Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Cindy Ketahuan


__ADS_3

Mami Cindy pulang larut malam, saat Papi Endrik telah tidur. Papi Endrik ketiduran di sofa menunggu kepulangan Mami Cindy.


"Hem, kenapa pula ini orang tidur di sofa." Mamy Endrik hanya menatap sesaat wajah Papi Endrik.


Namun saat Mami Cindy akan melangkah, lengannya di cekal oleh Papi Endrik yang tiba-tiba telah terjaga.


"Mi, dari mana saja kamu? jam segini kok baru pulang?" Papi Endrik menatap lekat Mami Cindy.


"Maaf, pi. Keasikan ngumpul dengan teman-teman sampai lupa waktu," jawabnya berbohong.


"Nggak usah bohong, mi. Papi telah menelpon semua teman mami, tapi tidak ada satu pun yang tahu tentang keberadaan mami." Papi Endrik menatap lekat Mami Cindy.


"Aduh, bagaimana ini? aku harus alasan apa lagi?" batin Mami Cindy.


"Mi, kok diam saja? wajahmu juga kelihatan panik, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Papi Endrik mulai curiga pada Mami Cindy.


"Kenapa papi curiga sama mami, aku ngantuk sekali. Mau istirahat tidur " Mami Cindy berlalu begitu cepat.


"Hem, ada yang aneh dengan istriku. Aku akan menyelidikinya, lihat saja jika kau macam-macam," batin Papi Endrik.


"Aku harus lebih berhati-hati karena suamiku sudah mulai curiga padaku. Ini gara-gara pulang larut gini," Mami Cindy menghela napas panjang.


*****


Pagi menjelang, Papi Endrik sengaja berangkat kerja agak siangan. Karena ingin menyelidiki Mami Cindy.


"Pi, tumben sudah jam sembilan pagi kok masih di rumah?" Mami Cindy merasa heran.


"Ngusir, nggak suka kalau aku belum pergi?" Papi Endrik mendengus kesal.


"Ih, papi kok sensitif banget. Seperti seorang wanita yang sedang datang bulan," Mami Cindy berlalu ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian, selesailah Mami Cindy. Papi Endrik buru-buru mandi pula.


"Pi, mami pergi dulu. Sarapan sudah aku siapin ya," Mami Cindy akan melangkah keluar dari kamar, tapi Papi Endrik mencegahnya.


"Mau kemana, mi? Sekarang kamu kok tiap hari pergi dan jarang banget di rumah?" Papi Endrik mulai curiga.


"Sekarang kan mami mulai usaha jual berlian, otomatis harus menawarkan dari rumah ke rumah." Jawabnya singkat.


"Oh, ya sudah hati-hati." Kata Papi Endrik.

__ADS_1


Segera Mami Cindy melangkah keluar apartement. Papi Endrik pun lekas mengambil kontak mobil dan lekas melajukan mobilnya mengikuti taxi on line yang sedang di naiki Mami Cindy.


"Kemana arah taxi on line yang di tumpangi istriku, aku ingin tahu apakah dia benar-benar menawarkan berlian dari rumah ke rumah," gerutunya seraya terus fokus mengemudi.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Mami Cindy di sebuah hotel besar.


"Loh, kok Cindy berhenti di hotel?" Papi Endrik semakin curiga.


Dia memarkirkan mobil dan lekas mengikuti kemana pergi istrinya.


"Loh, kok Cindy masuk ke sebuah kamar hotel?" Papi Endrik semakin merasa curiga.


Cindy masuk dalam kamar hotel tersebut dan langsung menguncinya.


"Aduh, bagaimana caranya aku bisa tahu di dalam Cindy dengan siapa?" batin Papi Endrik.


Papi Endrik menajamkan telinganya di pintu kamar hotel dimana di dalamnya ada Cindy.


"Sayang, aku sudah kangen sekali."


"Apa lagi aku sayang, lebih kangen padamu."


"Iya lah, sayang. Karena servisanmu begitu memuaskan."


Obrolan yang sempat di dengar oleh Papi Endrik lewat balik pintu kamar hotel membuat dia geram.


"Jadi Cindy bersama pria lain, selama ini aku telah di bodohi. Ternyata Cindy telah selingkuh dariku," Papi Endrik geram bukan kepalang.


"Tok tok tok," Papi Endrik sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Siapa sih itu, ganggu saja orang mau bermesraan?" Cindy geram.


"Biar aku saja yang buka," pria yang bersama Cindy melangkah ke arah pintu tanpa ada rasa curiga.


Dia langsung membuka pintunya, dan tiba-tiba sebuah pukulan melayang ke perut pria tersebut.


Papi Endrik menyeret paksa pria tersebut dan membawa masuk ke kamar hotel. Cindy yang dalam kondisi setengah polos merasa kaget saat melihat ada suaminya.


"Pa-papi? bagaimana bi-bisa?" Cindy ketakutan dan panik.


"Jadi begini perbuatanmu di luaran, tidur dengan pria lain!" Papi Endrik mendengus kesal dan mengepalkan tinjunya.

__ADS_1


"Oh, jadi ini suamimu? ternyata jelek dan tua, masih mending aku. Pantas saja Cindy berpaling padaku, lihatlah dirimu. Sudah tua jelek miskin pula " ejek pria selingkuhab Cindy.


"Bug bug," kembali lagi Papi Endrik memukul perut pria tersebut.


"Sudah, pi!" Cindy mencoba melerai.


"Pukul saja terus, biar aku gampang menyeretmu ke kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan!" tantang pria tersebut.


"Kamu pikir aku takut, justru aku bisa tuntut balik! karena kamu telah merebut istri orang!" Papi Endrik mengancam balik


"Aduh, kalah telak aku. Jika dia bongkar perselingkuhanku dengan istrinya, pasti istriku akan tahu. Aku pasti habis sama istriku," batin pria tersebut.


"Ma-maafkan aku, aku khilaf mas. Aku janji nggak akan ganggu Cindy lagi, tapi tolong jangan di buka aib ini." Pria ini pura-pura minta maaf dan menangkupkan ke dua tangannya.


"Ayuk pulang, buruan pake bajumu! dasar wanita murahan!" Papi Endrik melempar baju Cindy dan menyuruhnya lekas berpakaian.


Setelah Cindy berpakaian, Papi Endrik menarik paksa keluar dari kamar hotel tersebut dan membawanya pulang.


Selama dalam perjalanan pulang, keduanya tak bertegur sapa di dalam mobil. Hanya diam seribu bahasa tanpa sepatah kata.


Sesampainya di dalam apartement, barulah Papi Endrik meluapkan marahnya.


"Tega banget kamu selingkuhin aku! sudah berapa lama kamu menjalin hubungan terlarang dengan pria tadi! dan sudah berapa kali kamu tidur dengannya!" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Papi Endrik.


"Kamu ingin tahu berapa lama hubunganku dengannya, dari awal kamu alami kebangkrutan. Dan aku sudah berkali-kali tidur dengannya." Jawab Cindy dengan lantangnya.


"Tega kamu melakukan ini padaku!" Papi Endrik mendengus kesal.


"Jelas tega, karena kamu juga telah tega membuatku hidup susah dan sengsara!" Cindy menjawab sembari melotot.


"Kamu pikir semua yang terjadi atas kemauanku, dan apa kamu lupa aku juga sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, semua itu demi kamu dan anak-anak," Papi Endrik melotot seraya berkacak pinggang.


"Tapi semua yang kamu lakukan nggak ada hasil, kamu cuma bisa buka usaha expedisi. Tetap berbeda dengan usahamu yang dulu," ejek Cindy.


"Semua nggak instan harus berproses dan harus sabar!" bentak Papi Endrik.


"Setelah aku tahu perbuatanmu ini, aku jadi jijik padamu. Mulai sekarang kita pisah ranjang, dan kamu jangan tidur di kamar. Aku juga akan urus surat perpisahan kita, biar kelak kamu lebih bebas berpacaran dengan pria mana pun yang bisa membahagiakanmu!" Papi Endri melangkah ke kamar dan menguncinya dari dalam.


**********


Mohon dukungannya ka..

__ADS_1


__ADS_2