
"Hem, aku punya istri terlalu baik, sudah sering di sakiti, tak di anggap, tapi masih sajsms bisa bersikap manis. Hatinya terbuat dari apa ya, kalau aku yang mengalami hal ini sudah pasti enggan untuk menyapa," batin Steven.
"Hunny, kamu kenapa diam saja? aku minta maaf jika perilaku aku membuatmu marah," Fanie mengusap lengan Steven.
"Bunny, kenapa kamu berpikiran aku marah padamu? aku justru bangga punya istri berhati emas sepertimu, aku sedang berpikir kalau aku berada di posisimu, pasti aku sudah melupakan keluargamu," Steven tersenyum seraya mencium punggung tangan Fanie.
"Kamu terlalu memujiku, padahal aku merasa diriku masih jauh dari kata sempurna," Fanie tertunduk lesu seraya menghela napas panjang.
Setelah cukup lama berada di cafe tersebut Fanie dsn Steven segera pulang. Walaupun dalam hati Fanie masih belum ikhlas, karena Endrik dan Meymey masih ada di cafe. Sebenarnya Fanie ingin berusaha mendekati Endrik dan Meymey kembali, tapi Steven mengajaknya pulang.
Berbeda dengan Endrik dan Meymey sangat senang saat melihat Fanie sudah pergi dari cafe tersebut.
"Pi, kadang aku suka heran sama Fanie," kata Meymey seraya menyantap makanannya.
"Heran bagaimana maksudmu?" Papi Endrik mengernyitkan alisnya.
"Dia bukan siapa-siapa kita, tapi selalu saja mencoba ingin akrab dengan kita. Nggak pernah nyerah pula," jawab Meymey sekenanya.
"Ohh itu, papi juga heran. Makanya papi sangat benci padanya, apa lagi grandpa dan grandma kamu sangat membela dan menyayangi Fanie," Papi Endrik terus menyantap makannya.
"Sudah, nggak usah mikirin wanita ngga jelas asal usulnya seperti Fanie. Mending kamu pikirkan ke depannya mau bagaimana? apa kamu bersedia bekerja di kantor expedisi papi, membantu papi yang kadang suka kerepotan," Endrik menawarkan Meymey bekerja di kantornya.
"Boleh dech, pi. Daripada aku harus melamar pekerjaan di tempat lain yang belum tentu langsung diterima," Meymey sangat antusias menerima tawaran kerja dari Papi Endrik.
Setelah cukup lama berada di cafe, Endrik dan Meymey segera pulang.
Berbeda situasi di rumah grandma dan grandpa, saat ini grandpa sedang sakit.
"Dad, sebaiknya kita ke dokter saja ya?" grandma memberi saran.
"Nggak usah, mom. Besok juga sembuh, lagi pula ini kan penyakit karena daddy sudah lanjut usia, istilahnya ya penyakit tua." Grandpa berusaha tersenyum.
"Jangan meremehkan penyakit, sudah dua hari badan daddy demam. Padahal sudah minum obat dari apotik." Grandma merasa khawatir.
"Nggak usah berlebihan, mom. Percaya saja sama daddy, besok pagi pasti daddy sudah baikan kembali," grandpa mencoba menghibur grandma yang sedang panik dan gelisah.
"Mom, daddy lelah dan ngantuk. Daddy tidur dulu ya," grandpa memejamkan matanya.
__ADS_1
Namun perasaan grandma terus saja gelisah.
"Kenapa perasaanku nggak enak sekali, bagaimana caranya membujuk suamiku untuk bersedia di ajak ke dokter. Apa sebaiknya aku telpon Fanie saja, tapi ini sudah larut malam pasti Fanie sudah tidur apa lagi dia sedang hamil muda, kasihan juga jika larut malam kemari," batin grandma.
Sesekali grandma mengecek suhu tubuh grandpa, dan sesekali pula dia memberi kompresan pada kening suaminya.
Hingga tak sadar dirinya terlelap dalam tidur. Hingga pagi menjelang, barulah grandma terbangun.
"Ya Tuhan, aku ketiduran sampai menjelang pagi. Coba aku cek suhu tubuh suamiku, loh kok tubuhnya dingin sekali?" Grandma mengecep suhu tubuh suaminya dengan menempelkan punggung tangannya di kening grandpa.
Namun suhu tubuh grandpa sudah tidak demam tapi malah dingin. Perlahan grandma mengecek denyut nadi suaminya. Kembali lagi dirinya terhenyak kaget dan merasa nggak percaya, karena tak dengar sama sekali denyut nadi grandpa.
"Dad, bangun dad. Jangan bikin mommy panik, bangun dad." Grandma mengguncang tubuh grandpa.
"Ya Tuhan, apa benar suamiku telah bersamaMu saat ini?" perlahan air mata grandma menetes.
Dengan tangan gemetaran, grandma memencet nomor ponsel Fanie.
📱" Hallo, Fanie. Cepatlah kemari."
📱" Ada apa, grandma? dari nada bicara grandma seperti ada sesuatu yang telah terjadi?"
📱" Baiklah, grandma. Fanie segera ke rumah grandma."
Setelah itu Fanie dan grandma mematikan telponnya, segera Fanie memberitahu pada Steven.
"Hunny, tolong temani aku ke rumah grandma sekarang juga. Tadi grandma telpon kalau grandpa di bangunin nggak bangun. Aku khawatir, karena grandma menangis saat telpon," Fanie panik dan gelisah mencekal lengan Steven.
"Yuk, segera kesana. Semoga tidak terjadi apa-apa pada grandpa." Steven menuntun tangan Fanie menuju ke halaman rumah.
Setelah itu Steven segera berlari ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Segera mereka pergi ke rumah grandma.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di rumah grandma. Fanie dan Steven langsung berlari masuk menuju rumah grandma dan langsung menuju ke kamar grandma.
Grandma sedang menangisi grandpa yang telah terbujur kaku tak bernyawa.
"Fanie, grandpa..hiks hiks hiks.." grandma menangis histeris dan langsung memeluk Fanie.
__ADS_1
Sementara Steven mengecek kondisi grandpa.
"Bunny, grandpa memang telah meninggal dunia," Steven berkata dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar penuturan dari Steven, tak terasa bulir bening keluar dari mata Fanie membanjiri pipinya yang tirus.
Fanie menghampiri grandpa.
"Grandpa, ayok bangun. Sudah dong bercandanya, katanya grandpa kelak mau bermain sama cicit. Bangun dong, grandpa." Fanie mengguncang pelan tubuh grandpa, dan sesekali mengusap lembut pipi grandpa.
Namun tetap saja grandpa tidak bangun, karena benar-benar telah tiada.
"Grandma, apa sebelumnya grandpa sakit?" Fanie menatap sendu grandma.
"Iya, Cu. Dua hari grandpa badan demam, walaupun sudah minum obat warung namun demam tak turun. Semalam grandma mengajak ke dokter, tapi grandma menolak. Dengan alasan tidak apa-apa, dia minta ijin ingin tidur terlebih dulu." Masih saja air mata grandma tertumpah.
"Grandma, punya nomor ponsel papi? biar Fanie hubungi papi suruh kemari." Fanie memeluk grandma kembali seraya mencoba menenangkannya.
"Ada, cu. Ini cari saja di ponsel." Grandma memberikan ponselnya pada Fanie.
Segera Fanie mencari nomor ponsel Papi Endrik, dan langsung menelpon. Setelah tersambung, Fanie memberikan ponselnya pada grandma.
"Lebih baik grandma saja yang bicara, papi kan benci banget sama Fanie." Fanie memberikan ponselnya pada grandma.
📱" Hallo, Endrik. Ini mommy."
📱" Tumben mommy telpon, ada apa?"
📱" Cepatlah kemari, nak. Daddy meninggal dunia."
📱" Sudah wajar, mom. Karena daddy sudah berumur, meninggal ya di kubur."
📱" Apa kamu nggak merasa kehilangan sama sekali, dan nggak ingin membantu proses pemakaman serta memberi penghormatan terakhir untuk daddy?"
📱" Maaf, mom. Endrik sedang banyak pekerjaan di kantor yang nggak bisa di tinggalkan. Minta bantuan sama Fanie, bukannya kalian berdua sangat menyayanginya."
Setelah itu panggilan telpon di tutup oleh Endrik.
__ADS_1
**********
Mohon dukungan like,vote, favorite..