
Aku melangkah gontai menuju rumah, para pelayan yang kebetulan berpapasan tak lupa menyapaku dengan sopan, dan Kulihat disikitar apa ada Roni hanya ingin bermaksud menyapanya dan memastikan dia baik saja, karna tadi nona sudah membentaknya.
" Tuan Rajj mau minum apa,biar Sumi buatin." Sekarang Sumi yang menghampiriku. Mungkin diantara pelayan wanita ada yang melapor karna aku terlihat bingung diruang tengah.
" Tidak biSum, Rajj ingin kekamar saja, dikulkas kamar tamu stok minumannya masih ada. Tadi aku melihat- lihat karna teringat saja pada Bro Roni, ingin tahu keadaannya." Jelasku.
" Kalau Bos Roni sekarang sedang istirahat dibangunan belakang sehabis minum obat, migrannya tiba- tiba tadi kambuh." Ujar Bi Sumi yang membuatku terlonjak kaget.
Perlahan kuatur nafas yang begitu berat, rasanya hari masih terlalu pagi, tapi beban kepalaku sudah sangat berat." Itu yang kukhawatirkan bi, makanya aku celingukan. " Balasku seraya mengatur langkah.
" Apa sakit kepalanya terlihat parah bi? "
" Ya tuan, tampaknya ini paling parah sejak ia terkena migrain, sampai bibirnya pucat dan tubuhnya keringatan.Apa tuan mau melihatnya? " Tanya wanita paruh baya itu melihat aku mulai kembali berjalan.
Langkahku terhenti sejenak, lalu berbalik menatap perempuan paruh baya itu.
" Oh ya bi,tolong bawakan madu ya"pintaku begitu teringat kalau madu bagus untuk mengobati sakit kepala sebelah.
" Bisa kan?" Ulangku sekali lagi karna kulihat bibi itu seperi sedang berfikir.
" Tentu bisa tuan, sekalian bibi akan buatkan Es kelapa muda buat tuan. Tuan suka kan?" Kali ini ia tersenyum lebar.
" Oh tentu bi! Itu ide yang bagus." Responku senang.
Kulihat bibi itu tersenyum kembali,lalu pamit untuk kedapur.
Aku lanjut melangkah, setelah punggung biSumi menghilang dari pandanganku. Kuusahakan mencari jalan terpendek menuju bangunan belakang, karna tenaga dan emosiku sudah terkuras sejak tadi, perlu juga rasanya hemat BBN ( Bahan Bakar Nutrisi ).
Salamku disambut oleh beberapa pelayan yang sedang menjenguk Roni." Kulihat Roni tersandar dikepala ranjang sembari tersenyum menyambutku.
" Wahh sengsara membawa nikmat kayaknya aku!. " Soraknya yang membuat keningku mengernyit.
" Karna sakit ini,akhirnya aku dijenguk oleh tuan gagah ini! " Sarkasnya.
" Gagah dari Hongkong hoi? Jangan membalikkan Fakta bro! Sakit saja masih sanggup mencercaku kau ini, apalagi saat sehat. He...he..."
" Ini bukan cercaan bro! Murni jujur sesuai pandangan mata dan hati, menurutku Bro adalah pria tampan."
" Pria berkulit gelap sepertiku dibilang tampan?Semoga setelah ini aku betul- betul berevolusi jadi tampan!." Balasku sembari duduk dikursi yang barusan disodorkan oleh Johan.Pria muda dan kalem itu hanya tersenyum saja mendengar penuturan kami.
Kemudian berlalu.
" Serius Bro, aku tak bercanda, Bro seperti kata pepatah: Hitam- hitam gulale tarek, yang kulit hitam paling menarik."
__ADS_1
" Ha...ha...Mana ada begitu, kalau hitam lebih menarik, untuk apa orang sibuk mengincar produk pencerah kulit Bro?" Sanggahku.
" Atau , jangan- jangan kau ingin menyogokku dengan pujian agar mau memijitimu bro?" tanyaku dengan memicing.
" Sepertinya kalau bro bersedia boleh juga, semoga tangan ajaib bro bisa mengobati sakit kepala ini. Menurutku memutihkan kulit itu konyol. Mereka sibuk karna kurang bersyukur, tidak menyadari betapa Tuhan sudah menciptakannya dengan seimbang. Kalau diobah- obah yang hitam jadi putih, nampaknya terlihat hambar bak bulan kesiangan. " Lanjutnya sembari menyodorkan diri untuk dipijiti.
Aku mulai memijit kepalanya setelah posisinya tepat dihadapanku.
" Wahh, nyaman sekali pijitanmu Bro.Justru inilah kelebihan orang berkulit hitam manis,
selain terlihat lebih gagah,sentuhannya hangat dan menenangkan. " Cerocosnya lagi.
" Mhem..Benarkah? Kalau begitu sepertinya aku juga ingin merasakan pijitan itu! "
" Nona???" Sorak serentak kami terkejut.
" Ya aku kesini, apa tak boleh?"
Kami berdua terdiam lalu sama- sama menggeleng.
" Aku kesini untuk minta maaf pada bang Roni,karna tadi sudah membentaknya.
Maafkan cinta ya bang.." Ucapnya terdengar tulus.
Percakapan kami terhenti begitu biSumi masuk dengan membawa mampan berisi dua gelas es kelapa muda dan sebotol madu.
" Maaf agak lama tuan Rajj, tadi nona ikut pesan. " ujar bi Sumi seraya mengatur minuman diatas meja.
" Tidak masalah, makasih bi." Ucapku.
" Sama- sama tuan dan nona." Balas biSumi lalu menunduk dan berlalu.
Aku hendak berdiri, bermaksud mengambilkan madu untuk Roni.
" Biar aku saja." Ujarnya seraya menahan langkahku.
Sementara ia mengurus obat Roni, aku mengambilkan kursi untuknya. Kamipun minum es kelapa didepan Roni yang terlihat senyum-senyum memandangi kami bergantian.
" Apa yang kau fikirkan??" tanya kami kompak.
" Ti..tidak.Hanya senang dikunjungi, serasa punya keluarga lagi."
" Syukurlah bro! Semoga cepat sembuh. " Balasku sembari mengantar gelas kosong kemeja.
__ADS_1
Kulihat ia masih menyeruput, kali ini terlihat anggun sekali gaya minumnya, dan tak ada protes yang keluar dari bibir berwarna Cery matang itu. Apakah ia sedang melakukan testimoni jadi wanita penurut?semoga ia segera menentukan pilihan yang tepat." Batinku.
Detik berikutnya Ia melirikku dan tersenyum.
" Boleh aku minta dipijiti seperti Roni tadi olehmu Mr. Black? Akupun ingin tahu seberapa nyamannya pijitanmu."
" Apa??? Ti..Tidak! "
" Tolonglah..pliiis..."
" Tak baik pijitan pada lelaki yang bukan muhrim nona. Nanti biarkuminta biSum yang pijit nona." Ucapku lembut memberi pengertian walau sepertinya aku tak berhasil, karna kulihat ceri matang itu mengerucut.
" Ha...ha...Bro benar nona, kalau pijitan itu halalnya sama sesama jenis.Bi Sum sepertinya pintar mijit juga, karna waktu Pina sakit kepala dan masuk angin, ia yang bantu mijitin." Timpal Roni membantuku.
" Tapi aku pengennya dipijitin Rajj seperti bang Roni tadi..." Balasnya masih cemberut.Kali ini bibirnya makin mengerucut, ia menatapku dengan sangat sendu, seperti seorang wanita hamil yang lagi ngidam mangga muda, tapi tak dapat dipenuhi oleh suami.
" Kalau nona tetap kukuh mau merasakan pijitannya Rajj ya meski minta dihalalin dulu."
Ujar Bro Roni tak berbandrol, aku sampai memelototinya hingga ia menutup mulutnya dengan tangannya.
" Maaf...aku hanya bercanda nona." Ucap Roni
akhirnya.
Tak ada jawaban yang membuat kami berdua mulai saling tatap dengan wajah cemas.
" Ha...ha...Tenang bang Roni, Cinta tak marah kok, sepertinya cinta ada yang meski diurus, cinta pamit dulu ya.." katanya kemudian beranjak.
Cukup lama aku dan Bro Roni saling diam dengan fikiran masing setelah ditinggal olehnya.
" Sebaiknya untuk kedepannya bibirmu itu perlu dilakban kalau mau bertemu dengan putri tunggal majikanmu itu Bro! " Ujarku seraya menepuk pundaknya. Bukannya minta maaf padaku, Bro Roni malah cengengesan.
" Untung nona sedang dalam mode baik, kalau tidak kau sudah diseprot sampai keakar- akar." Ujarku lagi.
" Sepertinya kau salah Bro, aku sudah lama mengabdi dikeluarga ini, aku tahu nonaku. Sekarang sepertinya ada yang berbeda dengannya sejak balik dari luar negri bersamamu."
" Entahlah bro, kuharap kau tidak salah sangka, apalagi salah ngomong lagi, karna baru dapat bentakan saja kau sudah migrain, bagaimana kalau dipukul dan ditabok seperti aku diawal jumpa. Rasa ngilu pukulan itu sampai hari ini masih terasa, dan itu termasuk dalam daftar kenangan pahit yang sulit dilupakan." Jelasku lirih.
" Yang pahit jangan cepat dibuang bro! Itu sapa tahu itu obat mujarab." Balasnya masih berpepatah.
" Karna Bro terlihat sudah sembuh, sebaiknya aku pamit menyiapkan acara nona nanti malam dengan pangeran dari negri tetangga."
Kudengar ia kembali tertawa, akupun balas dengan senyum sebelum melangkah pergi, tah ia menertawaiku, bagiku masa bodo, dan sejak dulu aku begitu. Yang penting kupastikan langkahku tidak menyimpang dari norma adat, agama dan negara, masih tidak benar menurut orang, aku tak hirau lagi.
__ADS_1