Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Reynold


__ADS_3

Meymey lekas membawa pria muda tersebut ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai pihak rumah sakit segera menangani pasien.


"Aduh, ada-ada saja. Kalau seperti ini aku harus menghubungi siapa dong." Meymey kebingungan seraya berjalan mondar mandir di depan ruang pemeriksaan pasien.


"Aduh, lama amat dokter memeriksanya." Sesekali Meymey melihat jam tangannya.


Sudah 30 menit berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri Meymey.


"Maaf, apa anda keluarga pasien?" Tanya dokter menatap Meymey.


"Bukan, dok." Jawab Meymey singkat.


"Loh, jika anda bukan keluarga pasien terus dimana keluarganya. Karena saya ingin berbicara sesuatu dengan salah satu keluarga pasien." Dokter mengerutkan keningnya.


"Saya juga tidak tahu, dok. Saya hanya menolongnya saat pasien tergeletak di taman. Bahkan belum sempat saya bertanya tentang jati dirinya, tiba-tiba dia langsung pingsan. Dan saya langsung membawanya kemari karena khawatir terjadi apa-apa." Jawab Meymey apa adanya.


"Hem, begitu ya. Apakah nona menemukan identitas seperti ktp atau apa saat di lokasi peristiwa?" tanya dokter kembali.


"Maaf, dok. Saya sama sekali tidak menemukan apapun. Sebenarnya ada apa dengan pasien, apakah lukanya serius?" Meymey merasa panik.


"Tidak juga, nona. Kondisi pasien tidak mengalami luka yang seriu, hanya luka biasa saja. Sepertinya pasien mengalami tindak kekerasan bukan dari satu orang." Jawab dokter tersenyum ramah.


"Apa mungkin di rampok ya, dok?" Meymey hanya mengira-ngira saja.


"Kemungkinan seperti itu, ya sudah saya permisi dulu. Jika pasien telah sadar tolong hubungi saya." Pamit sang dokter seraya tersenyum ramah.


Sementara saat ini pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, Meymey mengikuti kemana perawat mendorong brankarnya.


Selagi Meymey mengikuti perawat, ponselnya berdering yang ternyata adalah dari Papi Endrik.


📱"Mey, kamu dimana? papi mau pake mobil."


📱"Aku lagi di rumah sakit, pi."


📱"Apa yang terjadi sama kamu, Mey? sampai kamu di rumah sakit?"


📱"Aku baik-baik saja kok, pi. Tadi saat aku sedang ada di taman, tiba-tiba ada seorang pria terluka parah berjalan dengan terhuyung-huyung jatuh di hadapanku."


📱"Oalah, ya syukurlah. Papi pikir kamu yang terkena musibah, ya sudah mobilnya nggak jadi. Biar papi pesan taxi on line. Kamu jaga diri baik-baik dan selalu hati-hati."


Setelah itu Papi Endrik terlebih dulu menutup panggilan telponnya.


Setelah beberapa menit, pasien sadar. Meymey lekas menghampiri.

__ADS_1


"Mas, bagaimana kondisinya? bagaimana jika aku hubungi keluarga, mas?" tanya Meymey menatap iba pada pria yang di tolongnya.


"Jangan, aku jadi seperti ini juga karena keluargaku." Jawabnya lirih.


"Maaf, aku nggak maksud apa yang mas katakan." Meymey mengernyitkan alis bingung.


"Nanti saja kalau aku pulih, pasti aku ceritakan. Bolehkah aku minta tolong padamu?" Katanya lirih seraya menahan rasa sakit.


"Katakan saja, jika aku bisa bantu. Pasti akan aku bantu, mas." Meymey menatap serius wajah pria yang penuh perban.


"Aku minta tolong, untuk sementara waktu aku ingin bersembunyi di rumahmu. Nanti jika aku sudah sehat aku akan pulang ke rumahku." Pria tersebut menatap memohon pada Meymey.


Sejenak Meymey terdiam, seolah sedang berpikir apakah memperbolehkan atau menolaknya.


"Nona, aku mohon kali ini saja. Tolonglah aku satu kali lagi, please." Pria tersebut memohon seraya menatap sendu Meymey.


Hingga akhirnya Meymey tak tega dan memperbolehkan pria tersebut untuk sementara waktu tinggal di apartement orang tua Meymey.


"Baiklah." Jawab Meymey singkat.


"Terima kasih, nona." Pria tersebut menyunggingkan senyum.


"Sama-sama." Meymey menyunggingkan senyum.


******


Setelah di rawat satu hari satu malam, pria tersebut meminta pulang karena tak ingin berlama-lama di rumah sakit.


Saat sampai di rumah, orang tua Meymey terkejut karena Meymey membawa pulang seorang pria yang tak dikenal ke rumah.


"Mey, mami ingin bicara sebentar." Cindy menarik tangan Meymey agak menjauh dari pria tersebut.


"Mey, kamu membawa pulang siapa?" tanya Cindy berbisik.


"Nanti saja ya, mi. Pasti pria itu akan menjelaskan semuanya." Mey balaz berbisik.


Sementara Endrik mempersilahkan pria tersebut untuk duduk.


"Silahkan duduk, nak." Endrik tersenyum ramah menatap pria tersebut.


"Terima kasih, om." Pria tersenyum menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu.


"Om, sebelumnya saya minta maaf. Jika kedatangan saya kurang berkenan buat om dan keluarga."

__ADS_1


"Saya yang membujuk anak om untuk memperbolehkan saja tinggal di sini untuk sementara waktu."


Sejenak pria tersebut terdiam, serasa sedang berpikir.


"Maaf sebelumnya, namamu siapa dan tinggal dimana? apakah sedang ada masalah di rumahmu?" Endrik bertanya menyelidik, di saksikan oleh Meymey dan Cindy.


"Nama saya, Reynold. Saya tinggal di kota A tak jauh dari sini. Saya bisa ada di rumah sakit karena seseorang yakni anggota keluarga saya sendiri." Jawab Reynold tertunduk lesu.


"Maaf, Nak Reynold. Om masih kurang paham dengan ceritamu." Endrik semakin penasaran.


"Baiklah, om. Saya akan bercerita dari awal supaya om dan yang lain paham. Saya anak semata wayang, namun mami saya sudah meninggal beberapa bulan lalu."


"Papi saya menikah dengan seorang janda beranak satu. Baru beberapa hari yang lalu, papi saya meninggal."


"Kebetulan papi saya meninggalkan banyak warisan buat saya. Namun ibu tiri dan kakak tiri saya menginginkan semua warisannya."


"Berbagai macam cara halus di lakukan oleh mereka. Hingga mereka sudah kehabisan cara, dan ingin menghabisi saya."


"Ibu tiri dan kakak tiri saya, yang telah memerintahkan orang untuk menghabisi saya."


"Saya di sekap di sebuah gudang dekat taman, dimana waktu itu saya bertemu anak om.


"Saya berhasil melarikan diri. Pasti saat ini ibu tiri dan kaka tiri saya sedang mencari keberadaan saya."


"Saya juga telah menyimpan bukti percakapan mereka yang telah dengan sengaja membunuh mami dan papi."


Demikian Reynold bercerita panjang lebar pada keluarga Endrik.


"Boleh om tahu, kakak iparmu pria atau wanita?" tanya Endrik penasaran.


"Pria, om. Selisih 3 tahun lebih tua ." Jawab Reynold singkat.


"Kalau saya sudah benar-benar sehat, saya akan menyelesaikan permasalah ini. Akan saya laporkan mereka pada aparat polisi." Reynold menghela napas panjang.


"Baiklah, kami percaya denganmu dan mengijinkanmu untuk sementara waktu tinggal bersama kami. Saran kami, janganlah menampakkan diri dulu. Kami khawatir, ada salah satu anak buah ibu tirimu yang melihatmu." Saran Endrik.


"Rey, ucapkan terima kasih untuk keluarga ini yang telah bersedia menolong." Reynold menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Iya, nak. Semoga permasalahanmu segera dapat di selesaikan." Endrik menyunggingkan senyum.


"Mey, tunjukkan kamar untuknya beristirahat." Perintah Endrik.


Meymey mengantarkan Reynold ke kamar tamu.

__ADS_1


*****


Mohon dukungan like,vote,favorit


__ADS_2