
Teman-teman si kembar bermain begitu lama di apartement yang di tempati oleh keluarganya. Membuat rumah berantakan tak karuan.
"Meymey, Meylan! cepat kemari!" teriak Mami Cindy memanggil si kembar.
"Ada apa sih, mi? baru pulang sudah teriak-teriak?" Meymey dan Meylan mendekat.
"Kamu lihat, kenapa ruang tamu berantakan seperti ini? sampah dimana-mana? dan kalian diam saja tidak membersihkannya!" Mami Cindy mendengus kesal.
"Oh, iya. Tadi ada beberapa teman semasa kuliah datang kemari, kami belum sempat membersihkan. Mami saja yang bersihkan ya, kami cape mau tidur siang." Meymey dan Meylan akan melangkah pergi.
Namun Mami Cindy menahannya.
"Heh, jangan pergi dulu! bersihkan dan rapikan seperti sediakala!" bentak Mami Cindy melotot pada si kembar.
Hingga akhirnya si kembar membersihkan ruang tamu dengan wajah murung. Begitulah mereka, karena selama dulu menjadi orang kaya mereka tak pernah melakukan aktifitas rumah apa pun, hanya berfoya-foya saja.
Mami Cindy melangkah ke dapur, niat hati ingin mengambil minuman dingin di kulkas. Namun dirinya lagi-lagi di buat syok.
"Ya, Tuhan. Persediaan makanan sengaja aku nyetok banyak kenapa pada habis? ini juga dapur berantakan sekali! luar biasa, buah-buahan dan cemilan habis tak tersisa!" Mami Cindy tak bisa berkata lagi hanya bisa mengusap dada seraya geleng-geleng kepala.
"Punya dua anak perempuan sudah dewasa tapi perilaku masih seperti anak-anak, ini semua gara-gara aku dan suamiku terlalu memanjakan mereka, hingga sekarang jadi seperti ini." Gerutu Mami Cindy seraya merapikan dapur.
"Kenapa aku jadi ingat Stephanie?dimana dia sekarang, padahal dia anak yang patuh tak pernah membantah tapi malah aku perlakukan beda dengan si kembar," batin Mami Cindy.
"Mi, mami." teriak Papi Endrik.
"Oh disini, papi laper mi. Ada makanan apakah? kamu habis dari luar bawa makanan nggak?" tanya Papi Endrik.
"Nggak, pi. Mami nggak dapat makanan apa pun, uang yang papi kasih cuma cukup buat bayar arisan dan transport." Mami Cindy sibuk dengan membersihkan dapur.
"Rebusin mie instan saja, mi." Pinta Papi Endrik.
"Rebus sendiri saja, papi lihat kan! mami lagi repot membersihkan dapur yang berantakan karena ulah si kembar dan teman-temannya!" Mami Cindy mendengus kesal.
Sangat terpaksa Papi Endrik merebus mie instan sendiri. Dia juga sempat kaget saat membuka kulkas yang tadinya penuh kini sudah berkurang, juga lemari penyimpanan makanan, iseng di buka oleh Papi Endrik.
Tak ada isinya apapun, membuat Papi Endrik geram dan emosi mengetahui semua karena ulah si kembar.
"Kebangetan banget! kondisi lagi susah seperti ini malah stok makanan di bagi-bagi ke orang!" gerutu Papi Endrik seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
*****
Kebahagiaan kini sedang berpihak pada Fanie dan Steven. Dimana mereka selalu bersama di segala kondisi.
Sejak sama-sama mengutarakan perasaannya, mereka semakin akrab. Bahkan Fanie juga sering bermain ke rumah Steven bercengkrama dengan orang tua Steven.
Semua tinggal menunggu kesiapan hati Fanie saja. Untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.
********
"Sayang, usaha kita semakin lama semakin berkembang pesat," Steven menggenggam jemari Fanie.
"Puji Tuhan, semua berkat kebaikanNya. Makanya kita harus selalu rajin berbagi, steve." kata Fanie tersenyum.
"Iya, sayang. Pasti aku akan selalu dengarkan saranmu," Steve terkekeh seraya mencolek hidung Fanie.
"Jangan cuma di dengarkan, nama di praktekkan dong," rajuk Fanie manyun.
"Itu pastinya sayang," Steven memeluk erat tubuh Fanie.
"Ehem,"
"Eh grandpa sama grandma." Steven lekas melepaskan pelukannya pada Fanie dengan menutupi rasa malu.
"Iya, mom. Mereka bikin iri, jadi daddy ingin muda kembali," grandpa terkekeh.
Keduanya melanjutkan kembali pekerjaannya di perkebunan dengan penuh suka cita.
Kadang sesekali grandpa atau grandma juga berkunjung ke perkebunan mereka hanya untuk sekedar bermain.
Pemandangan itu tak lepas dari sesosok pria, yang dulu pernah mengisi hati Fanie. Pria yang bernama Erik.
Sejak pertemuan terakhir itu, Erik selalu berusaha mendekati Fanie tapi tak pernah berhasil.
Dirinya telah tahu kalau Fanie tidaklah bekerja sebagai asisten rumah tangga, melainkan pemilik beberapa perkebunan.
"Sialan, niatku bekerja di perkebunan Fanie untuk bisa mendapatkan hatinya bukan malah melihat ke romantisan mereka setiap hari."
"Jika aku tak butuh uang juga enggan kerja di sini, harus berkutat dengan tanah setiap hari."
__ADS_1
"Kenapa Fanie tak bisa membuka hatinya sedikit saja buatku, agar ada sedikit celah bagiku untuk meluluhkan hatinya yang sangat keras bagai batu."
"Niat ingin mendapatkan seorang wanita kaya raya, malah dapatnya seperti ini. Mau mundur pun tak bisa, karena saat ini ibuku butuh uang banyak untuk biaya rumah sakit."
Demikian gerutuan Erik saat melihat kebersamaan antara Steven dan Fanie. Satu tahun terakhir dia bekerja di perkebunan Fanie dengan tujuan buruk namun tidak pernah terkabulkan.
Saat Erik tahu jika Fanie seorang wanita sukses, dirinya genjar mendekati Fanie. Sedang Fanie nggak tega saat mendengar Erik butuh pekerjaan untuk membiayai ibunya di rumah sakit.
Fanie iba, hingga memberikan pekerjaan pada Erik. Dia mengesampingkan rasa sakit hati yang pernah di buat oleh Erik. Dia menolong Erik karena rasa kemanusiaannya.
"Bahagianya lelaki yang bisa bersama Fanie, seorang wanita cantik dan masih muda sudah sukses," batin Erik.
"Erik, kerja yang bener kalau nggak ingin di pecat! kamu iri ya sama mereka, sehingga menatapnya seperti itu?" tegur salah satu buruh perkebunan.
"Sok tahu loe, kenapa pula loe nggak fokus kerja malah urusin gwe!" Erik melotot pada buruh perkebunan yang menegurnya seraya mendengus kesal.
Setelah di tegur barulah Erik tersadar hingga kini fokus kembali bekerja, namun dengan suasana hati emosi.
*******
Sore menjelang, semua buruh perkebunan berkemas pulang. Namun terlebih dulu antri untuk menerima gaji mingguan. Gaji yang di berikan setiap hari sabtu.
Steven dan Fanie telah mempekerjakan orang untuk menjadi mandor juga mengurus masalah marketing.
Steven dan Fanie datang ke perkebunan setiap menjelang siang serta menjelang sore.
Mereka selalu bersama dalam mengunjungi setiap perkebunannya.
"Maaf, Nona Fanie. Saya ingin minta tolong bisa nggak?" tiba-tiba ada salah satu buruh perkebunan menghampiri Fanie dan Steven.
"Ada apa, Pak Bowo. Bicara saja, siapa tahu saya bisa bantu bapak," jawab Fanie tersenyum ramah.
"Mari masuk ke ruangan saya," ajak Fanie.
"Sayang, aku ke dalam dulu sama Pak Bowo. Kamu yang melanjutkan semuanya, ya " kata Fanie pada Steven.
"Coba katakan sekali lagi, aku nggak dengar." Steven menaik turunkan alisnya seraya menatap Fanie.
"Sayangku, cintaku, aku ke dalam dulu sebentar." Fanie terkekeh seraya menggelitik pinggang Steven.
__ADS_1
************
Mohon dukungan like, vote, favorite..