Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 11


__ADS_3

Sesampainya dikamar aku langsung merebahkan diri ditempat tidur. Kutatap jam digital didinding yang baru menunjukkan pukul sebelas kurang." Sepertinya waktuduha masih ada, sebaiknya aku sholat dulu,semoga setelahnya fikiranku bisa tenang." Gumamku sembari duduk kembali dan melangkah menuju kamar mandi.


Setelah menunaikan sholat sunah, aku membuka leptop kembali untuk memeriksa para kandidat.Kupandangi gambar semua kandidat bergantian, lalu terakhir menatap photo nona Cinta.


" Semoga nona tertarik pada satu diantara mereka ya." Ucapku pada gambar itu.


Deg.. deg


Tiba- tiba saja jantungku berdetak takteratur kembali, tubuhku panas dan yang ada dibawah sana menggeliat." Busyet!Kau sama tak berbandrolnya dengan Roni Toni! "Sergahku pada kepala botak. Dengan kesal aku menoelnya. Segera kumatikan leptop setelahnya, lalu berjalan menuju tempat tidurku.


" Tidur! Tidur! " Ujarku sembari melempar tubuh kepembaringan.


Terbaring menatap langit- langit kamar, maksud hati ingin istirahat sejenakmenunggu waktu Zuhur tiba. Tiba- tiba kuteringat pada tuan muda Aliando yang jadwalnya malam hari nanti berkencan dengan nona, kali ini terdengar romantis, karna nona requesnya ketemuan di kafe.


Pria muda ini cukup tampan secara fisik, apalagi wajahnya blasteran Arab Minang." Semoga gagal ketemu sama asli Arab,yang campuran bisa jodoh."Kutatap lekat profil pria itu melalui layar ponselku.


Semangat kembali kubangun, aku duduk lagi, karna memang bukan kebiasaanku mengukur kasur disiang bolong. Kuketikkan pesan untuk nona cinta melalui aplikasi hijau untuk memastikan kesiapannya kencan dengan Aliando.


Cukup lama aku menunggu balasan, hampir saja kusimpan telfon itu kenakas, Tiba- tiba layarku bergetar disusul nada panggil yang buatku tersintak kaget.


Sesungguhnya aku masih cinta..


Sesungguhnya aku masih sayang.


Yang terjadi dalam kisah kita, hanya angkuh hati.


" Perasaan ngak ada aku nyetel nada panggil hati yang terpilih dari Rossa."🤔


" Lama bangat angkat telfonku sih Rajj..." Terpampang wajah cantik nan cemberut dari layar begitu kusambungkan telfon Vidionya.


" Maaf non, aku heran saja tiba- tiba nada panggil telfonku berubah."Jawabku jujur.


" Ummm...Hanya karna itu kau mengabaikan panggilanku? tapi tak apalah...untuk kali ini kumaafkan, karna kita impas." Ucapnya dengan ekspresi wajah yang sudah berubah jadi ceria.


" Impas bagaimana? " balasku heran.


"Lama tak nyuri tanganku jadi gatal Rajj! Ya kucuri saja tadi telfonmu sebentar,pas kau lagi khusu doa. Ternyata aku memang penyelinap ulung bukan?Detektif kawekan andalan milyarder saja kecolongan olehku. He...he..." Kikiknya setelah puas menyampaikan kalimat tak beradapnya.


" Jadi nona yang__


" Ya, itu nada panggil sesuai momen kencanku nanti malam, karna lelaki itu mantan kekasihku diSMP dulu."


Deg.


SMP aja sudah punya pacar, kok sekarang nganggur? Apa ada yang salah ia lakukan dimasa lalunya? "


Berbagai pertanyaan dan rasa aneh menyelinap masuk ke dadaku. " Tidak Rajj, jangan hiraukan perasaan tak berguna ini." Aku kembali memperingati diri sendiri.


"Kok diam,Cemburu ya! " Tuduhnya sembarangan.


" Tidak!!! Aku hanya lagi mikir, kenapa lagu itu disetel jadi nada panggilku, seharusnya itu milik nona bukan? Kan mengambar kanperasaan nona. Untung belum ada yang dengar, kalau ada yang dengarkan malu,Yang ada akunya ntar dikira kecewekan." Sangkalku dengan Alibi dan nada yang menunjukkan kekesalan.

__ADS_1


" Mulai sekarang setiap yang kurasa harus kubagi juga denganmu Rajj! " Balasnya terdengar penuh percaya diri.


" Mana boleh! Setelah nona menikah aku akan berhenti bekerja pada kalian." Sinisku.


Kulihat ia tersenyum sembari membasahi bibirnya.


" Siapa yang memintamu untuk tetap jadi asistenku setelah menikah Rajj, akupun tak mau itu." Ujarnya sembari tersenyum.


Takcukup paham dengan tuturnya dan belum reda juga marahku, namun terpaksa mengangguk saja untuk menundukkan pandangan dari godaan Cery manis dibalik layar.


" Bakda Zuhur, tolong antar aku kesalon ya! aku ingin terlihat sempurna nanti malam." pintanya bernada perintah.


Belum habis kegusaranku, ia sudah menambah dengan yang baru." Kurasa ini tak


ada list tugasku nona." Tolakku halus takingin berduaan lagi dengannya.


" Memang tertulis tak ada, tapi lisanmu tadi telah berjanji pada papa akan menjaga putrinya hari ini! " Ujarnya membungkam mulutku.


" Darimana ia tahu semuanya, padahal tadi ia sedang bersama dengan Aslan.Cik.


Sekali lagi aku kalah debat dengan dia, seperti katanya aku taklebih dari hanya sekedar detektif kawean kalau berhadapan dengan penculik ulung seperti non Cinta.


Sesuai keinginannya,habis Zuhur aku siap untuk mengantarnya kesalon. Sempat terjadi perdebatan juga saat mau berangkat karna ia gigih mau naik motor. Namun kali ini aku menang, dengan alasan yang tepat akhirnya ia sepakat naik mobil dengan syarat harus pake kemobilku yang kutitip sejak setahun yang lalu disini.


" Tenang saja tuan Rajj, ini mobil selalu dirawat dan servis diwaktu yang pas." Ujar mang Udin salah satu sopir cadangan tuan Jhon melihat aku terlihat ragu mengiyakan permintaan nona.


" Kalau begitu, apa mang Udin sedia mengantar kami." Pintaku agar punya teman sama mengaji. He...he...


" Tentu bisa tuan." Jawab antusias sopir bertubuh standar ini sembari menilik nonanya


" Mhem... tak usah ragu, tuan besar sekali seminggu pakai mobil ini. " Jelasnya dengan pandangan masih tertuju pada kemanjaan nona cinta.


" Baiklah...Mari mang bawa."


Kukode nona dengan bermain mata, begitu mang Udin melangkah menuju pintu kemudi.


" Sorry, aku lupa ini dibelahan bumi timur." Bisiknya kemudian beranjak untuk membuka sendiri pintu mobil. Dan duduk disamping pak


sopir, sedang aku memilih bangku tengah.


Mang Udin tertunduk malu, disindir begitu oleh nonanya. Kulihat pria paruh usia itu menarik nafas, lalu menatap kesamping." Siap nona dan tuan?"


Entah karna apa kedua jempol tangan kami kompakan mengacung, hingga senyum canggung sopir itu berubah jadi senyum smirk.


Setelahnya Toyota Alfat berwarna gelap itu bermeluncur dengan kecepatan sedang menuju lokasi salon yang disampaikan nona pada mang Udin sang juru kemudi.


Berikutnya semua saling diam, hanya lagu- lagu Rossa yang menemani perjalanan kami selama 30 menit. Tentu yang menyetelnya nona cinta melalui sambungan bluetooth iPhonenya dengan speaker.


Sebenarnya aku sangat suka dengan hampir semua lagu mbak Rossa, tapi kalau untuk nada panggilan seorang pria,rasanya kurang macho aja.


*

__ADS_1


*


*


Siapa yang tak takjub dengan bidadari keluar dari salon, sedang keluar dari sawah mengiring kerbau saja aku yakin ia akan tetap terlihat cantik, apalagi habis perawatan selama kurang lebih Empat jam. Aku sengaja mengalih pandang setiap tatap kami beradu dalam mobil, karna ia memilih duduk dekatku pula dibelakang.


" Cik, aroma tubuhnya saja sudah membangunkan siToni yang tak tahu aturan ini. Dada ini juga tak mau kompromi, semoga


detaknya tidak terdengar keluar." Doaku dalam hati sembari menutup mata.


" Kok dari tadi kau buang muka saja, apa hasil make upku ngak bagus ya?" Tanyanya seraya menyentuh lenganku.


" Ti..tidur! tidur. " Ucapku sembari memejamkan mata.


" Sorry Rajj, karna aku kau terlihat kecapean, aku hampir lupa kalau kau baru beberapa hari pulih, sebenarnya masih butuh istirahat." Ucapnya kemudian.


Baguslah. Kali ini ia terdengar manis, walau ada keinginan untuk mengintip rautnya, kutekan keinginan itu dengan kuat untuk cari aman pada hati jantung dan Toniku. Aku terus


memejamkan mata hingga tak sadar terbawa mimpi.


" Bangun tuan, kita sudah sampai." Sayup kudengar suara bang sopir.


" Mana nona?" tanyaku begitu tak melihatnya lagi disampingku.


" Ia sudah duluan masuk kedalam."


Kutatap sekeliling memastikan kami dimana karna tadi dalam mimpiku aku melihat nona sedang memadu kasih dengan Tuanmuda Aliando dipinggir sebuah danau yang indah.


" Kita tidak sedang didanau ya?"


" He...he...sepertinya tuan bermimpi, kita sudah ada didepan Batavia Cafe tuan." Jelas Mang Udin.


Deg.


Berarti nona sudah bertemu." Gumamku.


" Ya, nona memintaku menjagai Tuan." Ujar sopir itu lagi.


Kutilik jam tangan yang melingkar dipergelangan kiriku." Kita pastikan dulu pengamanan nona, baru cari tempat shalat." Titahku melihat jam magrib yang sudah mepet. Cuaca berawan hujan membuat sekitar lebih cepat gelap dari biasa.


" Janji jumpa jam delapan, kok magrib sudah jumpa? Apa mang yakin nona aman?" ujarku begitu kesadaranku sudah Full.


" Tenang tuan, Tadi nona sendiri yang menelfon. Ternyata tuanmuda Al setuju pertemuannya dipercepat, karna nona bilang tak mau pulang lewat dari pukul sembilan malam."


" Itulah sebabnya kita langsung kesini, waktu mang mau membangunkan tuan, nona bilang tuan butuh istirahat. Soal keamanan nona sudah mamang minta para bodyguard itu berjaga-jaga." Jalasnya.


" Oke! tunggu kuhungi sebentar, bis itu kita langsung tancap menuju sholat."


Mang Udin balas mengacungkan jempolnya.


Bersambung..

__ADS_1


Mainkan jempolnyabuntuk bantu karya ini ya


teman baca NT / MT, jangan lupa Fote, like, komen dan faforitkanya bagi yang mampir, karna dukungan teman motivasi penulis.


__ADS_2