
"Puji Tuhan ya, grandma grandpa. Apa yang Fanie impikan telah terwujud" Fanie memeluk sepasang suami istri yang sudah tak muda itu.
"Iya, cu. Kami turut senang, semua karena kegigihanmu dan kamu jangan melupakan Steven," grandpa mengingatkan.
"Iya, aku nggak akan melupakan kebaikan Steve. Yang selalu ada di sampingku dalam segala kondisiku," Fanie merenggangkan pelukannya.
"Cu, apa kamu tak merasakan jika Steve suka padamu?" grandma menatap lekat Fanie.
"Steve cintanya pada Stephanie, bukan Fanie." Jawab Fanie tertunduk lesu.
"Kamu kan juga Phanie, apa nggak sebaiknya sekarang kamu jujur pada Steve siapa jati dirimu yang sebenarnya?" grandpa memberi saran.
"Fanie bingung, grandpa. Bagaimana cara ngomongnya ke Steve, takut dia marah setelah tahu kebenarannya." Fanie tertunduk lesu.
"Cu, apakah kamu sudah bisa membuka hatimu untuk Steve?" grandma tiba-tiba bertanya.
Fanie hanya diam saja seraya tersipu malu mendengar pertanyaan grandma. Selagi asik bercengkrama dengan grandma dan grandpa, datanglah Steven.
"Shalom, grandma grandpa. Sedang apa nech, sepertinya kok asik banget?" tanya Steven terkekeh.
"Sedang ngomongin kamu, Steve." Jawab grandpa terkekeh.
"Masa sih, pantes telingaku panas," Steve terkekeh seraya sesekali melirik pada Fanie.
"Steve telah memutuskan akan ke Luar Negeri untuk mengurus bisnis papah yang di sana, Steve kemari untuk pamit pada kalian semua," kata Steven pasang wajah serius.
"Kamu serius, Steve." tiba-tiba Fanie berkata.
"Ya, Fanie." Jawab singkat Steven.
"Maaf, Fanie. Aku berbohong padamu, karena ingin tahu sebenarnya tentang perasaanmu padaku," batin Steven.
"Kenapa kamu diam, Fanie?" tanya grandpa.
"Ya, Cu. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan pada Steve, mumpung dia ada di sini. Jangan sampai kamu menyesal jika dia sudah pergi jauh darimu," grandma membujuk Fanie.
"Memang kamu ingin ngomong apa, Fanie? katakanlah, baik maupun buruk aku siap mendengarnya kok." Steven ikut pula memojokkan Fanie.
"Baiklah, Steve. Aku ingin mengatakan tentang kejujuran padamu, tapi sebelumnya aku minta maaf dan aku mohin kamu jangan marah padaku ataupun pada grandpa dan grandma," kata Fanie agak sedikit ragu.
"Katakanlah, aku janji takkan marah pada siapa pun." Steven semakin penasaran.
__ADS_1
"Begini, Steve. A-aku sebenarnya adalah Stephanie, yang telah berhasil merubah postur tubuh dan wajah jadi seperti ini." kata Fanie seraya gugup dan tertunduk lesu.
"Jujur, sebenarnya aku juga sudah tahu. Saat kamu dan grandpa serta grandma ngobrol selesai sarapan, waktu aku pamitan pulang. Sebenarnya aku tidak langsung pulang, tapi mendengarkan obrolan kalian." Kata Steven tersenyum.
"Jadi kamu telah tahu sejak lama, tapi kenapa kamu diam saja tak menegurku?" tanya Fanie tersipu malu.
"Aku memang sengaja, Fanie." kata Steven singkat.
"Sengaja, untuk apa?" grandpa ikut penasaran.
"Anu, grandpa." Steven garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Anu apa, Steve?" grandma ikut menggoda Steven.
"Begini, aku sengaja diam karena ingin membantu Fanie supaya bisa sukses." kata Steven gugup.
"Sudah ya, aku pamit karena sudah do tunggu di bandara." Steven bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
Steven melangkah perlahan sekali seolah berat untuknya pergi. Dan mengharapkan Fanie lekas mengejarnya.
"Ayok Fanie, tahan aku supaya jangan pergi." Batin Steven.
"Fanie, cepat kejar! jangan sampai kamu menyesal nantinya." grandpa menyarankan.
"Tunggu apa lagi," serentak grandpa dan grandma berbicara membujuk Fanie.
"Tapi.."
"Sudah buruan, nggak usah pake tapi segala!" serentak kembali grandpa dan grandma berkata.
Hingga akhirnya Fanie lekas berlari keluar untuk mengejar Steven.
"Yaaaahhh, Steve sudah jauh. Padahal baru saja keluar dari pintu gerbang. Kok cepat sekali hilangnya, Steve aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Fanie berkata sendiri seraya tersengal-sengal dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lututnya.
"Katakanlah yang ingin kamu katakan, Fanie." katanya.
Sepintas Fanie melihat seseorang telah berdiri di hadapannya, dia langsung berdiri tegak.
"Steve, aku.."
"Aku apa Fanie?" Steven tak sabar dengan apa yang ingin Fanie katakan.
__ADS_1
"Aku ingin kamu jangan pergi dari Indo, apa nggak bisa kamu bekerja di daerah sini saja. Bukannya kantor papahmu di kota ini ada beberapa cabang, untuk apa kamu jauh-jauh ke Luar Negeri?" Fanie berkata panjang lebar seraya tertunduk malu.
"Memang untuk apa kamu melarangku dan menahanku pergi?" tanya Steven.
"Karena..karena.."
"Karena apa, Fanie?" Steven terus saja memojokkan Fanie.
"Karena kamu sangat berarti buatku," Fanie berkata seraya tertunduk dan menutup mata menahan malu.
Steven menghampiri Fanie dan mengangkat dagu Fanie supaya menatapnya.
"Apalagi dirimu, sangatlah berarti buatku. Inilah saat yang telah aku tunggu sejak lama," Steven menatap lekat Fanie.
"Aku suka padamu dari kamu belum operasi plastik, tapi saat itu aku ingin jujur nggak berani." kata Steven.
"A-apa yang kamu katakan serius?" tanya Fanie serasa tak percaya.
"Kalau aku nggak serius untuk apa aku bertahan menemanimu satu tahun lebih di sini," kata Steven seraya mencolek hidung Fanie yang mancung.
"Fanie, maukah kamu jadi pendamping hidupku?" Steven meraih jemari Fanie seraya menatapnya lekat.
"Steve, jangan buru-buru menikah. Kita jalani dulu apa adanya, kamu kan belum tahu semua kekuranganku, aku khawatir kamu menyesal di kemudian hari." Kata Fanie seraya tertunduk.
"Aku nggak akan menyesal, Fanie. Tapi baiklah, kita jalani dulu selain untuk adaptasi juga untuk kita bisa mengerti kekurangan dan kelebihan kita satu sama lain," kata Steven tersenyum manis.
"Apa ragu, Steve. Apakah orang tuanmu akan setuju dengan hubungan kita, jika tahu kalau aku yang sebenarnya adalah Stephanie," Fanie kembali lagi tertunduk.
"Kamu nggak usah khawatir, jauh hari aku telah cerita. Dan orang tuaku tak melarangku berhubungan denganmu, yang terpenting wanita baik." kata Steven meyakinkan Fanie.
"Terima kasih, Steve. Kamu telah menerimaku dengan segala kekuranganku. Dan di saat semua orang meninggalkanku, kamu malah selalu ada buatku." Fanie tersenyum riang.
"Aku berbuat seperti itu karena aku sangat mencintaimu, mungkin juga Tuhan telah menakdirkan kita untuk berjodoh. Hingga aku selalu ada di dekatmu, di saat semua orang mencelamu." Tiba-tiba Steven memeluk tubuh Fanie.
"Mulai sekarang, kita jalani semua bersama. Sedihmu sedihku, jadi jangan kamu tutupi apa pun dariku," kata Steven seraya mengusap surai hitam Fanie.
"Iya, Steve. Sekali lagi terima kasih untuk segala pengorbananmu padaku," Fanie menyandarkan kepalanya di dada bidang Steven.
"Yuk, kita balik ke rumah grandpa." Steven menuntun Fanie.
"Kamu beneran nggak jadi pergi kan, Steve?" tanya Fanie ragu.
__ADS_1
"Nggaklah, aku cuma menjahilimu saja. Ingin tahu isi hatimu padaku," jawab Steve terkekeh.
Keduanya berjalan berdampingan menuju rumah grandpa