Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Tambah Ruwet


__ADS_3

Setelah menyerahkan uang seratus juta, temannya berpamitan dengan alasan ada urusan yang lain yang harus segera di selesaikan.


"Maaf, bro. Aku nggak bisa berlama-lama karena sedang di tunggu orang yang sama sepertimu ingin bergabung dalam investasi ini." Temannya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan Papi Endrik.


"Baiklah, bro. Nggak apa-apa, aku akan selalu menunggu kabar baik darimu." Papi Endrik juga bangkit dari duduknya, membalas jabatan tangan dari temannya.


Temannya berlalu pergi dengan senyum penuh kemenangan.


"Ini yang namanya orang pintar di perdaya orang bodoh. Endrik Endrik katanya lulusan kuliah, tapi di bodohi sama lulusan SLTA," batin teman Papi Endrik.


Seperginya temannya, Papi Endrik lekas pulang. Tanpa Papi Endrik sadari, di cafe tersebut juga ada Meymey bersama pacarnya.


Bahkan Meymey terlebih dulu yang melihat keberadaan Papi Endrik.


"Ya ampun ada papi, kok bisa papi ada di cafe ini? untuk apa sih?" batin Meymey seraya tertunduk pura-pura mencari sesuatu yang jatuh.


Karena Papi Endrik sedang melangkah melewati meja yang saat ini ada dirinya dan pacarnya.


"Sayang, ada apa? apa ada yang terjatuh?" pacar Meymey bertanya.


"I-iya, om. Antingku tiba-tiba terlepas." Jawab Meymey dari bawah kolong meja.


"Sudahlah sayang, biarkan saja. Nanti aku belikan yang baru yang lebih modis dan lebih mahal." Pacarnya berkata.


"Sudah ketemu kok,om. Meymey telah melihat Papi Endrik pergi, hingga berani duduk di kursinya kembali.


"Lihatlah, om. Sudah aku pasang lagi antingnya." Meymey menunjukkan antingnya.


"Sykurlah, sayang. Lain kali nggak usah di cari kalau sudah jatuh atau hilang biarkan saja. Kamu bisa meminta padaku untuk di belikan yang baru." Pacarnya mencium punggung tangan Meymey.


"Terima kasih ya, om. Selalu saja peduli dan perhatian padaku." Meymey membalas mengecup tangan pacarnya.


"Iya, sayang. Karena kamu juga perhatian dan peduli pada om, bahkan selalu bisa membuatku bahagia atas servisanmu di ranjang. Om jadi nggak tahan, pengen nech." Pacar Meymey menaik turunkan alisnya.


"Sabar, om. Setelah kita makan, aku pasti akan memberi yang terbaik buat om." Meymey mengedipkan matanya dengan genitnya.


Mereka makan sembari bercanda ria bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


Sementara Meylan juga sedang sibuk dengan urusannya.

__ADS_1


"Deal ya, girls. Next aku order ke loe saja yang harganya pas di kantong anak kuliahan seperti gwe," ucap salah satu konsumennya.


"Yups, siap bro. Tapi ingat, nggak usah berisik khawatir ketahuan om pol ya," bisik Meylan.


"Om Polisi maksudnya," bisiknya kembali terkekeh.


"Gwe pulang dulu, bro. Yuk semua, besok gwe kemari lagi." Meylan mengantongi hasil penjualan sabu dan ganja.


Setelah itu melangkah pulang dengan memesan taxi on line.


"Hem, kenapa nggak dari dulu gwe jual beginian. Untungnya lumayan banget bisa dua kali lipatnya sendiri," batin Meylan tersenyum sendiri.


Begitulah kehidupan keseharian keluarga Papi Endrik, semua tidak ada yang benar. Dan semua menjalani hidup semaunya sendiri. Seolah tidak ada keluarga di sekitar mereka.


Hanya harta benda yang mereka cari saat ini, bahkan mereka tak pernah bercengkrama bersama-sama layaknya satu keluarga. Pulang ke rumah bila hanya tidur atau lelah untuk istirahat sebentar, setelah itu pergi kembali.


Satu sama lain tidak ada yang saling peduli, sejak Papi Endrik mengalami kebangkrutan.


*******


Sementara Papi Endrik sedang tersenyum sendiri membayangkan kelak akan mendapatkan uang dua ratus juta.


"Pi, kamu kenapa tersenyum sendiri?" Mami Cindy merasa heran dan aneh menatap suaminya.


"Gini, mi. Aku ikut investasi ke teman aku, jika investasi seratus juta dalam waktu satu bulan uang kita menjadi dua ratus juta," jawab Papi Endrik.


"Investasi macam apa itu, masa segampang itu? lagi pula uang sebanyak itu dapatnya darimana, nggak masuk di akal," Mami Cindy merasa nggak percaya.


"Tapi sudah banyak yang sukses dan menikmati hasil dari investasi itu sampai milyaran rupiah ," Papi Endrik meyakinkan Mami Cindy.


"Bodoh amat kamu, pi. Itu mah penipuan, data orang yang telah menikmati hasil bisa saja data palsu dengan di rekayasa sendiri," Mami Cindy masih tak percaya.


"Sudahlah kalau mami nggak percaya ya nggak apa-apa, bulan depan pasti akan papi tunjukan hasil dari investasi tersebut," Papi Endrik sangat yakin akan mendapat keuntungan.


"Terus papi nggak jadi buka usaha, melainkan uang di pakai untuk investasi?" Mami Cindy menyelidik.


"Nggaklah, mi. Uang seratus juta sudah papi gunakan untuk investasi." Jawab Papi Endrik sekenanya.


"Terus untuk kebutuhan kita sehari-hari bagaimana?" Mami Cindy bingung.

__ADS_1


"Pakai uang mami dulu, katanya mami usaha jual beli berlian. Pasti punya banyak uang kan?" Jawabnya singkat.


"Mami baru mau usaha, belum juga berjalan. Bagaimana mami punya uang?" Elak Mami Cindy.


"Terus setiap hari mami beli makanan enak, barang branded itu darimana uangnya?" tanya Papi Endrik menyelidik.


"Dari uang yang dulu papi kasih, sebelum mengalami kebangkrutan." Jawab Mami Cindy singkat.


"Dulu bilangnya sudah nggak punya tabungan sama sekali, sekarang kok alasan beda lagi. Sebenarnya mana yang benar?" Papi Endrik mencibir.


"Hem, terserah papi mau ngomong apa. Intinya papi harus cari kerja, dan setiap hari harus memberi nafkah buatku juga buat si kembar. Itu kan sudah jadi kewajiban papi, jadi jangan lepas tanggung jawab begitu saja," Mami Cindy mulai tak bisa menahan amarahnya.


"Memang selama ini papi nggak tanggung jawab, kemarin papi dapat uang banyak juga kamu dan si kembar yang menghabiskan. Bagaimana papi mau memberi nafkah, karena uang sudah buat investasi semuanya," kata Papi Endrik.


"Lah, terus kita nggak makan!" Mami Cindy mendengus kesal seraya menghentakkan kakinya emosi.


"Nggak tahulah, papi benar-benar sudah tidak memiliki uang " jawabnya singkat.


"Gadaikan saja mobilnya, pasti kan dapat uang banyak." Saran Mami Cindy.


"Itu mobilnya Fanie." Jawabnya singkat.


"Katanya ingin balas dendam, kok malah seperti iba begitu." Mami Cindy geram.


"Baiklah, besok akan aku gadaikan mobilnya." Menyerah juga Papi Endrik.


"Hem,begitu baru namanya suami tanggung jawab." Mami Cindy mengacungkan ibu jarinya.


"Besok mami ikut ya?" Mami Cindy merengek manja.


"Ya baiklah," Papi Endrik berlalu pergi ke almari mencari surat-surat mobilnya.


Setelah ketemu, di masukkan ke dalam tas pribadinya supaya besok tidak terlupa dan tidak tergesa-gesa.


*****


Pagi menjelang, Papi Endrik pergi bersama Mami Cindy ke sebuah pegadaian untuk menggadaikan mobilnya. Tanpa berpikir untung dan ruginya.


Dia sengaja melakukan itu sebagai ajang balas dendam pada Fanie .

__ADS_1


*******


__ADS_2