Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Hasutan Si Kembar


__ADS_3

"Fanie, kenapa pula kamu masih baik pada orang tua yang telah menyia-nyiakanmu?" tanya grandpa seraya berjalan berdampingan bersama grandma dan Fanie.


"Bagaimana pun, mereka orang tua kandung Fanie. Lagi pula, bila Fanie nggak membantu pasti grandpa juga akan membantu kan? bagaimana pun papi anak kandung grandpa, ya kan?" jawab Fanie serius.


"Kamu memang cucu grandpa yang berhati malaikat, pantas saja Tuhan menitipkan banyak berkat padamu," puji grandpa mengusap bahu Fanie.


"Bukan cuma cucu grandpa, tapi cucu grandma juga." rajuk grandma manyun.


Ketiganya terkekeh sambil terus berjalan sampai rumah. Sedangkan Papi Endrik dan Mami Cindy sedang memandang takjub isi apartement milik Fanie.


"Wah, ini apartement sangat luas dan dalamnya bersih serta komplit isinya " Mami Cindy menatap takjub.


"Iya benar sekali, kok Fanie mau ya membantu kita yang bukan apa-apanya dia?" sejenak Papi Endrik terdiam.


"Di pikir amat, pi. Yang penting sekarang kita tidak tinggal di kontrakan sempit dan panas lagi, dan papi buruan buka usaha yang bisa jadi sukses lagi." Mami Cindy menyarankan.


"Wah, pasti Meymey sama Meylan senang nech tinggal di sini. Yuk, pi. Kita lekas kemasi barang kita yang di kontrakan dan segera pindah di sini. Jangan lupa belanja isi kulkas dan bahan pangan lainnya, pi." Mami Cindy menarik tangan Papi Endrik untuk lekas ke garasi.


"Busyet, ini kan mobil keluaran terbaru. Keren banget sumpah, pi. Fanie kok bisa dapat duit banyak rumah bagus mobil bagus, darimana ya pi?" tiba-tiba Mami Cindy bertanya.


"Entahlah, yuk kita pulang." Papi Endrik masuk dalam mobil tersebut di ikuti oleh Mami Cindy.


Tak berapa lama kemudian sampailah Papi Endrik dan Mami Cindy di depan halaman kontrakan.


"Mey, itu papi bawa mobil?" ucap Meylan yang sedang asik duduk di depan bersama dengan Meymey.


"Wuih, keren banget mobilnya. Masa grandpa membeli mobil sport kekinian, gau amat." kata Meymey terkekeh.


"Yuk, kita samperin mami dan papi." Meylan menggandeng Meymey.


"Pi, ini mobilnya grandpa?keren banget tau pi," Meylan mengusap mobil tersebut seraya terpana.

__ADS_1


"Boleh kami pinjem, pi?" Meymey ingin sekali mencoba mobil tersebut.


"Awas, papi sama mami mau turun!" hardik Papi Endrik.


"Cepat kalian kemasi barang-barang kalian, sekarang juga kita pindah." Mami Cindy memerintah seraya masuk dalam kontrakan.


"Berarti kita jadi pindah rumah grandpa? ah sebenernya males pindah di sana, masa tinggal serumah sama gadis nggak jelas itu," Meymey menghela napas panjang.


Sementara Meylan telah berlari masuk dalam kontrakan untuk segera berkemas.


"Kalau kamu nggak mau ikut ya sudah, tinggallah di sini sendiri." Papi Endrik geram seraya meninggalkan Meymey sendiri di pelataran kontrakan.


Hingga akhirnya Meymey berlari ke dalam kontrakan untuk segera berkemas pula. Tak berapa lama mereka telah berada di dalam mobil, dan Papi Endrik segera melajukan mobilnya menuju apartement.


Tak berapa lama kemudian sampailah di apartement tersebut.


"Pi, memangnya kita akan tinggal di apartement mewah ini? bukan di rumah grandpa?" tanya Meylan seraya mengernyitkan alis.


"Lihat, Lan. Ternyata grandpa punya apartement semewah ini, dan mobil yang sangat keren pula." Meymey menatap takjub pada apartement tersebut.


"Iya, pikirku cuma rumah yang di tempati itu saja yang grandpa punya." Meylan berkata seraya melihat sekeliling apartement.


"Hem, kalian pikir ini punya grandpa. Ini bukan punya grandpa, tapi punya Fanie. Gadis yang kalian bilang asal usulnya nggak jelas yang menolong kita," kata Papi Endrik.


"Itu cuma buat kedok, kami tahu sebenarnya semua ini punya grandpa dan grandma. Mana mungkin juga gadis yang numpang di rumah grandpa bisa punya rumah semewah ini. Kalau punya rumah, ngapain pula numpang di rumah grandpa," kata Meymey ketus.


"Iya, benar juga yang di katakan Meymey. Kalau dia memang punya rumah, kenapa pula numpang rumah grandma. Bisa jadi semua harta grandma kelak buat gadis itu, pi." Meylan memprokasi.


Sejenak Papi Endrik terdiam seperti sedang berpikir, sementara Mamy Cindy kebetulan sedang sibuk menata semua barang jadi tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh kedua anak dan suaminya.


"Ada benarnya juga yang di katakan oleh kedua anakku ini. Bisa jadi semua peninggalan daddy dan mommy telah di wariskan pada Fanie yang hanya numpang di rumah grandpa, aku nggak akan tinggal diam kalau begini caranya." batin Papi Endrik.

__ADS_1


"Biar saja aku nggak akan kembalikan semua yang Fanie pinjamkan, toh sebenarnya semua ini juga harusnya menjadi milikku, karena aku anak semata wayang daddy dan mommy. Enak saja merampas harta yang bukan miliknya," batin Papi Endrik kembali.


"Pi, jangan tinggal diam. Harusnya papi usir Fanie dari rumah grandpa. Keasikan dia makan harta punya grandpa dan grandma." Meymey mencoba memprovokasi.


"Apa yang di katakan Meymey ada benarnya loh, pi. Kenapa papi biarkan Fanie nyaman tinggal di rumah grandpa?" Meylan ikut menghasut Papi Endrik.


"Eh, kalian sedang ngobrol apa sih? sepertinya serius sekali? pi, kita ke mall yuk? belanja untuk isi kulkas sekalian makan siang. Lama loh pi, kita nggak makan enak." Mami Cindy bergelayut manja di lengan Papi Endrik.


"Yuk, kita pergi sekarang juga." ajak Papi Endrik.


Mereka lekas pergi ke mall sesuai permintaan Mami Cindy. Namun di luar perkiraan, uang yang harusnya untuk modal usaha malah habis begitu saja untuk memenuhi permintaan Mami Cindy dan si kembar Meymey serta Meylan.


Ternyata Papi Endrik sengaja melakukan itu karena dia punya rencana licik terhadap Fanie.


"Biar saja aku habiskan semua uang dari Fanie, aku akan memintanya lagi besok." batin Papi Endrik.


Apa yang tidak perlu di beli malah di beli oleh mereka. Uang yang jumlahnya tidak sedikit malah di hambur-hamburkan begitu saja.


Uang dari Fanie kerja keras banting tulang mengolah perkebunan, habis untuk sesuatu hal yang tidak ada gunanya.


Semua shopping seperti masih saat kondisi kaya raya.


Berbeda dengan Fanie yang saat ini sedang sibuk mengontrol semua perkebunannya di temani oleh sang kekasih, Steven.


"Sayang, nggak terasa sebentar lagi kita akan panen sayuran kembali." kata Steven seraya menyunggingkan senyum.


"Ya, padahal baru beberapa bulan yang lalu kita tanam bibitnya. Oh ya, Steve. Aku punya rencana ingin membangun sebuah toko seperti mall mini tapi kusus untuk sayur mayur. Dan toko ini kusus untuk jual semua jenis sayur dan palawija yang kita tanam sendiri. Bagaimana menurutmu, dengan ideku ini?" tanya Fanie mengernyitkan alis.


"Aku setuju saja, sekalian saja kita buka on line kusus kebutuhan sayur mayur. Siap antar," usul Steven.


*********

__ADS_1


Mohon dukungan like, vote, favot


__ADS_2