
Kembali lagi air mata grandma tertumpah begitu derasnya. Membuat Fanie penasaran dan bertanya pada grandma.
"Grandma, memang apa yang di katakan papi?" Fanie menghapus air mata grandma.
"Endrik menolak untuk kemari, dia bahkan lebih mementingkan urusan kantornya daripada mengurus pemakaman grandpa." Bulir bening terus saja keluar dari mata grandma.
"Ya Tuhan, ini sudah keterlaluan! sebaiknya Fanie ke sana untuk menyadarkan papi siap tahu kali ini papi mau mendengar perkataan Fanie." Fanie bangkit dari duduknya, namun grandma dengan cepat meraih tangan Fanie.
"Cu, sudahlah. Biarkan saja papimu seperti itu, suatu saat dia akan merasakan bagaimana rasanya tak di anggap." Grandma melarang Fanie pergi.
Sementara Steven sibuk memberi kabar pada orang tuanya, kerabat grandpa, para tetangga, dan para sahabat grandpa.
"Ya, sudah. Fanie di sini saja menemani grandma." Fanie mengusap punggung grandma supaya grandpa sedikit merasa tenang.
Tak berselang lama, telah berkumpul banyak orang di rumah grandma. Banyak pula yang menanyakan Endrik.
Sebelum di makamkan, almarhum grandpa di bawa ke rumah duka. Untuk mendapat penghormatan terakhir, dan doa dari semua yang hadir yang di pimpin oleh seorang pendeta. Setelah itu barulah di bawa ke pemakaman.
3 Jam berlalu, pulanglah grandma di dampingi oleh Fanie dan Steven. Untuk sementara Fanie dan Steven menginap di rumah grandma untuk menemaninya.
"Aku nggak menyangka, papi begitu tega sama grandma. Sama orang tua sendiri kok kejam!" Ucapnya geram.
"Bunny, kamu nggak boleh marah. Kamu kan sedang hamil, nggak boleh marah apalagi benci sama orang," Steven mencoba menasehati Fanie.
"Iya, maaf. Sampai lupa, karena nggak tega saja melihat grandma. Harusnya papi sebagai anak semata wayang nggak boleh egois, seperti ini pasti grandma sedih." Fanie menghela napas panjang.
"Sudahlah, bunny. Yang terpenting sebagai anak, kamu jangan pernah lelah berdoa untuk papimu supaya lekas sadar akan kesalahannya," Steven menasehati Fanie kembali.
Sementara di kamar grandma, tak hentinya menangisi grandpa yang telah tiada. Dan menangisi Endrik yang sama sekali tidak peduli dengan kematian ayah kandungnya.
__ADS_1
"Dad, mommy minta maaf. Karena mommy gagal mendidik Endrik sehingga kini dia tumbuh menjadi anak yang sangat egois, bahkan sama sekali tidak peduli denganmu di saat terakhirmu." Grandma berderai air mata seraya mengusap foto almarhum grandpa.
"Ya, Tuhan. Aku merasa sangat kecewa dengan kelakuan Endrik, aku sungguh nggak menyangka membesarkan seorang berkepala batu yang sama sekali tidak berbakti pada orang tua dan tidak ada sedikitpun belas kasih apa lagi peduli dan perhatian pada orang tua." Grandma terus saja berkeluh kesah dan berderai air mata.
Dia sama sekali nggak menyangka, anak semata wayang yang dari bayi di rawat dengan penuh kasih sayang olehnya dan suaminya, sama sekali tak peduli padanya. Padahal dulu dia dan suaminya selalu menomor satukan segala kebutuhan Endrik.
********
Pagi menjelang, situasi di rumah grandma masih banyak yang melayat. Hampir semua orang yang melayat mempertanyakan ketidak hadiran Endrik.
Grandma tak bisa menjawab setiap ada orang yang bertanya tentang Endrik, dia hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa berkata sepatah katapun.
"Bunny, kamu lihat kan? hampir semua tamu yang datang melayat mempertanyakan Papi Endrik, pasti hati grandma sangat sedih." Fanie menghela napas panjang.
"Ya sudah, aku coba ke rumah papimu untuk membujuknya datang kemari. Kamu jangan bersedih, kasihan anak kita." Stevrn bangkit dari duduknya dan segera melajukan mobil menuju apartement Endrik.
Hanya lima menit perjalanan telah sampai di halaman apartement Endrik. Kebetulan Papi Endrik dan Meymey akan berangkat ke kantor.
"Ada apa, pagi-pagi kemari?" Endrik melirik sinis pada Steven.
"Om, saya mohon untuk kali ini saja. Om ke rumah grandma, kasihan dia merasakan kesedihan seorang diri. Apa om nggak kasihan, semua pelayat juga menanyakan om kenapa nggak ada di saat grandpa meninggal." Steven menangkupkan kedua tangannya di tangan.
"Sudah ku bilang, aku nggak akan datang ke rumah mommy. Jadi percuma saja kamu membujukku, aku tidak akan luluh dengan bujukanmu itu. Pulanglah, aku akan bekerja." Endrik mengusir Steven.
Endrik sama sekali tak menghiraukan Steven, dia langsung masuk dalam mobilnya dan lekas melajukannya.
"Ya Tuhan, kok ada seorang anak kandung tega sama orang tuanya. Bahkan di saat ayahnya meninggal sama sekali nggak datang bahkan nggak ada rasa kehilangan." Gerutu Steven seraya berjalan masuk dalam mobilnya.
Sementara di dalam mobil, Meymey memberikan diri bertanya pada Endrik.
__ADS_1
"Pi, kok aku nggak tahu kalau grandpa telah meninggal? kenapa papi nggak ke sana, grandpa kan orang tua papi. Pasti saat ini grandma sedih sekali." Meymey mencoba menyadarkan Endrik.
"Kok kamu jadi membela grandma, bukannya selama ini grandama nggak sayang sama kamu, dan selama hidup grandpa juga nggak pernah peduli padamu ataupun pada Meylan." Endrik melirik sinis pada Meymey.
"Bukannya membela, tapi memang tindakan papi salah. Dari dulu grandma maupun grandpa selalu perhatian dan sayang sama aku dan Meylan. Justru kita yang kurang perhatian pada mereka." Meymey terus saja mencoba menyadarkan Endrik.
"Pi, sebaiknya kita ke rumah grandma untuk memberi penghiburan. Lagi pula, kelak peninggalan grandma bakalan buat papi, kan?" Meymey terus saja membujuki Endrik untuk bersedia ke rumah grandma.
Sejenak Endrik hanya terdiam tak menghiraukan perkataan dari Meymey.
"Sebenarnya apa yang di ucapkan oleh Meymey ada benarnya, kalau aku nggak kesana kelak peninggalan mommy jatuh ke tangan anak yang nggak jelas asal usulnya itu," batin Endrik.
Hingga akhirnya Endrik memutar balik arah, mengurungkan niatnya ke kantor. Tapi melajukan mobilnya ke rumah grandma.
Hanya sepuluh menit perjalanan, sampailah Endrik dan Meymey di rumah grandma Situasi masih ramai oleh para pelayat.
"Untuk apa kamu datang kemari, percuma saja daddy sudah di makamkan. Kemana saja kemarin, saat mommy minta kamu kemari menolak dengan alasan kantor. Pulanglah, mommy nggak ingin melihatmu!" grandma mendengus kesal saat melihat kedatangan Endrik.
"Grandma, tolong maafkan papi. Kemarin memang di kantor sedang banyak kerjaan sehingga kami tak sempat kemari," Meymey mencoba meluluhkan hati grandma.
"Alasan, sesibuk apapun harusnya di sempatkan hadir. Bagaimanapun daddy adalah ayah kandungmu, yang membesarkanmu, menyekolahkanmu hingga kamu jadi orang sukses! dasar anak durhaka!" grandma sangat emosi.
"Grandma, sudahlah jangan seperti ini. Maafkanlah mereka, setidaknya mereka telah datang kemari." Fanie mencoba mencairkan suasana.
Namun grandma terlanjur kecewa dan sakit hati pada Endrik hingga tak menghiraukan kedatangan Endrik.
Endrik terpancing emosi hingga pergi begitu saja tanpa berpamitan ataupun mengucap sesuatu pada grandma.
********
__ADS_1
Mohon dukungan like, fav, vote..