
Nampaknya semua yang diinginkan Cinta menjadi kenyataan.Pernikahan Jini dan Bro Roni bersamaan dengan papa dan bibi Rima,sekalian acara tujuh bulanan kandungannya akan diadakan dengan pesta besar- besaran dimansen ini.
Acara itu sudah dirancang lama ternyata oleh Istriku dan Jini.Ayah mertua kehilangan taringnya saat mengetahui kalau yang menyebabkan perut istriku membuncit bukanlah lemak sebagaimana yang wanita itu akui selama ini.Siapa yang bisa menyembunyikan lagi kehamilan yang sudah berusia 6 Bulan,bayi itu sudah bergerak didalam perut ibunya.Setelah aku mengetahui keberadaan putraku,tidak lama kakeknya diberitahu juga olehnya.Isterikupun membawa langsung dokter kandungannya selama ini ia rahasiakan dengan Jini kerumah dan pemeriksaan dilakukan untuk yang ketujuh kalinya, tapi barukali ini dilakukan dibawah pengetahuan kami langsung.
Papa Jhon senang bercampur bingung dengan apa yang terjadi.Betapa raut gembira terpancar diwajah yang masih tampan diusia menjelang senja itu.Senyum lebar menghias bibir itu, tapi tatap menelisik terhadap sang putri juga tak dapat dipungkiri.Seperginya dokter kandungan andalan istriku dari rumah, ayah mertua segera mengumpulkan kami diruangannya untuk menjelaskan semua ini.
"Kenapa tidak memberi kesempatan sejak dari dini untuk papa melayani calon pewaris keluarga ini?"Ucap tanya papa Jhon menatap putrinya dengan sorot yang sulit difahami.
"Aku sengaja menyembunyikan putraku karna aku tak suka pernikahan intimidasi yang sudah papa buat."Ungkap istriku pada sang Ayah setelah cukup lama terdiam.
" Papa minta maaf sayang, thank atas kesabaranmu mengandung penerus keluarga Smitt.Saat ini papa tidak khawatir lagi akan putus generasi.Walau cucu dari anak perempuan akan tetap papa namai dengan nama besar keluarga Kita.Apa kalian tidak keberatan kan Rajj?"Tanya ayah mertua dengan sorot memohon.
Aku mengangguk saja.Sementara istriku sudah berjalan mengintari papanya dengan berkacak pinggang."Tentu kami akan setuju, dengan tiga syarat." Ucapnya menyampaikan penawaran.
"Apapun syaratnya akan papa penuhi,hari ini papa sangat bahagia karna kekhawatiran papa lenyap sudah, dan cita- cita papa nyaris terwujud, semoga Allah memberi kesehatan padamu dan calon cucu papa nak."Ucap papa Jhon menghampiri Cinta.
"Katakan saja apa syaratnya sayang, papa akan penuhi semua."Janji papa Jhon dengan raut sungguh- sungguh, bahkan sekarang ia sudah mengulurkan tangannya untuk menyalami putrinya.
" Baik, syarat pertama minta maaflah pada suamiku karna selama ini papa secara sengaja atau tidak sudah membuatnya tertekan dan melukai hargadirinya sebagai lelaki."
"Tak perlu begitu sayang...Aku tidak membutuhkan papa minta maaf segala, karna
aku memaklumi semua yang ia lakukan karna kekhawatirannya."Tampikku yang langsung distop istriku untuk tidak melanjutkan Ucapanku lagi.Nampaknya Cinta sedang dalam mode penuh kuasa, kelihatan sekali dari sorotnya kalau ia tidak suka kusela.
" Baiklah papa mohon maaf padamu Rajj, untuk kedepannya tidak akan menuntutmu apapun lagi, karna bagi papa yang ini sudah cukup dan semoga Allah melancarkan kelahiran pewaris keluarga kita dan ibu dan bayinya diberi kesehatan dan umur yang panjang."
__ADS_1
"Umur panjang yang diberkahi." Tambahku.
" Aamiiin..." Seru kami semua, termasuk Jini dan ibunya, serta bro Roni yang dari tadi duduk diam sebagai saksi.
Kemudian papa Jhon menghampiriku, saat ia mengulurkan tangannya dan bermaksud menunduk, aku segera meraih ayah mertuaku itu dan memeluknya erat.
"Papa orangtuaku satu- satunya setelah mereka semua tiada, bagaimana bisa aku tersinggung atau menaruh marah sedikit saja dihatiku pada papa, istriku berlebihan pa, tolong maafkan dia."Ucapku tulus.
Cukup lama kami berpelukan dan saling terharu.
"Kalau syarat yang kedua sepertinya papa tahu!" Seru ayah mertua usai aku mengurai pelukan kami.
"Tunggu sebentar." Ujarnya sebelum melangkah menuju lemari besi.
Ayah mengeluarkan Mab berisi surat kontrak nikah kami, lalu menyerahkannya pada Bro Roni.
dari tangan papa dengan tersenyum,lalu melangkah cepat menuju ruangan musim hujan yang langsung diikuti oleh Johan bawahannya.
" Apa kalian tidak ingin melihat kertas itu dilenyapkan?" tanya papa menatap padaku dan Cinta bergantian.
Cinta melangkah mendekatiku, aku segera menyebutnya,tak mau membiarkannya kesulitan sendiri,bagiku kesusahannya akibat perbuatan berdua, walau tak bisa menggantikan posisinya membawa putra kami yang masih didalam rahim,setidaknya sejak tahu ia mengandung, aku tak membiarkannya melangkah sendiri tanpa kubantu, kalau aku sedang bekerja sengaja kuminta Jini membantunya ekstra, walau ia protes aku tak peduli, kalaupun istriku tidak manja dengan kehamilan pertama ini,aku berusaha membuat dia dan calon calon anak kami merasa diprioritaskan.
Sekarang istriku sudah dipangkuanku.
" Sekarang aku merasakan betapa indahnya hidup dengan pasangan yang dicintai.Aku tahu papa sangat mencintai Almarhumah mamaku, dan tiada yang akan bisa menggantikannya dihati papa.Tapi aku mohon tambahlah ruang sedikit dihati papa untuk wanita lain,karna bayiku ngidam punya Oma dan opa yang lengkap."Ujar Cinta menatap papanya dan Bibi Rima.
__ADS_1
Papa Jhon mengangguk dan tersenyum pada putrinya.Melihat itu semua Cinta bangkit dari pangkuanku.Aku mengikuti langkah istriku, membantunya menarik papa mempersatukan tangan papa Jhon dengan bibi Rima.
Istriku mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya."Lamar calon Oma didepan kami semua opa.Arjuna ingin lahir dihadapan keluarga besar yang lengkap."Ucap memohon Cinta dengan suara mewakili putranya.
Papa Jhon tertunduk malu, setelah terdiam beberapa saat orangtua itu kemudian mengangkat kepalanya, mengambil kotak cincin ditangan putrinya." Baiklah opa akan lakukan ini demimu Cucuku sayang." Sahut papa Jhon.
Bukannya langsung melamar biRima, ia malah minta izin padaku untuk mencium cucunya yang masih ada didalam perut mommynya.
" Rajj...Boleh papa mendengarkan detak jantung bayimu?"Pintanya memelas.
" Tentu pa!Ia adalah cucu papa, pewaris keluarga ini kita beri dia nama kelak Arjuna Copry Smitt."Ujarku kemudian.
Papa segera menempelkan telinganya diperut
putrinya lalu bicara."Kau nakal sekali Juna! Berani sekali menjodohkan opa,tapi tidak masalah opa akan bersenang- senang dengan idemu ini."Ujar papa Jhon membuat bibi Rima memucat.
Papa Jhon berdiri kembali dan melangkah menuju perempuan yang sebenarnya sedikit berhasil membuatnya memperhatikan wanita yang berusia 5 tahun dibawahnya itu.
"Aku akan menikahimu karna permintaan putri dan cucuku yang nakal ini, tapi jangan dikira aku akan membiarkanmu menganggur dan mendapat status jadi istri dan Oma saja." Ucap papa Jhon.
Kami semua mengernyit.
"Menikahlah denganku Rima, dan bersiaplah untuk menghadapi semua kenakalan orangtua sepertiku.Kalau kau tidak sanggup cepatlah kabur kekampungmu sekarang juga."
Bibi Rima terdiam, kami juga tak dapat bicara, cara papa Jhon melamar sungguh aneh, mana ada lamaran begitu.
__ADS_1
Satu menit kemudian tanpa bicara bibi Rima mengulurkan tangannya. Papa segera meraih tangan itu dan memasangkan cincin pemberian Cinta dijemari wanita berumur itu, lalu membawa wanita itu kedalam pelukannya.
Kami bertepuk tangan, semua tersenyum dan sejak hari itu dirumah mulai diadakan persiapan Acara Tri in One.