
" Mau kemana Rajj? " terdengar suara yang membuat langkahku terhenti dan spontan tubuhku memutar menuju sumber suara.
Kulihat tuan Jhon menghampiriku begitu aku berbalik menghadapnya." Sa.. Eh sa__
" Sudah... Jangan gugup begini, tak ada yang melarangmu berjalan- jalan kemanapun yang kau mau dirumah ini. " Ujarnya seraya menepuk pundak ku.
" Oh ya, sampe lupa.Aku mencarimu kesini untuk mengajakmu makan malam. " Ucapnya yang hampir buatku takpercaya dengan yang barusan ia kudengar.
" Tuan rela buang waktu dan tenaganya hanya untuk memanggilku makan malam?" Batinku.
" Kenapa tidak pelayan saja tuan? Kan jadi ngak enak.lagian aku masih kekenyangan karna selama bekerja selalu dicekolin terus sama makanan oleh para pelayan." Ujarku jujur.
" Tak ada penolakan Rajj! Makananmu tadi tidak sama dengan makan malam ini, sudah jam segini juga ujarnya seraya melihat jam tangan diamon yang melingkar dipergelangan tangan putihnya.
" Pastilah cacing- cacing diperutmu sudah menghabiskan yang tadi." Ucapnya lagi dengan tersenyum.
" Tuan ini, aku tidak cacingan tuan...jadi tak ada teman berbagi." kukuhku.
" Kalaukau masih mengingat bunda dan nenekmu, tolong jangan menolak temannya ini, karna dulu mereka takpernah mau kami tolak begitu diajak makan dirumah mereka." Ujarnya yang membuatku kembali terdiam.
__ADS_1
Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan perihal sejauhmana kedekatan Almarhum bunda dan bebek dengan keluarga ini, tapi aku tak mau terlihat seperti penjilat.
" Tentu aku takkan bisa melupakan pahlawan hidupku itu tuan." Jawabku sedikit sarkas.
" Kalau begitu ayo makan, dan tolong panggilkan Cinta sekalian, biar kita makan bertiga." ucapnya buatku lagi terkejut.
" Cepatlah Rajj, Om tunggu dimeja makan! " Pangkasnya kemudian bergegas pergi.
Deg.
Kugaruk kepala yang Tiba- tiba gatal.
" Paman...Selama ini dia tak pernah mengusulkan panggilan ini. Apa orang ini sedang menunjukkan padaku kalau ia hanya boleh kupanggil paman, jangan sesekali mimpi memanggil papa. Entahlah..." Aku kembali bermonolog.
yang ditunjukkan GPS ponselku untuk mencari keberadaan nona Cinta.
Baru saja kakiku melangkah memasuki taman samping kiri gedung yang menghadap kekolam renang, kedua kakiku terpaksa berhenti.
" Sampai disitu saja! Jangan menghampiri gadis pencuri! " Pekiknya cukup keras.
__ADS_1
" Jangan begitu nona...maaf atas sikapku tadi jika tak berkenan dihati nona, tapi itu semua tidak ada hubungannya dengan apa yang barusan nona bilang. Aku mengatakan karna memang testimoni seperti yang nona mau lakukan tidak bisa dilakukan karna itu akan menyakiti banyak orang, termasuk diriku. Bujukku memelas seraya melangkah mendekatinya.
Ia menoleh padaku, kulihat beberapa titik bening jatuh dari pelupuk matanya. Ingin rasanya aku kembali mengusapnya dan membujuk gadis itu dalam pelukanku, namun
dengan sekuat hati kutepis keinginan itu karna aku sudah berjanji dalam hati untuk tidak akan lagi menghkianati kepercayaan papanya, setidaknya untuk akhir masa kerjaku ini.
" Jangan membuatku buruk dihadapan tuanku nona, dan tolong jaga hatiku juga, karna tidak lama lagi nona akan menikahi orang lain. Plis...tolong jaga perasaan Mr Black ini, walau sadar kulitku gelap, libidoku tetap ada walau aku hitam- hitam begini, aku tetap pria normal." Ucapku dengan berlutut.
" Kau ini? Berdirilah, Kalau lagi begini kau terlihat seperti sedang melamarku, nanti kau seganpula ketahuan tuanmu. He...he..
"Maafkan aku juga ya, jika aku sudah menyiksamu tanpa sengaja selama ini. Ucapnya lagi dengan mengulurkan tangan memintaku berdiri.
" Ya...Aku kesini karna tuan memintaku mencari nona untuk makan malam. " Balasku setelah berdiri.
" He...he...Ternyata kali ini aku yang Geer, kukira MR Black datang sengaja untuk meminta maaf padaku."
Aku hanya tersenyum kecut." Jangan biarkan tuanku menunggu lama, tolong nona jalan duluan." Pintaku kemudian.
" Oke! Aku mulai suka melihat seorangyang sangat mengabdi pada tuannya." Balasnya dengan menyindir.
__ADS_1
Kembali aku tersenyum hambar.
Kemudian hening,kami melangkah dengan diam hingga tiba diruang makan keluarga ini.