
Sudah hampir satu jam Farhan membalas chat di ponselnya tiba-tiba Mamanya datang menghampiri yang mengarahkan ponsel pada Farhan.
"Nah ini Farhan yang sok sibuk juga. Kamu tau ga Nit, ia baru bangun tidur". Ujar Mama Farhan yang ternyata sedang panggilan vidio bersama Nita.
"Hai... Farhan. Sibuk amat". Ujar Nita menyapa yang terlihat dari ponsel mamanya diarahkan padanya. Farhan yang menyadari menyapa balik dan menyimpan tanya pada Mamanya.
"Hai.. Nit. Apa kabar?". Pertanyaan basa-basi Farhan.
"Baik Han. Ini aku lagi rerebahan sambil melihat foto-foto wisuda tadi. Kamu sendiri pasti bukak ponsel ya". Ucap Nita dengan gayanya sok kalem di depan Mama Farhan.
Farhan mengambil ponsel Mamanya untuk bicara sama Nita.
"Iya nih, aku capek sudah lebih dari sejam balesin chat dari teman juga dosen-dosen yang mengucapkan selamat. Tadi sepulang acara aku tidur." Ujar Farhan menghargai pembicaraan Nita.
"Sudah dulu ya Nit, lain kali disambung lagi ya. Aku juga lagi sibuk banget nih." Ucap Farhan dan ingin mengakhiri panggilan telpon sepihak. Tut...tut...
"Heiiii Farhan kok kamu matikan." Ujar Mama Farhan terkejutdan kesal melihat apa yang dilakukan Farhan.
"Karena tidak ada mau dibicarakan lagi ma. Lagian Mama ngapain vidio call sama dia. Ntar dia ke geer an bisa bicara sama Mama." Ujar Farhan.
"Kok kamu ngomong gitu, Nita itu anak yang baik. Kenapa sih kamu terlihat tidak menyukai Gadis secantik Nita. Apa jangan-jangan kamu tidak normal Han". Ucap Mamanya mengejek.
"Apaan sih ma. Farhan cuma tidak suka saja, kok Mama kayak ngejodohin Farhan. Udahlah Ma, Farhan mau lanjut istirahat saja. Besok Farhan akan cek email yang dikirim kampus soal tawaran pekerjaan yang bisa nerima Farhan". Ngoceh Farhan sambil menaruk mangkok di westafel dan berlalu menuju kamarnya. Masih terdengar Mamanya mengerutu seolah tidak terima pelakuan Farhan mematikan panggilan dengan Nita, tapi Farhan hanya menanggapi dengan cuek.
Hari berlalu matahari mulai menampakkan sinarnya di pagi hari. Kicauan bunyi burung kecil menari yang berdiri di sela-sela pentilasi jendela. Farhan yang mulai menyingkapkan matanya merasa sedikit lega istirahatnya cukup.
__ADS_1
"Wah sudah pagi ternyata". Ucap Farhan dikesendirian dengan tampang bangun tidur. Farhan menyingkapkan selimut dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi dan memakai pakaian santai Farhan turun dan melihat Papanya mulai sarapan.
"Eee sudah bangun anak bujang Mama, sini gabung sarapan sama Papamu nak sebelum Papamu berangkat kerja." Ujar Mama Farhan yang sedikit antusias momen berkumpul keluarganya.
"Andin belum turun Ma?." Ujar Farhan yang mengambil posisi duduk dan menyadari adiknya belum muncul.
"Andin memakai seragam memang lama. Sebentar lagi bakalan terlihat batang hidungnya." Ujar Mama lagi.
"Bagaimana istirahatmu Han?." Tanya Papa disela dentingan piring.
"Sudah terasa lebih baik Pa. Farhan rencana mau memeriksa email yang dikirim beberapa perusahaan tentang tawaran kerja Pa." Ujar Farhan pembicaraan serius dengan Papanya.
"Iya itu bagus. Pokoknya kamu kerja di bidang apa dan manapun Papa selalu dukung. Tapi kamu yakin ga melanjutkan S2 dulu?." Tambah Papa.
"Hallo semuanya. Alhamdulillah ya kita hari ini kumpul lagi sarapanya". Ujar Andin yang baru datang sedikit kecentilan.
"Lama banget kamu pakai seragam, pantesan lama kamu pakai pewarna pipi dan bibir segala. Mau sekolah atau fashion show Ndin?." Ujar Farhan dan mengkoreksi penampilan adiknya yang masih berseragam putih abu-abu itu.
"Ga kok, ini cuma lips glos dan aku ga pakai bedak kok kak. Ini karena muka aku sudah glowing pakai skincare mahal makanya terlihat bercahaya". Ujar Andin ga mau kalah.
"Sudah jangan berdebat lagi. Ayo sarapan Ndin nanti kamu terlambat lho ke sekolahnya." Ujar Mama Andin yang sibuk mengambilkan sarapan buat anak-anaknya.
"Terlihat Eksis sekali kamu dek. Ingat focus belajar dulu ya. Abang ga mau kamu pacaran-pacaran dulu." Ujar Farhan mengingatkan adiknya.
__ADS_1
"Andin ga ada pacaran kak. Lagian teman-teman Andin baik semua kok, kami saling menjaga satu sama lain. Layaknya anak yang berseragam putih abu-abu." Ujar Andin membela dirinya.
"Iya, yang penting tidak boleh pacaran dulu." Ulang Farhan menekankan.
"Iya,,, iya.. lagian siapa yang pacaran." Tolak Andin.
"Sudah-sudah, yang penting jaga diri saja masing-masing anak Papa. Terutama kamu Ndin soalnya seorang wanita anak gadis Papa dan Mama." Lerai Papa pada pertengkaran kecil Farhan dan Andin.
"Iya pa, Andin dengarin kok pesan Papa dan kak Farhan.
Seusai sarapan pagi semua disibukkan oleh kegiatan masing-masing.
Papa pergi bekerja sebagai Manager di perusahaan swasta, Mama mempunyai butik yang lumayan dikenal dan lumayan omset setiap bulanya. Sedangkan adik bungsunya Andin sekolah masih menduduki bangku SMA.
"Ahhh... Hanya tinggal sendiri dech dirumah cuma ditemani bi Inah". Ujar farhan yang duduk didepan televisi sambil melihat bi Inah menyapu ruangan dapur."Bosen juga nonton TV, mendingan aku check emailnya satu-satu. Aku akan memilik pekerjaan yang cocok untukku. Ujarnya dalam kesendirian dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.
Setelah lama dan teliti baca satu persatu email tawaran kerja, Farhan sudah menjatuhkan ke tiga pilihan untuk ia pilih.
Ada tawaran dari perusahaan pabrik sawit sebagai manajer keuangan. Ada dua dari jakarta di kantor pusat pertambangan batu bara yang terkenal dengan posisi yang sama. Juga di perusahaan otomotif di posisi manajer keuangan juga. Ya Farhan sangat bersyukur telah lulus terbaik dan banyak perusahaan meliriknya. Ia ragu pada tiga pilihanya itu, dan ingin mencoba jauh dari orang tua lagi Farhan merasa itu tidak mungkin.
"Kalau ada yang dekat ngapai yang jauh". Ujar Farhan memperhatikan layar laptopnya.
Akhirnya Farhan memilih di perusahaan di kota saja yang bisa pulang jika kangen keluarga. Farhan mengirim email balasan beserta berkasnya supaya bisa di wawancarai soal pekerjaan di dua perusahaan tersebut. Walau orang tuanya terlihat mampu menghidupi keluarganya Farhan memutuskan untuk bekerja agar ia bisa mandiri. Juga ia ingin membalas sedikit banyak jasa orang tuanya yang telah memberikan kehidupan layak yang mereka jalani.
Karena sudah menyibukkan Diri tak terasa hari sudah menunjukkan jam 1 siang. Farhan yang bosen dirumah ingin pergi keluar di alun alun kota daerahnya. Tak sengaja ia melihat tiga orang wanita bercadar sedang mengobrol. Farhan lansung mengingat Anisa wanita bercadar yang membuat jantungnya berdebar.
__ADS_1
Lama kelamaan di perhatikan Farhan tiga orang wanita bercadar itu. Ternyata ia merasa salah satu dari mereka adalah Anisa. Dengan sedikit ragu Farhan mendekati dan ternyata itu benar Anisa.
Farhan memperhatikan Anisa yang memakai baju syar'i pink dan hijab warna putih juga cadar yang senada dengan hijabnya. Farhan hanya melihat candaan dan tawa wanita bercadar yang disangkanya Anisa.