
"Mami di sini sehat selalu, kamu sendiri bagaimana? dan apakah kamu suka jenguk papi dan Meylan, bagaimana pula rumah tanggamu bersama Alex?" Serentetan pertanyaan dari Cindy.
"Mey baik, baru saja Mey jenguk Meylan. Mey nggak pernah jenguk papi, rumah tangga kami baik saja," Jawab Meylan sekenanya.
"Bagaimana kondisi Meylan, sebenarnya mami ingin sekali menjenguknya tapi kondisi seperti ini," Mami Cindy tertunduk lesu.
"Meylan baik, bahkan dia yang menasehati Mey supaya tidak membenci mami. Dan supaya Mey sering jengukin mami. Mey minta maaf, mi. Harusnya Mey sadar, jika apa yang dilakukan Mami semua ini juga karena untuk Meymey," air mata Meymey kembali lagi tertumpah begitu derasnya.
"Sudahlah, Mey. Jangan terus merasa bersalah dan meminta maaf, karena bagi mami apa yang kamu lakukan sudah sewajarnya dan nggak salah. Jika mami ada di posisimu juga mami akan melakukan hal yang sama," Cindy mencoba menenangkan Meymey.
Sejenak Meymey sudah bisa bernapas lega. Dia berjanji untuk rutin jenguk Meylan dan Mami Cindy.
"Nak, jenguklah papimu. Kasihan dia, pasti kesepian sendirian." Mami Cindy menasehati Meymey.
"Baiklah, mi. Setelah dari sini, Mey akan jenguk papi." Jawabnya singkat.
Setelah cukup lama menjenguk Mami Cindy, Meymey berpamitan pulang. Meymey menuruti apa yang di sarankan oleh Mami Cindy yakni untuk menjenguk papi Endrik.
Tak berapa lama, sampailah Meymey di apartement yang saat ini di tempati Papi Endrik.
"Papi di rumah nggak ya?" Meymey melangkah ke apartement dan langsung memencet bel pintu rumah.
"Loh, kok pintunya terbuka?" Meymey memberanikan diri melangkah masuk.
"Ya, Tuhan. Papi kenapa?" Meymey terhenyak kaget saat mendapati Papi Endrik pingsan di sofa dengan mulut berbusa.
Segera Meymey berteriak minta tolong warga sekitar apartement untuk mengangkat tubuh Endrik ke dalam mobil Meymey.
"Ya ampun, pi. Kok bisa seperti ini, lagi pula kemana sih asisten rumah tangga papi?" Meymey panik seraya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Hingga hanya dalam waktu 10 menit saja telah sampai di rumah sakit. Meymey langsung berlari menghampiri dua perawat yang sedang berjalan melintas.
"Sus, tolongin papi saya buruan!" Meymey membuka pintu mobilnya.
Dua perawat tersebut langsung saja yang satu memanggil perawat pria dan yang satu mengambil brankar. Segera Endrik di larikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Aku bingung sekali, coba mami dan Meylan nggak di penjara, aku nggak menghadapi hal seperti ini sendiri," Meymey berlari kecil mengikuti arah para perawat membawa Endrik.
Meymey tak di ijinkan masuk ruangan tersebut, dia menunggu di depan pintu ruangan tersebut seraya terus mondar mandir gelisah panik jadi satu.
"Ya ampun, kok lama amat sih! sudah 1 jam aku menunggu tapi belum juga dokter keluar dari ruangan," gerutunya secara mondar-mandir terus.
10 Menit berlalu, akhirnya dokter dan para perawat keluar dari ruang IGD. Meymey lekas menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana kondisi papi saya?" Meymey menatap dokter seraya panik.
"Kondisinya stabil tapi belum sadarkan diri. Terlambat sedikit saja, nyawa pasien tidak akan terselamatkan. Pasien over dosis minuman beralkohol yang di campur atau di oplos dengan obat-obatan," Jawab dokter.
"Jika nanti pasien telah sadar, sebaiknya anda nasehati supaya menjauhi minuman beralkohol," saran dokter.
"Baiklah, dok. Terima kasih," Meymey sedikit bisa bernapas lega.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. Karena masih ada pasien yang harus segera saya tangani." Dokter berlalu pergi di ikuti oleh beberapa para perawat.
Endrik di pindahkan ke ruang kusus perawatan. Meymey mengikutinya dari belakang.
"Pi, untung Meymey datang. Entah apa yang terjadi jika Meymey nggak ada," Meymey mengusap lengan Endrik seraya menitikkan air mata.
"Siapa ini, kalau Cindy dan Meylan nggak mungkin karena mereka ada di dalam penjara. Berarti ini Meymey," batin Endrik seraya tangan kanannya mengusap surai hitam Meymey.
Sejenak Meymey terbangun karena merasakan ada yang mengusap kepalanya.
"Papi, sudah sadar. Syukurlah, aku sempat panik dan khwatir." Kembali lagi Meymey menitikkan air mata.
"Kenapa kamu menangis, papi nggak apa-apa kok. Terima kasih telah menyelamatkan nyawa papi," Endrik berkata lirih.
"Papi, nggak perlu berterima kasih. Justru aku minta maaf, tak pernah menjenguk papi," airmatanya berderai tak terelakkan.
"Papi juga minta maaf, tak pernah menjenguk kamu juga." Endrik menghela napas panjang.
"Sudahlah, pi. Sekarang kita buka lembaran baru, yang lalu biar berlalu." Meymey mengusap lengan Endrik.
__ADS_1
Tiba-tiba Endrik menangis tersedu-sedu.
"Pi, kok malah gantian papi yang nangis? sudahlah, pi." Meymey mengusap air mata Endrik.
"Iya, nak." Endrik mencoba menghentikan tangisnya.
"Pi, tolong kali ini dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku minta papi jangan mengkonsumsi alkohol, apa lagi sampai di campur dengan obat-obatan. Mulalilah hidup sehat seperti dulu kala, kalau bisa jangan main wanita lagi." Meymey menatap sendu Endrik.
"Baiklah, nak. Papi janji nggak akan mengulang hal seperti ini lagi," Endrik berkata lirih seraya mencoba tersenyum.
Sejenak mereka berdua bercengkrama tentang semua hal. Meymey menceritakan kehidupannya juga kondisi Meylan dan Cindy di dalam penjara.
"Pi, bisa kan. Kita akur kembali, menyatu seperti dulu lagi menjadi satu keluarga yang utuh. Walaupun Mami dan Meylan ada di dalam penjara, tapi kita harus terus memberi semangat untuk mereka berdua," Meymey menatap memohon pada Endrik.
"Baiklah, nak. Papi juga merasa kesepian sejak menjauh dari kehidupan kalian. Jika papi telah pulih, akan rutin jenguk mami dan Meylan di dalam lapas," Endrik meyakinkan Meymey.
Meymey telah lupa jika saat ini Alex sedang sakit dan sendirian di rumah. Hingga ponsel Meymey berdering, telpon dari asisten rumah tangganya.
📱" Hallo, Non Meymey, sedang berada dimana? tolong lekas pulang karena Tuan Alex menanyakan keberadaan Nona."
📱" Tolong sampaikan pada suamiku, saat ini aku sedang berada di rumah sakit menemani papi. Aku akan segera pulang."
Setelah itu Meymey mematikan ponselnya.
"Ada apa dengan suamimu, nak?" Endrik penasaran.
"Suamiku sedang sakit, pi. Aku pamit pulang, ntar malam pasti aku kemari lagi." Meymey tersenyum seraya mengusap lengan Endrik.
"Ya sudah, pulanglah. Hati-hati di jalan, kamu nggak usah mengkhawatirkan papi." Endrik tersenyum.
Segera Meymey berlalu pergi dari ruang rawat Endrik. Dirinya melajukan mobilnya dengan cepat supaya lekas sampai di apartement.
Tak berapa lama kemudian sampailah Meymey di apartement. Dia berlari kecil menuju ke kamarnya.
"Mas, sudah bangun. Maaf aku tadi keluar dari jenguk Meylan dan mami di lapas. Setelah itu jenguk papi di rumah sakit, tadi kamu sedang tidur." Meymey menjelaskan supaya tidak kena omelan Alex.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like,vote,favorit