Pewaris Sang Penguasa Semesta

Pewaris Sang Penguasa Semesta
bab 100.musnahnya kelompok murid sekte gunung api.


__ADS_3

"kau terlalu cerewet"


ucap Ling Tian yg muncul di belakang pria paruh baya, tetua yg memimpin kelompok sekte gunung api.


sontak pria paruh baya itu langsung menoleh kebelakang, tapi sebelum dapat melihat Ling Tian dengan jelas dia sudah terkena hantaman yg sangat keras di wajahnya.


bukk...


bom....


pria paruh baya itu melesat jauh hingga melewati area desa dan menabrak batu besar yg ada di belakang desa kapas putih hingga hancur.


boommm...


aaarrrggkk...


teriakan keras dapat di dengar oleh semua orang, para murid sekte gunung emas semakin bergegas karna takut.


"si..sial...tetua bahkan tidak dapat menghadapi pemuda itu"


ucap salah satu murid dengan ketakutan.


saudara wi, seret sampah itu, kurasa dia belum mati, mungkin hanya terluka parah saja, nanti kita akan membawanya ke sekte gunung api sebagai hadiah"


ucap Ling Tian dengan santai.


"hahahahaha baik lah tuan muda"


ucap long wi sambil tertawa lalu menghilang.


"sekarang tinggal kalian saja, jadi bagai mana, kalian ingin cepat mati atau menunggu beberapa hari dulu sebelum mati"


ucap Ling Tian menyeringai kejam.


semua orang menelan ludah dengan kasar saat melihat seringai Ling Tian.


para murid sekte gunung api yg tersisa semakin ketakutan, mereka adalah murid elit sekte gunung api dan termasuk kumpulan para jenius kultivasi, tapi tidak bisa berkutik di depan Ling Tian.


"sial aku harus kabur"


batin salah satu murid gunung api yg mulai mencari celah.


"kalian tidak akan bisa melarikan diri dari sini, karna niat kalian buruk tanpa memikirkan nyawa orang yg lebih lemah dari kalian, kalian pantas mati hari ini, jangan kawatir seluruh sekte kalian juga akan hancur tidak lama lagi"


ucap Ling Tian, kemudia menghilang dan mulai membantai para murid sekte gunung api yg tersisa.


aaarrkkkggghh....

__ADS_1


tolong......aaahhhhhh..


wuuuusss...


seeeerrttttt...


slaasss...


teriakan demi teriakan terus terdengar, para murid sekte gunung emas terus berjatuhan dengan hitungan detik.


di tangan Ling Tian dapat di lihat elemen angin yg membentuk pedang panjang, pedang dari elemen angin itu sangat tajam dan kuat, yg menunjukan jika pengendalian dan pemahaman Lin Tian tentang elemen angin sudah cukup tinggi.


beberapa menit berlalu, semua murid gunung api yg tersisa sudah musnah.


"yah walaupun tidak kuat, tapi jumlah mereka cukup untuk pemanasan dan mengasah pemahamanku tentang elemen ruang"


ucap Ling Tian dalam hati.


"tuan muda, bagai mana dengan sampah ini...?"


ucap long wi sambil menunjuk ke arah tetua sekte gunung api yg sudah tak sadarkan diri karna mengalami luka yg sangat parah.


"eh..aku hanya menggunakan fisikku untuk memukulnya, tapi sudah separah ini, untung aku tidak memukulnya dengan kekuatan yg lebih besar, jika tidak pasti dia akan mati"


ucap Ling Tian sambil melihat tetua sekte gunung api.


ucap long wi sambil menghela nafas.


"hehehehehe saudara wi, aku lupa soal.itu, dan karna ranahmu sudah tinggi aku tidak heran kau bisa memperkirakan ranah dan kekuatanku"


ucap Ling Tian sambil tertawa pelan.


wuss...


"tuan muda, aku menangkap orang tua ini, dia mengawasi di lereng gunung, seperti ya dia juga bagian dari sekte gunung api, dan untuk anggota yg kabur hanya beberapa orang dan sudah aku bereskan"


ucap long ba yg baru datang sambil menyeret seorang pria tua dengan jubah hitam.


"apa kau yakin orang tua ini adalah bagian dari sekte gunung api saudara Ba..?"


ucap Ling Tian.


"yakin tuan muda, dia pengguna elemen api dan elemen apinya cukup kuat di bandingkan dengan kelompok para murid tadi, yah walaupun tidak bermanfaat saat melawanku"


ucap long ba yakin tapi sedikit mengeluh karna tidak bisa melakukan pemanasan.


Ling tian yg mendengar itu, bibirnya berkedut, walaupun dia tau jika para naga selalu suka bertarung.

__ADS_1


"nanti jika kita pergi ke sekte gunung api, kau bisa melakukan pemanasan saudara Ba, dan lagi aku yakin di sekte itu pasti ada harta yg berhubungan dengan api, aku memerlukan harta itu untuk membuat apiku tumbuh lebih besar lagi"


ucap Ling Tian sambil mengeluarkan api biru muda dari tangannya.


"em..it..itu tuan muda, sepertinya elemen api tuan muda akan membutuhkan makanan api yg tingkatannya cukup tinggi agar bisa berkembang lagi, apa di alam rendah seperti ini ada api yg memenuhi syarat, aku ragu soal itu"


ucap long wu yg baru datang.


dia tentunya tau tentang jenis api yg di miliki sang penguasa, karna bagai manapun juga penguasa terdahulu adalah ras mereka, walaupun dia tidak pernah melihat api penguasa yg sesungguhnya tapi paling tidak sudah tercatat di kitab sejarah kuno di klan nya.


dan dia yakin jika api milik tuan muda mereka pasti api yg masih muda dan membutuhkan asupan makanan dengan api lain.


"yah paling tidak jika ada api bumi yg cukup tua bisa aku serap untuk camilan apiku kan, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit, aku harus sabar, bagai manapun ini adalah alam rendah"


ucap Ling Tian.


"tuan muda benar"


ucap long wu.


"an...anu tuan muda Ling, bagai mana dengan mayat-mayat itu, apa kita akan menguburnya...?"


ucap fihon.


"aku lupa paman, tolong bantuannya, kumpulkan saja mayat-mayat itu di satu lokasi yg luas paman, aku akan membakarnya saja, akan sangat lama jika harus mengubur mereka dan akan tidak nyaman untuk wilayah sekitar"


ucap Ling Tian.


"baik tuan muda, hei kalian ayo cepat kumpulkan mayat orang-orang jahat itu di depan gerbang desa"


ucap fihon kepada beberapa warga.


akhirnya para warga itu mulai menyeret dan mengumpulkan mayat murid-murid sekte Gunung api di satu lokasi.


setelah terkumpul, Ling Tian langsung membakarnya, dalam hitungan detik para mayat itu langsung terbakar menjadi abu.


"baiklah mari kita introgasi kedua orang ini, paman dan bibi sebaiknya mengurus warga desa yg belum sadar sambil istirahat, biarkan kami yg mengurus dua orang ini"


ucap Ling Tian kepada yuhi dan fihon.


"baik tuan muda, kebetulan anak-anak juga sudah mulai sadar walaupun belum semuanya"


ucap fihon.


"oh ya paman, sekalian tolong urus dulu ke dua adiku"


ucap Ling Tian, miyi dan Meimei memang sudah tidur di salah satu rumah warga setelah selesai makan, bagai manapun mereka masih kecil jadi mudah lelah saat perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2