
Pagi menjelang, tiba-tiba datang Papi Endrik ke rumah grandpa.
"Tumben kamu kemari lagi, apa kamu nggak mulai membuka usaha?" tanya grandpa penasaran saat melihat kedatangan Papi Endrik pagi-pagi sekali.
"Bagaimana Endrik mau buka usaha, dad. Sedangkan uang pemberian dari Fanie, kemaren di begal orang dan di ambil semuanya," Papi Endrik memasang wajah memelas.
"Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu?" grandpa bertanya.
"Kemarin uang Endrik bawa ke mall untuk membeli kebutuhan dapur tapi malah saat keluar dari mobil di copet, dan copet lari kencang hingga tak tertangkap," kembali lagi Papi Endrik berbohong.
"Aku benar-benar sudah tidak punya uang, sekarang ini saja aku dan mommy numpang hidup pada Fanie. Kenapa kamu meminta si kembar bekerja, bukannya mereka telah lulus kuliah?" grandpa mencoba memberi saran.
"Sudah, dad. Si kembar sudah berusaha mencari kerja tapi sampai detik ini belum juga mendapatkan pekerjaan," lagi-lagi Papi Endrik berbohong.
"Endrik harus minta tolong siapa lagi kalau bukan ke daddy? bukankah tanah daddy masih banyak?" Papi Endrik memelas menatap grandpa.
"Semua tanahku telah di beli oleh Fanie untuk usaha perkebunan sayur mayur. Dan kebetulan uangnya juga telah habis," ucap grandpa.
Selagi kedua ayah dan anak ini sedang berbincang-bincang. Melintaslah Fanie akan masuk ke dalam kamar, namun tiba-tiba lengannya di cekal oleh Papi Endrik.
"Fanie, tunggu sebentar. Om ingin berbicara denganmu sebentar saja," kata Papi Endrik.
Hingga Fanie pun duduk di samping grandpa.
"Memangnya ada apa, om?" tanya Fanie penasaran.
"Om, ingin meminta tolong padamu." jawab Papi Endrik singkat.
"Minta tolong apa ya, om? Ngomong saja nggak usah sungkan, jika Fanie bisa bantu pasti akan di bantu." katanya tersenyum.
Papi Endrik pum menceritakan semua yang barusan di ceritakannya pada grandpa. Fanie sama sekali tidak menaruh curiga pada Papi Endrik, dia malah merasa oba hingga memutuskan untuk memberi uang kembali pada Papi Endrik.
"Ya, ampun. Untung om nggak di apa-apakan oleh pencopetnya, yang sabar ya om. Om nggak usah khawatir, sebentar Fanie ke dalam." Fanie lekas bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamarnya mengambil tabungannya kembali yang ada di brangkarnya.
__ADS_1
"Semoga kali ini Papi tidak mendapatkan musibah kembali, hingga bisa menggunakan uang ini dengan sebaik-baiknya," batin Fanie.
Segera Fanie menemui Papi Endrik di ruang tamu, untuk memberikan uang pada Papi Endrik.
"Om, maaf ini uangnya nggak sebanyak waktu itu. Tapi cukup buat om buka usaha baru," Fanie menyerahkan amplop coklat berisikan uang pada Papi Endrik.
"Terima kasih ya, Fanie. Kamu memang gadis yang sangat baik. Kalau begitu om pamit pulang. Dad, Endrik pamit pulang ya." Papi Endrik lekas bangkit dari duduknya dan beranjak pergi begitu saja.
"Cu, kenapa kamu menuruti kemauan papimu. Harusnya biarkan saja dia mencari uang sendiri. Kalau di berikan terus bagaimana dengan tabungan buat masa depanmu?" grandpa menghela napas panjang.
"Grandpa nggak usah khawatir, Fanie kan punya usaha. Bukan hanya satu, saat ini usaha Fanie bukan hanya perkebunan. Tapi penyewaan apartement juga usaha jual beli on line sayuran. Jadi setiap hari pasti Fanie ada saja pemasukan, bisa di tabung." Fanie mengusap bahu grandpa.
"Ya, sudah. Tapi jika lain kali papimu kemari dengan alasan yang sama meminjam uang, grandpa minta kamu jangan memberinya lagi." grandpa menasehati.
"Fania nggak janji, grandpa. Jika Fanie ada uang dan papi butuh lagi ya kemungkinan besar akan Fanie beri," Fanie menyunggingkan senyum.
"Ya sudahlah, terserah bagaimana baiknya kamu saja." Grandpa berlalu pergi meninggalkan Fanie.
"Ini belum seberapa, Fanie. Kelak aku pasti datang lagi untuk meminta uang lagi, pokoknya sampai kamu benar-benar tak punya uang sepeser pun. Karena aku nggak rela, kekayaan milik orang tuaku di nikmati olehmu yang hanya seorang cucu pungut," gerutunya seraya terus melajukan mobilnya.
Tak berapa lama sampai juga di apartement.
"Papi darimana sih, pantes mami nyari di setiap sudut ruangan nggak ada?" tanya Mami Cindy.
"Dari rumah grandpa, habis minta uang sama Fanie." Papi Endrik menunjukkan amplop coklat berisikan uang.
"Kok gampang amat Fanie memberi uang pada papi?" Mami Cindy merasa heran.
"Pake trik dong, mi." Papi Endrik melangkah masuk.
"Pi, bagi dong. Buat mami maskeran, kemarin kan nggak sempat maskeran uang sudah habis." Mami Cindy merengek mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar.
"Nggaklah, mi. Ini uang mau buat modal usaha, mami minta saja sendiri ke Fanie. Alasan apa gitu, pasti di beri dech sama Fanie." Papi Endrik menyarankan hal yang salah.
__ADS_1
"Ah, males amat ke rumah daddy. Yang ada pasti di sindir ini dan itu sama daddy atay mommy mu!" Mami Cindy menghentakkan kaki seraya berlalu pergi dari kamar.
Berbeda dengan Meymey dan Meylan yang saat ini malah sedang asik foya-foya bersama teman-teman semasa kuliahnya.
"Mey, katanya orang tuamu sudah bangkrut. Tapi kok kamu masih bisa traktir kami?" tanya teman A.
"Kata siapa, usaha papiku baik-baik saja kok. Bahkan saat ini kami tinggal di apartement yang mewah, kalau kalian nggak percaya bisa sekarang juga kita ke rumahku." ajak Meymey.
"Masa sih, boleh juga. Tapi mana mobilmu, masa tinggal di apartement mewah tapi nggak punya mobil?" sindir teman B.
"Ada mobil, tapi cuma satu. Mobil sport keluaran terbaru, mau di pake sayang jadi di letakkan di garasi saja." kata Meylan sekenanya.
"Kami penasaran loh, bagaimana kalau kami sekarang juga main ke rumahmu? boleh nggak nech?" tanya teman A.
Akhirnya mereka pergi menuju ke apartement yang saat ini di tempati oleh keluarga Papi Endrik.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di apartement tersebut.
"Wah, ini mah seperti istana raja. Lebih besar dari rumahmu yang dulu ya,Mei?" kata teman A.
"Jelas dong, kan usaha papiku sekarang ini berkembang pesat. Eh mau lihat kamar kita berdua nggak?" Meymey mengajak teman-temannya.
"Kami ingin melihat mobil sport yang tadi kamu ceritakan, mana coba tunjukan?" tanya teman A.
"Yuk, kita ke garasi mobil. Biar aku tunjukan mobil sport baru kami edisi terbaru," ajak Meylan.
Mereka semua beralih ke garasi mobil, dan semua teman si kembar terperanga saat melihat mobil sport termahal dan terbaru.
"Gila, mulus banget nech mobil. Warnanya juga cantik, sumpah bikin aku ngiler." salah satu teman mengusap tiada henti mobil sport tersebut dan menatap takjub.
*******
Mohon dukungan like, vote, favoritnya..
__ADS_1