
Setelah mendengar penuturan dari Dokter Raka, sejenak Dokter Faris terdiam seolah sedang berpikir.
Hingga tak lama kemudian, dia berkata.
"Baiklah, saya setuju dengan pemikiran Dokter Raka. Kami akan ke kantor polisi untuk mencabut tuntutan kami, tapi Bu Nilam dan suami juga harus ikut dan memberikan keterangan pula" Kata Dokter Faris.
"Terima kasih, dok. Atas kesediaan dokter berdua untuk mencabut tuntutan terhadap mami saya. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan dokter." Fanie menyunggingkan senyum pada Dokter Raka dan Dokter Faris seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Saya juga mengucapkan terima kasih pada, Bu Nilam dan suami. Semoga kebaikan kalian juga di balas oleh Tuhan. Sekali lagi saya mohon maaf atas kesalahan mami saya di masa lalu terhadap kalian." Fanie menyunggingkan senyum pada Bu Nilam dan suaminya serta menangkupkan kedua tangannya.
Setelah saling memaafkan, dan bercengkrama begitu lama. Semua yang hadir segera berangkat ke lapas dimana saat ini Mami Cindy di tahan.
Namun tidak semuanya masuk dalam lapas hanya perwakilan. Yakni Dokter Faris yang waktu itu melaporkan tindak kriminal Mami Cindy serta Fanie dan Bu Nilam.
Sementara yang lain menunggu di luar lapas. Karena di larang untuk masuk ke dalam lapas dengan jumlah orang yang banyak.
Dokter Faris memberikan keterangan pada aparat polisi yang sedang bertugas jaga di lapas tersebut.
Setelah beberapa menit gantian Bu Nilam memberikan keterangan di depan aparat polisi tersebut. Begitu pula dengan Fanie yang memohon pada aparat polisi untuk memberi kebijaksanaan dan bersedia membebaskan Mami Cindy.
Fanie meyakinkan aparat polisi bahwa dirinya menjamin jika Mami Cindy tidak akan mengulang perbuatan jahatnya kembali.
Tak lupa aparat polisi yang bertugas, mencatat semua pernyataan dari Dokter Faris, Bu Nilam, dan Fanie. Semua pertanyaan tersebut akan di laporkannya pada atasannya untuk menjadi bahan pertimbangan mengenai di bebaskan atau tidaknya Mami Cindy.
"Semua pertanyaan telah kami catat, dan kami akan konfirmasi dulu pada atasan kami. Jadi untuk sementara waktu kami belum bisa langsung memutuskan bisa atau tidaknya Nyonya Cindy di bebaskan. Karena semu keputusan ada di tangan atasan kami dan pihak pengadilan di lapas ini." Aparat polisi tersenyum berkata seraya tersenyum ramah.
"Kami akan konfirmasi kembali pada kalian, jika kami telah mendapat informasi dan keputusan dari atasan kami serta pihak pengadilan di lapas." Kembali lagi aparat yang bertugas berkata.
Setelah mendengar penuturan dari aparat polisi yang bertugas tersebut, Dokter Faris dan Bu Nilam segera pulang.
Tapi tidak halnya dengan Fanie dan Steven, mereka ingin menjenguk Mami Cindy terlebih dulu.
"Kamu, Phanie kan?" Mami Cindy menggenggam jemari Fanie.
__ADS_1
"Mami, sudah tahu siapa aku sebenarnya?" Fanie menatap sendu Mami Cindy.
"Iya, nak. Papi yang memberitahu, mami minta maaf atas segala dosa dan salah mami selama ini padamu." Mata Mami Cindy berkaca-kaca.
"Sudahlah, mami. Nggak usah di pikirkan, karena aku sama sekali tak pernah menganggap kalau mami punya salah sama aku." Fanie tersenyum seraya mengusap lengan Mami Cindy.
"Iya, nak. Terima kasih." Mami Cindy menyunggingkan senyum.
"Bagaimana kabar, mami?" Fanie bertanya.
"Puji Tuhan baik, nak. Kamu juga sudah punya anak kembar ya, selamat ya." Mami Cindy menyunggingkan senyum.
"Puji Tuhan, mami. Aku sedang berusaha supaya mami bisa di bebaskan dari sini. Kita sama-sama berdoa ya, mami." Fanie sangat antusias.
"Terima kasih, nak. Padahal selama ini mami nggak pernah peduli padamu." Mami Cindy tertunduk malu.
"Mami, bukannya tadi aku sudah bilang. Supaya nggak usah di ungkit masa lalu." Fanie menghibur Mami Cindy.
Setelah berbicara cukup lama, Fanie dan Steve memutuskan untuk pulang. Walaupun Fanie merasakan masih kangen dengan Mami Cindy.
"Hunny, sudah berapa kali kamu memujiku. Itu terlalu berlebihan buatku, nggak usah memujiku lagi. Karena apa yang aku lakukan sudah seharusnya dan sudah sewajarnya di lakukan oleh seorang anak pada orang tuanya. Dan seorang kakak pada adiknya." Fanie menyunggingkan senyum.
"Hem, gitu ya." Steven memonyongkan mulutnya.
Steven melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang. Sembari sesekali menggoda Fanie, sehingga kerap kali mereka bercanda ria.
Dalam hati, Fanie sangat bahagia karena perlahan-lahan dirinya bisa di terima oleh keluarganya. Bahkan orang tua dan adiknya perlahan sudah berubah.
"Puji Tuhan, papi sama mami serta Meymey sudah bisa menerimaku. Dan mereka juga sudah menyadari semua kesalahannya serta perlahan telah berubah."
"Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan harta yang melimpah."
Demikian ucapan syukur Fanie di dalam hati.
__ADS_1
Tak terasa sampai juga di rumah. Fanie dan Steven langsung membersihkan badannya. Barulah mereka menghampiri si kembar untuk bermain bersama.
Tak terasa waktu cepat berlalu, kinilah saatnya Fanie di temani Steve ke lapas kembali. Karena pihak lapas telah menghubungi Fanie.
Endrik dan Meymey juga hadir, karena ingin melihat proses persidangan.
Sidang akan di buka untuk membahas pengajuan dari Fanie dan Dokter Faris. Fanie merasa gelisah.
"Ya Tuhan, aku yakin Kau akan memberikan sebuah keputusan yang tepat buat kebaikan kami semua." Batin Fanie.
"Sayang, kamu nggak usah khawatir. Pasti hasil keputusan sidang tidak akan mengecewakan buat kita semua." Steven memeluk Fanie sejenak.
Semua berdebar-debar saat persidangan akan berlangsung, bukan hanya Fanie melainkan juga Cindy.
"Jika Tuhan berkehendak pasti akan memberiku kesempatan untuk bebas dari sini dan merubah kelakuan burukku." Batin Cindy.
Sidangpun di mulai, awal mula Hakim membuka persidangan. Kemudian Dokter Faris mengutarakan semuanya.
Setelah itu Bu Nilam di persilahkan berbicara oleh Pak Hakim, barulah Fanie dan Cindy secara bergantian di persilahkan berbicara.
Sejenak semua terdiam saat Hakim, pengacara sedang berdiskusi. Setelah 15 menit semuanya terdiam, akhirnya hakim membuka suara.
Hakim memutuskan jika Mami Cindy mendapatkan bebas bersyarat. Yakni harus membayar uang jaminan sebesar seratus juta rupiah.
Dan jika ternyata Mami Cindy mengulangi kejahatannya kembali, dia akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
"Puji Tuhan, ternyata aku masih di beri kesempatan untuk menghirup udara segar di luar sana." Batin Cindy seraya tak terasa matanya mengeluarkan bening bulir.
"Nak, terima kasih. Berkat kamu, mami bisa menghirup udara bebas. Mami nggak akan mengecewakanmu, yakni akan benar-benar berubah untuk menjadi lebih baik." Mami Cindy memeluk Fanie.
"Iya, mami. Aku percaya kalau mami pasti akan berubah. Makanya aku berusaha untuk bisa membebaskan mami." Fanie membalas pelukan Cindy seraya mengusap punggungnya.
Cindy juga berpelukan erat dengan Endrik dan Meymey. Bahkan Endrik dan Meymey juga berterima kasih pada Fanie.
__ADS_1
*******
Mohon maaf jika karya tak seindah karya senior🤭🤭🤭🙏🙏🙏