlu kalian beralasan yang tak masuk di akal. Mana mungkin Fanie rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk membebaskan Mami Cindy yang bukan apa-apanya." Meylan bangkit dari duduknya dan berlalu melangkah kembali menuju selnya.


"Nak, kami belum selesai berbicara." Cindy mencoba menahan kepergian Meylan.


"Lebih baik kalian pulang saja, aku nggak mau mendengar cerita kalian memerkan Fanie. Aku yakin itu semua hanya alasan kalian untuk menutupi jika sebenarnya uang Papi sudah habis untuk menjamin kebebasan Mami. Harusnya sebagai orang tua terlebih dulu memikirkan anaknya. Apa kalian tidak tahu, jika didalam sel ini aku sangat tersiksa. Ahhhh, sudahlah!" Meylan melangkah pergi, dia tak lagi menghiraukan Maminya maupun Endrik dan Meymey.


Akhirnya mereka pulang dengan rasa sedih dan kecewa. Terutama Mami Cindy.


"Ya Tuhan, satu anak bertemu tapi aku harus mendapat kebencian dari satu anakku yang lain." Batin Mami Cindy.


"Kenapa pula Meylan tetap tak percaya jika Fanie adalah Phanie?" Batinnya kembali.


"Mi, nggak usah bersedih. Lambat laun Meylan pasti bisa menerima kalau Ka Fanie adalah Ka Phanie," Meymey mencoba menghibur Mami Cindy serasa mengusap pundaknya.


Sementara Papi Endrik hanya bisa menghela napas panjang.


********


Mohon dukungan like vote favorit..

__ADS_1


__ADS_2