
Endrik menceritakan semua pada Meymey tentang pertemuannya dengan Fanie dan Steven.
Setelah mendengar cerita dari Endrik, Meymey yang semula sangat kesal berubah menjadi riang.
"Wah, aku ikut seneng dengarnya. Karena akhirnya papi bisa menemukan dimana keberadaan grandma," tiba-tiba Meymey memeluk Endrik sekilas.
" Tapi grandma sama sekali belum bisa memaafkan papi, bahkan menolak kedatangan papi dan mengusir papi," Endrik menghela napas panjang.
"Papi, nggak usah khawatir. Seiring berjalannya waktu, pasti grandma bersedia memaafkan. Asal papi jangan pernah menyerah untuk terus meluluhkan hatinya." Meymey menyemengati Endrik.
"Papi jangan mundur, tapi terus maju. Seringlah papi bermain ke rumah Fanie." Kembali lagi Meymey memberi saran.
"Terima kasih, nak. Papi akan mencobanya lagi sesuai saran kamu." Endrik mencoba tersenyum.
"Sama-sama, pi. Semangat pantang mundur," Meymey mengangkat satu tangan tinggi-tinggi seraya di kepalkan.
Setelah mendapat saran dari Meymey, kini Endrik tiap hari rutin ke rumah Fanie sepulang kerjanya. Hanya untuk mencoba mendapatkan hati grandma.
Namun grandma masih saja dingin pada Endrik bahkan tak pernah mau berkata sepatah katapun pada Endrik.
"Mom, apa lagi yang harus Endrik lakukan supaya bisa mendapat maaf mommy?" Endrik bersimpuh di hadapan grandma.
Akhirnya grandma berkata karena Endrik terus saja memojokkannya dengsn beribu kata.
"Mommy mau memaafkanmu, jika kamu mau mengakui keberadaan Stephanie. Anak kandung yang selalu kamu anak tirikan." Kata grandma.
"Stephanie? keberadaannya saja Endrik sudah nggak tahu, karena sudah cukup lama dia menghilang sejak terakhir berada di rumah mommy, kan?" kata Endrik sekenanya.
"Kamu telah jahat padanya, apa sampai sekarang kamu tidak juga sadar dengan kesalahan dan dosamu pada Phanie? semua permasalahan yang terjadi dalam keluargamu karena karmamu." Kata grandma ketus.
Sejenak Endrik terdiam, seolah sedang berpikir tentang semua yang di ucapkan oleh grandma.
"Apa yang di katakan mommy memang benar adanya, dari dulu keluargaku selalu memperlakukan Phanie dengan buruk." Batin Endrik.
"Tapi sekarang ini, aku sama sekali nggak tahu dimana keberadaan Phanie. Bagaimana bisa aku meminta maaf dan memperbaiki semuanya," batin Endrik kembali.
"Kalau kamu memang benar-benar tobat dan menyadari segala kesalahan dan dosamu terhadap Phanie. Kamu akan segera mommy pertemukan dengannya," kata grandma meyakinkan Endrik.
"Berarti mommy tahu dimana keberadaan Phanie, coba tunjukkan mom." Endrik semakin penasaran saja.
__ADS_1
"Ya, mommy tahu keberadaan Phanie." Jawabnya singkat.
"Kenapa mommy nggak pernah jujur pada Endrik?" tanyanya.
"Ingatlah satu hal saat mommy datang ke rumahmu beserta almarhum grandma dan Fanie. Kami ingin berbicara tentang Phanie tapi kamu marah-marah dan mengusir kami tanpa memberi kesempatan pada kami untuk berbicara terlebih dulu." Grandma merasa kesal.
"Maafkan Endrik, mom. Saat itu Endrik sangat emosi." Endrik tertunduk lesu.
"Dari dulu kamu memang gampang emosi, tapi setidaknya jika ada orang tua sedang bicara, harus di dengarkan dulu. Karma itu berlaku, kamu tidak baik sama orang tuamu, kelak kamu juga akan merasakannya," tiba-tiba grandma berkata seperti itu.
"Ya, mom. Tolong maafkan Endrik, karena saat inipun Endrik telah merasakan karmanya. Anak dan istri masuk penjara, dan entah kapan bisa bebas," Endrik tertunduk kembali.
"Usaha expedisi yang saat ini Endrik jalani juga sedang tidak bagus," kembali lagi Endrik tertunduk.
"Ya, sudah. Sekarang bagaimana caranya supaya kamu dan anakmu memperbaiki diri."
"Kamu juga harusnya memberi contoh yang baik pada anak-anakmu. Supaya mereka bisa menghormati dan menghargai Stephanie sebagai kakak mereka."
"Bukan malah kamu menjerumuskan si kembar supaya membenci kakak kandungnya sendiri "
"Anak yang tak pernah kamu anggap ada, dan selalu kamu sakiti, dialah yang selama ini telah menolongmu."
"Mom, apa maksus ucapan jika selama ini Phanie yang telah menolongku?" tanya Endrik penasaran.
"Dengarkan apa yang mommy katakan padamu, dan ini pesan mommy yang terakhir."
"Mommy akan cerita semua padamu, terserah kamu akan benar-benar berubah atau tidak. Yang jelas mommy sudah berusaha untuk menegur kesalahanmu, dan menasehatimu pula."
"Gara-gara kalian selalu membedakan Phanie hanya karena wajah nggak cantik, badan gendut. Mommy memerintah Phanie merubah takdirnya."
"Wanita yang selalu kamu benci dan selalu kalian sebut wanita tak jelas asal usul adalah Phanie."
Demikian panjang lebar grandma berbicara pada Endrik.
"Jadi maksud, mommy. Fanie adalah Stephanie?" Endrik mengernyitkan alis.
"Ya, Fanie adalah Stephanie yang telah berubah sejak melakukan operasi plastik dan perawatan tubuh lainnya."
"Dan perlu kamu tahu, Fanie sukses berkat kerja kerasnya sendiri. Bukan dari harta mommy maupun daddy."
__ADS_1
Grandma menjelaskan kembali panjang lebar pada Endrik supaya tidak menuduh Fanie yang telah menghabiskan harta grandma.
"Pantas selama ini Fanie begitu baik pada keluargaku, dan sesekali lupa memanggilku papi," Endrik menghela napas panjang.
"Ya, dia memang sengaja menggunakan identitas baru karena mommy yang mengusulkan. Mommy nggak ingin Fanie terus mendapat perlakuan tak baik dari kalian." Kata grandma dengan tegas.
Endrik hanya berhooh ria, sejenak tak berkata.
"Dan pada saat Fanie akan menikah, dia ingin membuka jati dirinya yang asli pada kalian. Fanie menginginkan pernikahannya dengan Steve di restui dan di hadiri oleh kalian. Tapi lagi-lagi Fanie harus menelan pil pahit, saat akan berkata jujur, malah kamu mengusir kami," kata grandma seray menghela napas panjang.
"Ya, Tuhan. Aku begitu jahat pada Fanie, dari dia masih kecil hingga telah dewasa." Endrik menghela napas panjang.
"Baru sadar kamu, apa yang telah kamu lakukan pada anak kandungmu sendiri? anak yang tak pernah kamu anggap malah dia yang selalu membantu kamu di saat kamu susah," kembali lagi grandma berkata.
"Sekarang Fanie mana, Mom?" tanya Endrik penasaran.
Sejenak grandma memanggil Fanie yang sedang berada di dapur memasak bersama kedua asisten rumah tangganya.
Tak berapa lama, Fanie datang dan menjatuhkan pantantnya di sofa ruang tamu.
"Fanie, papi minta maaf." Tiba-tiba Endrik tersungkur di depan Fanie.
"Apa grandma telah bercerita semuanya," batin Fanie.
"Fanie, papi sudah tahu semua dari grandam. Papi minta maaf atas semua disa dan salah papi selama ini padamu," tercurahlah bulir bening dari mata Endrik.
Fanie sejenak tak dapat berkata, hanya bulir bening keluar dari matanya. Dia tak menyangka jika akhirnya papi mengakuinya
Dia sudah menunggu saat yang seperti ini sudah sejak lama.
"Papi, bangunlah. Fanie nggak merasa kalau papi punya salah. Papi adalah ayah yang terhebat," Fanie berkata dengan bibir gemetar.
Sejenak Endrik bangkit dan duduk di samping Fanie.
"Justru Fanie yang minta maaf, karena menikah tanpa restu papi. Padahal waktu itu Fanie kerumah papi ,ingin meminta doa restu," kata Fanie tertunduk lesu.
********.
Mohin dukungan like, vote, favorit..
__ADS_1