
"Hem, jadi beritanya seperti itu?" batin Alex.
Kini dia telah mengetahui semuanya tentang Reynold. Akan tetapi dia akan terus berupaya untuk bisa menyingkirkannya. Dia tidak memandang rasa takut atau khawatir, walaupun mengetahui jika Reynold pemuda yang sangat kaya.
Kekayaan Reynold tidak ada bandingnya jika di samakan dengan kekayaan Alex.
"Walaupun aku kalah dari segi kekayaan, aku nggak akan mundur begitu saja. Pokoknya aku akan menghancurkan pemuda itu!" batin Alex seraya menyeringai sinis.
"Aku harus menyusun strategi jitu untuk bisa menghancurkannya. Jangan sampai gagal seperti waktu itu." Batinnya terus saja menggerutu.
Hingga berhari-hari, bahkan telah satu bulan berlalu. Alex belum juga berhasil menyingkirkan Reynold. Karena kemanapun Reynold pergi selalu ada yang menjaga dirinya.
"Sial, ternyata dia sekarang lebih mawas diri! aku pikir dia pergi nggak membawa pengawal, ternyata dia selalu membawa pengawal untuk melindunginya." Alex mendengus kesal seraya memijit pelipisnya.
Sementara di mension Reynold, dia juga sedang berpikir.
"Aku heran, hampir tiap hari kok aku di serang segerombolan orang tak di kenal. Sebenarnya siapa yang memusuhiku selama ini?" batin Reynold.
__ADS_1
"Setiap aku akan mencari tahu dari salah satu gerombolan yang menyerangku, pasti orang itu ada yang membunuhnya." Reynold menggerutu sendiri.
Selagi asik menggerutu, datanglah Om Wirya duduk menghampiri Reynold.
"Rey, sepertinya sedang ada yang kamu pikirkan?" tanyanya menyelidik.
"Iya, om. Aku tuh heran, kenapa hampir setiap hari aku di serang segerombolan orang tak di kenal." Reynold menyandarkan punggungnya di sofa seraya menghela napas panjang.
"Aku juga bingung, om. Setiap kita berhasil menangkap salah satu dari gerombolan tersebut, saat kita tanya dia di perintah oleh siapa. Pasti tiba-tiba ada yang menembak dari jauh pada orang itu hingga tewas seketika." Kembali lagi Reynold menghela napas panjang.
"Kamu ingat nggak, kira-kira setiap jam berapa gerombolan tersebut menyerangmu?" tanya Om Wirya penasaran.
"Berarti jadwal penyerangan mereka selalu sama yakni saat kamu berangkat kerja dan saat kamu pulang dari kerja? pernah nggak kamu di serang selain pada jam tersebut?" tanya Om Wirya kembali.
"Nggak sih, om. Selalu mereka menyerang dalam waktu yang sama, sepertinya sudah hafal jam aku berangkat ke kantor dan jam aku pulang dari kantor." Kata Reynold kembali.
"Kita jebak mereka, Rey. Kita minta bantuan aparat polisi, supaya mengikutimu di saat kamu berangkat kerja ataupun saat sepulang kerja." Saran Om Wirya.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa aku nggak kepikiran sampai ke situ ya?" Reynold memijit pelipisnya.
"Jelas kamu nggak pikir, karena yang ada di pikiranmu cuma nikah sama Meymey." Canda Om Wirya terkekeh.
"Om, apaan sih." Reynold tertunduk malu.
"Ya ilah, malu nech ye.." Kembali lagi Om Wirya menggoda Reynold.
"Rey, kamu tenang saja. Besok Om minta tolong sama teman Om yang bekerja sebagai aparat polisi, inget nggak kamu sama Om Johan?" tanya Om Wirya.
"Jelas ingat lah, om. Kan dia yang membantu Rey menangkap Tante Sasa dan Mas Doni." Jawab Reynold tegas.
Setelah mendapat solusi untuk permasalahannya, Reynold menjadi lega.
"Om, terima kasih. Sekali lagi telah membantuku kembali." Reynold memeluk Om Wirya.
"Sama-sama, Rey. Kamu sudah om anggap anak sendiri, jadi jangan pernah sungkan untuk cerita kalau ada apa-apa." Om Wirya mengusap punggung Reynold.
__ADS_1
*******
Mohon dukungan like, vote, favorit..