
Endrik tertidur nyenyak setelah meminum obatnya. Meymey sejenak berpikir.
"Kalau aku meninggalkan papi sendiri, kasihan juga. Tapi jika aku berlama-lama di sini, pasti si tuan bangka itu akan memberiku hukuman lagi. Hem, aku harus menyewa perawat untuk menjaga papi." Meymey lekas melangkah ke bagian ruang kusus perawat.
Meymey menyewa salah satu perawat di rumah sakit tersebut untuk merawat Endrik.
"Nah, kalau seperti ini aku nggak khawatir lagi dan nggak bingung lagi." Meymey tersenyum lega.
Meymey berpamitan pada perawat yang di tugaskan untuk merawat Endrik.
"Sus, tolong nanti jika papi saya bangun. Sampaikan ya, kalau saya pulang. Besok pagi saya kemari lagi." Pesannya pada sang perawat.
"Baiklah, Nona." Sang perawat tersenyum ramah.
Meymey lekas pulang karena khawatir suaminya telah bangun. Segera Meymey melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat supaya lekas sampai apartement.
Tak berapa lama kemudian, Meymey telah sampai di apartement. Dia lekas masuk ke dalam apartement.
"Aman, ternyata tua bangka masih molor." Batin Meymey seraya menghela napas panjang.
Meymey lekas merebahkan badannya di samping Alex, dan dirinya memejamkan matanya.
Tak terasa pagi menjelang, Meymey lekas bangun dan membantu bibi memasak di dapur. Meymey nggak mau selalu di salahkan di marahi oleh Alex.
"Hem, kok tua bangka belum bangun juga." batin Meymey.
Tak berapa lama, Alex bangun tapi mengeluh badannya lemas dan sakit semuanya.
"Mey, kamu dimana? buruan kemari!" teriak Alex.
"Iya, ini lagi jalan." Meymey jalan terburu-buru dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Alex.
"Mey, badanku semakin hari semakin lemas. Tak bisa di gerakkan sama sekali," keluh Alex lirih.
"Kan kamu sudah tua, mas. Seusia papi aku, ya maklum saja jika semakin hari semakin lemah badanmu." Kata Meymey.
"Tapi biasanya kan ga seperti ini." Kata alex kembali.
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Mungkin hanya kurang istirahat. Lebih baik mas sarapan dulu, setelah itu tidur saja." Meymey menyuapi Alex.
Alex menuruti kemauan Meymey, dia makan dari suapan Meymey. Setelah itu meminum obat pemberian dari Meymey.
Meymey menyeringai sinis, dalam hatinya puas karena dengan mudah Alex meminum obat pemberiannya.
__ADS_1
"Hem, baguslah. Selangkah lagi kamu benar-benar takkan bisa menggerakkan seluruh badanmu," batin Meymey senang.
Setelah sarapan dan minum obat, Alex tidur kembali. Dirinya sama sekali tak curiga pada Meymey. Bahkan Alex telah melupakan niatnya untuk menelpon dokter.
Sementara di rumah Fanie sedang merasakan bahagia, karena akhirnya Fanie hamil juga.
"Selamat ya, cu . Setelah sekian lama penantian akhirnya kamu hamil juga." Grandma mengusap surai hitam Fanie.
"Jaga baik-baik kandunganmu ya, cu." Pesan grandpa.
"Iya, grandma grandpa. Fanie akan benar-benar menjaga kandungan ini." Fanie tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Steven dan orang tuanya juga ikut merasakan kabar bahagia ini. Karena mereka juga telah menginginkan Fanie hamil.
Fanie sangat hati-hati dalam beraktifitas karena tak ingin terjadi hal buruk pada kandungannya.
Fanie juga sangat menjaga pola makanannya supaya janinnya selalu sehat.
"Bunny, aku sangat bahagia karena akhirnya kita akan punya momongan." Steven mengusap perut Fanie yang masih rata.
"Ya, hunny. Aku juga sangat bersyukur doa kita di kabulkan oleh Tuhan." Fanie memeluk Steven.
Tiada hal yang terindah bagi mereka selain kabar yang satu ini.
"Bunny, apa kamu tidak merasakan mual atau muntah?" tanya Steven.
"Syukurlah kalau nggak ada keluhan dalam kehamilanmu," Steven memeluk Fanie.
"Iya, hunny. Kalau di turuti maunya makan terus, tapi kan nggak mungkin." Fanie terkekeh.
"Hunny, aku ingin sekali kita jalan-jalan sekarang juga." Fanie menaik turunkan alisnya.
"Memangnya mau jalan-jalan kemana sih sayang?" Steven mengernyitkan alis.
"Ingin jalan memutar perkebunan kita," Fanie sumringah.
"Ngidamnya nggak bikin papi repot." Steven terkekeh seraya merangkul Fanie
Segera Steven melajukan mobilnya ke perkebunan dan setelah sampai di perkebunan, Fanie dan Steven berjalan-jalan mengitari perkebunan.
Riang gembira yang di rasakan Fanie, saat melihat kebun sayurnya tumbuh subur. Tiba-tiba terbesit rasa ingin ke suatu perkebunan buah.
"Hunny, kita ke perkebunan buah yuk? di dekat sini ada nggak ya, terserah perkebunan buah apa saja. Yang penting buah, tapi yang pohon dan buahnya bisa aku gapai. Entar ajaknya ke perkebunan kelapa atau durian?" Fanie terkekeh.
__ADS_1
"Bunny, kamu benar- benar lupa ya? jika di samping perkebunan kita adalah perkebunan buah ada jambu, semangka, strowbery." Steven mencolek hidung Fanie.
Fanie baru ingat akan hal itu, dengan sangat antusias mengajak Steven ke perkebunan tersebut yang jaraknya tak jauh dari perkebunannya.
Hatinya sangat senang, sesekali Fanie memetik buah dan memakannya.
Steven hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum saat melihat tingkah Fanie.
"Terima kasih, Tuhan. Kau beriku seorang istri yang sangat baik, dan saat ini Kau juga akan memberiku keturunan," ucapan rasa syukur Steven di dalam hati.
Steven mengikuti setiap langkah Fanie yang bertingkah seperti anak kecil saat melihat buah-buah tumbuh lebat.
Sesekali menuturi kemauan Fanie, saat dia memetik buah dan menyuapi Steven.
"Bunny, ingat ya. Kamu ini sedang hamil muda, jadi jangan terlalu kecapean." Steven mencoba mengingatkan Fanie.
"Iya, hunny. Aku ingat kok, aku nggak akan terlalu cape." Fanie asik memetik buah strowbery.
Setelah beberapa saat bermain di perkebunan buah, barulah Fanie merasakan cape dan mengajak Steven pulang.
Begitu sampai di rumah, Fanie langsung merebahkan punggungnya bersender di sofa dengan posisi kaki di luruskan.
"Bunny, kamu cape ya?" tiba-tiba Steven mengangkat tubuh Fanie.
"Aduh, hunnya. Kamu bikin kaget saja," Fanie bergelayut manja melingkarkan kedua tangannya di leher Steven.
Steven membawa Fanie ke kamar, dengan sangat pelan membaringksn tubuh Fanie.
"Kalsu disini kan nyaman, kalau di kursi punggung ntar sakit." Steven memijiti kaki Fanie.
"Hunny, sudah. Aku nggak apa-apa, cuma ingin rebahan." Fanie menepis tangan Steven supaya tidak memijit kakinya.
"Sudahlah, bunny. Kamu yang nurut saja, nggak usah sungkan seperti orang lain. Lagi pula ini kemauanku, bukan kamu yang memerintahku." Steven terus saja memijat kaki Fanie.
Karena merasa enak dipijit oleh Steven, perlahan mata Fanie tertutup. Dia tertidur pulas.
Steven tersenyum saat melihat istrinya telah tertidur.
"Selamat tidur sayang." Steven mengecup kening Fanie dan menyelimuti kaki Fanie.
Dirinya ikut tidur pula di samping Fanie. Keduanya tertidur pulas hingga dua jam lamanya.
Fanie terbangun kala perutnya merasakan lapar yang teramat sangat. Saat dia akan melangkah keluar kamar, Steven melarangnya.
__ADS_1
"Istirahatlah, biar aku yang mengambilkan makanan untukmu." Steven melangkah ke ruang makan guna mengambilkan makanan untuk Fanie.
*******