
Sasa dan Doni telah di hukum seumur hidup, kini Reynold sudah tidak takut lagi dengan ancaman mereka.
Reynold menjalankan perusahaan papinya dengan nyaman. Bahkan kini hubungannya dengan Meymey semakin dekat saja.
Hampir setiap hari, Reynold selalu menyempatkan diri singgah di apartement atau di kantor Endrik hanya untuk bertemu dengan Meymey.
Hingga pada suatu hari, Endrik dan Cindy mengajak bicara serius dengan Meymey.
"Mey, duduklah. Papi dan mami ingin bicara sebentar saja denganmu." Perintah Mami Cindy.
"Baiklah." Meymey menjatuhkan pantatnya di sofa.
Setelah Meymey duduk di sofa, barulah Endrik mulai berbicara.
"Nak, bagaimana hubunganmu dengan Reynold?" tiba-tiba Endrik bertanya.
"Hubungan kami baik-baik saja, pi. Memamgnya ada apa?" Meymey mengernyitkan kening.
"Maksud kami, apakah kalian ini menjalin hubungan kasih misal pacaran?" tanya Mami Cindy.
"Nggak ko, mi. Sejauh ini kami cuma sebatas teman. Lagi pula mana mungkin dia mau sama janda sepertiku." Kata Meymey terkekeh.
"Kalau misalkan Reynold mengungkapkan cintanya padamu, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Mami Cindy mengedipkan matanya.
"Mami jangan halu, mana mungkin Reynold suka sama janda." Meymey tertunduk lesu.
"Kita kan nggak tahu, jika ternyata dia nggak permasalahkan masa lalumu. Apakah kamu bersedia menerimanya?" Kini giliran Endrik yang bertanya.
"Entahlah, pi. Meymey benar-benar trauma dengan percintaan, apa lagi dulu Mey memilih pria yang salah dan memilih pergaulan yang salah." Meymey menghela napas panjang.
"Berarti selama kamu dekat dengan Reynold, sama sekali tidak ada perasaan apapun?" tanya Mami Cindy.
Pertanyaan Mami Cindy membuat Meymey tersipu malu. Dan hanya diam saja.
"Tak perlu kamu jawab, kami telah tahu jawaban dari rona merah pipimu yang seperti kepiting rebus." Goda Mami terkekeh.
"Ist, memangnya mami cenayang?" Meymey semakin merona pipinya.
"Nak, kamu nggak usah pesimis. Jika kamu cinta dan suka dengan Reynold, baiknya kamu kejar dia." Saran Papi Endrik.
"Masa seorang perempuan menyatakan cintanya terlebih dulu?" Meymey mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu maksud, papi. Tapi setidaknya saat kamu dekat dengannya tunjukan segi positifmu, supaya semakin hari Rey semakin terpesona padamu dan tak bisa melupakanmu. Sehingga lambat laun dia akan mengungkapkan isi hatinya padamu." Kata Papi Endrik panjang lebar.
"Usul papimu sangat bagus buatmu, Mey." Mami Cindy mendukung saran dari Papi Endrik.
"Baiklah." Jawab singkat Meymey.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka bercengkrama, akhirnya mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Meymey merebahkan badannya di pembaringan, matanya menatap langit-langit kamar.
Pikirannya menerawang jauh tarveling emtah kemana.
"Coba saat ini aku punya seorang kekasih. Pasti malam minggu ini, aku nggak akan kesepian." Gerutu Meymey.
Selagi menggerutu sendiri, ponselnya berdering yang tak lain panggilan telpon dari Reynold.
📱"Mey, kamu sedang apa dan dimana?"
📱"Sedang di kamar bersantai, memangnya ada apa?"
📱"Apa kamu nggak malam mingguan dengan pacarmu?"
📱"Kamu itu ngaco dech, bukankah kamu sudah tahu kalau aku nggak punya pacar."
📱"Kali saja sekarang sudah punya pacar."
📱"Mimpi kali, mana ada yang mau sama aku."
📱"Mey, aku ingin mengajakmu keluar. Apakah kamu bersedia?"
📱"Boleh dech, dari pada aku suntuk di kamar nggak ada kegiatan sama sekali."
Setelah itu keduanya mematikan panggilan telpon, Meymey lekas bersiap-siap. Tak berapa lama kemudian, Reynold telah sampai di halaman apartement.
Terlebih dulu Rey dan Mey berpamitan pada Endrik dan Cindy. Setelah itu barulah Rey mengajak Mey pergi.
"Mey, kok kamu diam saja?" tanya Reynold melirik di sela mengemudinya.
"Memangnya aku harus bagaimana, dan harus cerita apa?" Meymey tertunduk malu.
"Kamu nggak suka ya, jalan denganku?" tiba-tiba Reynold bertanya pertanyaan konyol.
Mey hanya terdiam saja, entah apa yang sedang di pikirkannya.
Reynold menghentikan mobilnya di suatu gedung bioskop.
"Mey, nggak apa-apa kan? aku ajak kamu nonton, ya kita ikut-ikutan gaya anak muda sekarang." Canda Reynold terkekeh.
"Nggal apa-apa kok." Jawab singkat Meymey.
Reynold sengaja memilih tontonan yang bisa membuat orang tertawa ngakak. Karena Reynold ingin melihat tawa Meymey. Selama mereka bersama, Reynold belum pernah melihat tawa Meymey.
Dan saat film di putar, Meymey selalu saja tertawa ngakak tanpa sadar.
__ADS_1
"Ternyata kamu bisa tertawa juga, Mey. Aku pikir kamu sama sekali tak bisa tertawa." Batin Reynold seraya tersenyum riang.
2 Jam sudah acara film di bioskop telah selesai. Reynold mengajak Meymey makan di sebuah cafe terkenal.
Reynold sengaja memilih tempat duduk yang strategis, jauh dari tempat duduk lainnya.
"Mey, aku ingin bicara penting denganmu. Tolong kamu dengarkan baik-baik, ya?" Reynold sedikit salah tingkah.
"Memang sepenting apakah, sampai kamu terlihat gugup seperti ini?" Meymey menatap heran dengan tingkah Reynold.
"Mey, maukah kamu menikah denganku?" Reynold tiba-tiba menggenggam jemari Meymey seraya menatap sendu dirinya.
"What, apa kamu sedang bercanda denganku?" Meymey sedikit menutupi rasa gugupnya.
"Aku serius, Mey. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku." Reynold meyakinkan Meymey.
"Tapi aku tak pantas untukmu, Rey." Meymey tertunduk lesu.
"Apa maksud ucapanmu seperti itu, apa kamu tak bersedia menikah denganku?" Reynold mengernyitkan alis.
"Aku tahu, Mey. Selama ini kita sering bersama tapi sebatas teman, bukan pacaran. Akan tetapi semua ini sudah cukup bagiku mengenal dirimu. Aku nggak ingin berpacaran." Reynold meyakinkan Meymey.
"Aku punya masa lalu, Rey." Kembali Meymey tertunduk.
"Semua orang punya masa lalu, tapi janganlah masa lalumu itu menghambat masa depanmu." Reynold menyunggingkan senyum.
"Rey, dengarkan dulu ceritaku. Setelah tahu semua masa laluku, pasti kamu akan berubah pikiran untuk menikahiku." Meymey merasa gelisah tak menentu.
"Baiklah, ceritalah. Biar aku dengarkan." Ucapnya menatap sendu Meymey.
Meymey menceritakan semua masa lalunya pada Reynold tanpa ada yang di tutupinya. Walaupun Meymey sesekali tertunduk karena malu.
"Aku tak pantas untukmu, carilah wanita yang masih gadis. Jangan seperti aku." Ucap Meymey tertunduk malu.
"Kini giliran aku yang bercerita ya, Mey. Tolong kamu dengarkan aku." Kata Reynold.
"Baiklah, Rey. Jawabnya singkat.
"Aku sudah tahu semua cerita masa lalumu dari orang tuamu. Dan bagiku tidak ada masalah sama sekali. Walaupun kamu pernah menikah dan pernah punya anak, itu tak merubah niatku untuk menikahimu. Karena aku sudah sangat nyaman denganmu." Reynold berkata panjang lebar.
"Jadi, kamu sudah tahu semua tentangku. Bahkan aku tak tahu kapan orang tuaku bercerita padamu?" Meymey mengernyitkan alisnya.
"Akupun telah lupa, kapan aku ngobrol dengan orang tuamu tanpa ada dirimu. Sekarang tolong jawab tanyaku, apakah kamu bersedia menikah denganku? karena aku butuh istri, bukan pacar." Kembali lagi Reynold berkata.
************************
Mohon dukungan like,vote,favoritnya..
__ADS_1