
Usai acara pertunangan, aku bermaksud kembali ke rumahku bersama pakde dan bibi yang mulai dari sekarang akan kujadikan orangtua angkatku.Didalam mobil, lama kami saling diam dalam fikiran masing- masing. Hanya mang Udin yang takhentinya bersiul dari tadi.Ya,saat aku memutuskan pulang dengan membawa mobil,tuan John malah memutuskan untuk menjadikan mang Udin sebagai supir pribadi resmi mobil Alfatku.Karna tahu tuan itu tipe orang yang tidak menerima penolakan, maka akupun menerima saja. Lagian sudah cocok juga dengan mamang, sopir ganti tuan Jhon itu terlihat senang karna merasa sudah punya pekerjaan tetap. Sambil bersiul kecil ia memutar tongkat bulat itu membelah jalanan.
"Biasanya orangtua yang mengangkat anak,tapi kali ini anak yang mengangkat orang tua, pakde sungguh sepres dengan pernyataanmu tadi itu lho nak Rajj..." Ucap pakde spontan menghentikan siul mang Udin.
" Bukan sepres mas, tapi Surpraise." Sanggah sang istri sembari menepuk pundak suaminya.
" Ah, tak urus! yang penting sekarang kita diakui sebagai orangtua bos sendiri dihadapan calon papa mertuanya yang beken." Balas cengengesan pakde.
" Kan salah lagi to mas! Keren,Bukan beken! yang beken itu aktor atau selegram mas." Bibi Zahra sekarang protes lagi dengan menepuk paha suami yang ada disisinya.
" Suka- suka akulah mau bilang apa! Mau topi bekeni ,mansuri atau Mansur S sekalipun." Cemberut pakde.
" Sudah salah terus ngak mau pula dikoreksi,bilang Mashur aja jadi Mansur S, kemana to mas? Kata sifat kok jadi Subjek." Bibi kukuh memprotes pakde.
" Sudah kayak komentator diacara Kontes dangdut saja kau ini, cerewet dan ribet! Padahal mas sengaja buat konten lucu, jadi ilang lucunya karna proteinmu." Balas Pakde seraya mencubit pipi bibi Zahra yang sudah mulai bergelambir.
" Duuuh pedih mas!" Keluh bibi Zahra.
" Lebih pedih kritikanmu." Balas centil Pakde mengganti cubitan tadi dengan ciuman hingga bibi Zahra terdiam malu.
" He...he...Aku terkekeh melihat keduanya.
Itu membuat bibi makin tertunduk malu." Awas mas sudah buat aku malu didepan nak Rajj, sebulan tak kasih." Bisik BiZahra yang masih dapat kudengar.
" What???Pekik Pakde dengan kedua mata membola.
" Iyalah! Naik jadi tiga bulan!
" Wow... Jangan dong manis..." Rayu pakde dengan mata tuanya yang menyipit, wajah dibuat sememelas mungkin."
Bibi Zahra memutar bola matanya malas.Detik berikutnya ia menggeleng pasti sembari mencibir.
"Jangan dong manisku.. manjaku.. kemana lagi meski mas tancapkan tongkat sakti mandra guna ini,ntar baged rumah tangga kita naik pula kalau mas pesan dek Shinzui sekardus. Mana BBM naik pula." Regek jenaka pakde seraya mengapit kepala bibi Zahra dengan kitiknya hingga wanitanya itu Sampai tersedak.
" Huk...huk..huk...Huek...Huek...Bau to mas.. " Keluh bibi begitu dilepas oleh sang suami.
" Makanya jadi istri itu yang Sholeha dan nurut." Bisik pakde kali ini sembari meremas tangan bibi.
" Ogah ah...Jangan pegang- pegang! " tolak bibi Zahra serius.
Ger..Aku dan mang Udin yang sudah tak tahan, akhirnya meledakkan tawa kami.
__ADS_1
" Tu...kan..." Rengek BI Zahra menunduk.
" Tak apa bi...Jadi senang Rajj melihat kalian menganggap dunia milik berdua hanya karna awalnya membahas soal Rajj yang mau dijadiin anak." Ucapku seraya menghadap kebelakang untuk menatap keduanya.
" Serius kan nak Rajj akan anggap Kami pengganti orangtua sendiri? " tanya Bi Zahra memberanikan diri menegakkan kepala untuk menatapku.
" Tentu serius bi..Asal__ " Aku menggantung ucapan sembari tersenyum dikulum.
" Tapi apa nak..." Rengek bi Zahra terlihat tak sabaran.
"Izinkan tongkat sakti pakde tetap beroperasi tanpa Tante Shinzui!"
Hak...hak..." Tawa mang Udin kembali meledak,Sedang kedua pasangan senja itu tertunduk malu.
" Aku serius dong bi, masak pabrik putranya baru mau mulai beroperasi, pabrik ayahnya ditutup pula.Itu ngak adil bi." Ucapku yang akhirnya membuat semua tertawa.
" Bisa aja kau bela bapakmu ya Rajj! " Bibi sekarang melotot berpura- pura gusar.
" Dimana-mana anak lelaki itu selalu belain bapaknya to Bu." Sekarang mang Udin menimpali.
" Wes... Wes...Kalau di-voting juga,aku jelas kalah, lebih baik nurut aja dech." Ucap BiZahra sembari bersandar dipundak pakde.
" Itu baru istri Sholehah plus ibu idaman." Ujarku mengacungkan jempolku kebelakang.
Mang Udin pun menghidupkan lagu cinta untuk mengiringi perjalanan kami sampai dirumah.Belum habis satu lagu kamipun sudah tiba dipelataran rumahku. Bang Rawi yang jaga pos langsung berlari untuk membukakan gerbang." Selamat datang Bos dan senior." Ujarnya menyambut kami dengan senyuman manis dan kumis breok hidupnya.
" Mulai sekarang jangan panggil senior lagi pada pakde Bang, panggil Bapak sama Ibuk ya, karna Pakde akan jadi kepala rumah ini." Ujarku buat lelaki hampir sebaya denganku itu mengerut bingung.
" Maksudnya pakde yang akan mengatur rumah ini bersama bibi Zahra setelah pernikahanku, mereka sekarang waliku, otomatis mereka jadi Bosnya Bang Rawi juga kayak aku." Jelasku tak mau pria berkumis itu lama- lama melongo.
" Oke dek Rajj, berarti seniorku jadi tuan besar ya tuan muda?" tanya Goda satpam itu begitu sudah faham.
" Ngak usah lebai Gitu juga kale!" Seruku serentak dengan pakde.
" Tuhkan? Anak sama ayah klop lagi kan? " Jadi kangen pulang." Ucap mang Udin.
" Mamang boleh pulang selama seminggu setelah akad nikahku berlangsung." Ucapku membuat mang Udin berbinar.
" Serius Bisa?" tanyanya masih belum yakin.
" Iya mang...Masa aku berbulan madu, mamang kubiarkan dimabuk rindu." Balasku membuat yang lain tergelak, tapi tidak dengan mamang.
__ADS_1
" Maaf...Aku tak tahu cerita keluarga mamang dikamoung." Ucapku sungkan melihat wajah mamang berubah sendu.
" Sekarang mamang tidur disini aja ya, lusa baru tidur dikampung." Lainkali cerita padaku. Putusku kemudian yang diangguki mamang.
Bibi Zainab dan Miatun tiba menyambut kami. Kuminta Bi Mia mengantar Mang Udin kekamar tamu. Mang Udin nampak ceria kembali.
Bi Zainap yang merasa tidak ada pekerjaan untuknya segera menarik koper dari tanganku." Calon mempelai pria ngak boleh capek- capek! Ntar tenaganya ngak Oke dimalam MP! " Ujarnya begitu mulutku mau membuka ingin menolak.
Aku tersenyum malu seraya melangkah menuju kamar bibi Cana, sebelum kekamar sendiri.
Setelah beberapa menit memeriksa kamar Almarhumah, akupun menuju kamarku. Kulihat baju- bajuku sudah tersusun rapi di wall in closed.
" Cepat juga bibi mengatur semua."
Karna lelah akupun segera mengunci pintu dan kemudian melempar diri ketempat tidur.
Baru saja aku ingin memejamkan mata, aku teringat belum sholat Isya. Akupun beranjak kekamar mandi untuk wudhu.
Setelah menunaikan empat rakaatku, tak lupa kuganti pakaian sholat dengan piyama sebelum kembali keperaduan.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas. " Saatnya tidur, agar besok bisa konsentrasi penuh menikahi cinta." Sarkasku. Baru saja Ucapanku berhenti, dering telfonku menyambut.
Aku bergegas mengambil benda pipih itu yang tergeletak dipinggir tempat tidur, mengira itu telfondari Cinta. Melihat itu bukan dari nomor calon istri kedua alisku mengernyit." Siapa sih nelfon sudah jam segini?" Sungutku.
Kuabaikan telfon itu yang terus berdering. Lalu aku segera melangkah menuju meja, untuk menghidupkan leptopku.
Aku memeriksa rekanan CCTV, dari GPS yang kusambungkan dengan telfon dan Leptopku.
Ternyata dugaanku benar." Wah...bener wanita misterius ini yang nelfon, Mau apa dia ya?"
" Hallo siapa ini?"Tanyaku pura- pura tak tahu siapa disebrang.
" Pilih menikahkan aku dengan calon ayah mertuamu atau pilih membatalkan pernikahanmu dengan cinta tapi kau harus menikahi putriku." Tawar langsung wanita dari sebrang.
" Siapa kau dan siapa putrimu?" Jawab Aku jelas! Titahku masih berpura tak tahu dia.
Ha...ha...Aku seseorang yang menginginkan Jhon!kalau kau benar mencintai Cinta kau harus membantuku supaya bisa menikahi papanya." Jawab dari sebrang.
" Oke! Aku akan fikirkan! Tapi jangan ganggu pernikahanku besok.Aku tahu kau pasti lebih senang aku memilih Cintaku ketimbang putri hasil hubungan gelapmu itu kan nyonya?"
" Rajj, Kau tahu dari mana?" tanya Suara penuh emosi dari sebrang telfon.
__ADS_1
" Kau tak perlu tahu nyonya! Yang jelas,jangan berani coba- coba mengganggu gugat pernikahanku.Titik! " Ancamku seraya memutus panggilannya.
Dering telfon terus menggema, melihat panggilan masih dari nomor yang sama, akhirnya aku putuskan menonaktifkan telfon.